Dharma Santhi Nyepi 1948 di Kuta: Momentum Memperkuat Kesadaran Diri dan Kebersamaan

0
118
Dharma Santhi Nyepi
Suasana dharma santhi Nyepi di Kecamatan Kuta. (ist)

balibercerita.com –
Dharma Santhi Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di wantilan Pura Puseh Desa Adat Kuta, Kecamatan Kuta, Sabtu (11/4) pagi, menjadi ruang refleksi bersama bagi umat Hindu di Kabupaten Badung untuk memperkuat kesadaran diri serta nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial.

Sebagai rangkaian penutup Nyepi, kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya mulat sarira atau introspeksi diri sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Melalui dharma santhi ini, semangat introspeksi, kedamaian, dan kebersamaan diharapkan semakin menguat, menjadi landasan penting dalam menjaga harmoni sosial sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Badung.

Baca Juga:   Bupati Giri Prasta Buka Lokashaba I Maha Gotra Tirta Harum Kabupaten Badung

Ketua Panitia Pelaksana yang juga Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana menyampaikan dharma santhi menjadi momentum penting untuk mengingat kembali esensi brata panyepian, tidak hanya dalam bentuk ritual, tetapi juga dalam penerapan sikap hidup sehari-hari. “Dharma santhi ini kita ditegaskan untuk mulat sarira, merenung dan introspeksi diri, agar makna Nyepi benar-benar bisa diwujudkan dalam kehidupan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Harian PHDI Badung, I Gede Rudia Adiputra menilai dharma santhi sebagai penegasan nilai santhi atau kedamaian yang harus hadir tidak hanya dalam diri individu, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat hingga berbangsa. “Jika kita semuanya bisa dalam suasana santhi maka swadharma kita, tugas, kewajiban, tanggung jawab setiap umat, setiap warga bangsa akan dapat dilaksanakan dengan maksimal,” jelasnya.

Baca Juga:   Atma Wedana/Nyekah Massal Perdana, Desa Adat Kelan Gratiskan Biaya

Ia juga mengajak umat Hindu menjadikan tahun baru Saka sebagai awal untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas peran di berbagai aspek kehidupan. Meski kerukunan antarumat beragama di Badung dinilai sudah baik, ia menekankan pentingnya terus memperkuat nilai persaudaraan. “Rasa persaudaraan yang kami lihat di permukaan cukup bagus. Artinya masih ada celah untuk meningkatkan terus sehingga menjadi semakin mantap,” imbuhnya.

Baca Juga:   Desa Adat Legian Akan Gelar Ritual Ngerehang, Lampu Jalan Direncanakan Dipadamkan

Asisten III Administrasi Umum Setda Badung, I Wayan Wijana mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyelaraskan pemahaman dan langkah dalam mendukung pembangunan daerah. “Mari kita samakan frekuensi pemahaman dan selaraskan gerak langkah agar program pembangunan dapat terlaksana tepat sasaran, tepat waktu, dan berdaya guna demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa tantangan pembangunan seperti persoalan sampah, kemacetan, pendidikan, hingga pariwisata memerlukan kolaborasi seluruh pihak. “Pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Saling memberi dengan cinta kasih yang bertanggung jawab harus diwujudkan melalui komunikasi, koordinasi, dan kerja sama yang berkelanjutan,” katanya. (BC5)