Cerita Rakyat dan Keunikan Pura Dalem Tengkulung 

Tengkulung
Bagian utama mandala Pura Dalem Tengkulung. (BC13)

Mangupura, balibercerita.com – 

Pura Dalem Tengkulung berada di Desa Adat Tengkulung, Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan. Berlokasi di tengah kawasan pariwisata, aura kesucian pura ini sangat kental terasa karena masyarakat adat setempat selalu menjaga kesakralan areal pura dengan baik. 

Terkait sejarah, belum diketahui pasti kapan dan oleh siapa Pura Dalem Tengkulung didirikan. Sejauh ini belum ditemukan catatan tertulis mengenai cikal bakal pura. Meski demikian, masyarakat setempat meyakini bahwa pura ini erat kaitannya dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra. Di tempat inilah konon Dang Hyang Nirartha pernah singgah sebelum melanjutkan perjalanan hingga mencapai moksa di Pura Luhur Uluwatu.   

Baca Juga:   Ketua TP PKK Badung Buka Lomba Klakat dan Canang Sari di Kerobokan

Bendesa Adat Tengkulung Gede Eka Surawan menjelaskan, dari cerita rakyat yang beredar turun temurun, diceritakan ada seorang keluarga puri atau kerajaan yang kala itu sedang membersihkan areal hutan yang didominasi pohon camplung. Ia lantas menaruh topi nelayan atau disebut capil yang dikenakannya sedari tadi. Namun, angin yang cukup kencang serta merta menerbangkan capil itu.  

Tidak semua bagian capil ikut terbang. Pinggiran topi atau yang disebut sengkuluk tetap berada di tempat semula. Ketika sengkuluk itu hendak diambil, di bawahnya ternyata terdapat seekor ular yang ajaibnya bisa mengeluarkan api. Ia pun lantas menitahkan agar di tempat tersebut didirikan pelinggih atau tempat suci. Dari kata sengkuluk inilah lama kelamaan berubah menjadi sengkulung hingga tengkulung yang saat ini menjadi nama daerah tersebut. 

Baca Juga:   Mempertanyakan Ajakan Kembali ke Weda

“Demikian kalau dari cerita rakyat dari para tetua kami. Sedangkan kalau secara tertulis yang berupa purana, kami belum temukan. Ini tentu perlu dikaji oleh tim ahli sejarah. Tetapi tentu kami sebagai generasi penerus harus menghormati cerita dari tetua kami,” kata Eka Surawan. 

Baca Juga:   Rangkaian Karya di Pura Besakih, Melasti Digelar di Tegal Suci

Sementara itu, Pemangku Pura Dalem Tengkulung Anak Agung Suprada menjelaskan, piodalan di pura ini digelar tiap Tumpek Wariga. Saat piodalan inilah, prasanak Ida Batara di Pura Dalem Tengkulung yang berasal dari berbagai wilayah di Bali akan hadir untuk menghaturkan ayah-ayahan. 

Menariknya, ketika memasuki tengah malam, pralingga Ida Batara yang lunga ke Pura Dalem Tengkulung akan bersembahyang layaknya umat yang tangkil alias duduk di natar atau lantai pura. Usai bersembahyang, Ida Batara dipersilakan untuk kembali ke pura masing-masing. (BC13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini