Mangupura, balibercerita.com –
Siat Geni atau perang api merupakan ritual yang telah menjadi tradisi di Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta. Tanpa Siat Geni, piodalan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban belum bisa dikatakan lengkap. Siat Geni biasanya dilaksanakan di pelataran Pura Dalem Kahyangan, Desa Adat Tuban, yang bertepatan dengan Purnamaning Kapat. Diperkirakan, Siat Geni sudah mulai dilaksanakan sekitar tahun 1.400-an dan terus dilestarikan oleh para Yowana di Desa Adat Tuban.
Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra menerangkan, Siat Geni selalu dilaksanakan secara periodik satu tahun sekali sebagai simbol untuk menghancurkan atau melebur segala hal yang bersifat negatif di wilayah Desa Adat Tuban. Diharapkan setelah pelaksanaannya, krama Desa Adat Tuban akan diberikan kesehatan dan kesejahteraan. “Pelaksanaan tradisi ini kami yakini dapat menolak bala dan mendatangkan keselamatan bagi warga Tuban,” ungkapnya.
Dijelaskannya, Siat Geni merupakan sebuah prosesi penyambutan terhadap pengawal atau rencangan dewa-dewi yang berstana di Pura Dalem Kahyangan, yaitu Kala Gni Rudra. Rencangan tersebut dipercaya sangat menyukai api, sehingga Siat Geni secara tidak langsung wajib dilaksanakan sebagai sarana yang disuguhkan kepada Kala Geni Ludra. Tujuannya untuk menetralisir aura negatif, dan membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat Tuban.
Seperti namanya, Siat Geni, ritual tersebut berupa perang api dengan media serabut kelapa yang dibakar. Serabut kelapa yang berisi bara api kemudian dibenturkan di atas kepala pengayah, yang kemudian menimbulkan percikan api. Para peserta Siat Geni adalah yowana atau pemuda Desa Adat Tuban, yaitu Sekaa Teruna Pertiwi Santi Banjar Tuban Griya ataupun Sekaa Teruna Bhuana Kusuma Banjar Pesalakan.
Mereka sebelumnya telah dibagi menjadi 2 kelompok yang berseberangan, dengan membentuk sebuah pola lingkaran kecil. Siat Geni dipimpin oleh saye (wasit) yang menjaga pelaksanaan tradisi berjalan khidmat dan suci. “Sebelum melaksanakan Siat Geni, peserta akan melakukan persembahyangan di Pura Dalem Kahyangan. Kemudian Pemangku Pura Gede Dalem Kahyangan melakukan ritual matur piuning nedunang Kala Geni Ludra. Setelah itu media serabut kelapa yang telah disusun bertumpuk di jaba tengah pura kemudian dibakar, barulah tradisi itu kemudian bisa dimulai,” jelasnya.
Prosesi Siat Geni dilaksanakan kurang lebih selama 1 jam. Karena hal itu merupakan ritual yang disucikan, maka seluruh peserta diwajibkan dalam keadaan suci. Dalam artian, peserta tidak ada cuntaka. Seperti cuntaka ada keluarga meninggal, maupun mereka yang mempunyai bayi yang belum genap berumur 1 bulan 7 hari.
Para peserta juga wajib menjaga etika saat melaksanakan ritual tersebut, serta jangan membawa dendam atau sakit hati. Karena tujuannya adalah menghilangkan leteh, membakar nafsu jahat yang ada dalam diri manusia. “Jadi yang disiatkan atau diperangkan di sini adalah antara geni dengan geni, atau api dengan api. Bukan antara api dengan manusia,” paparnya. (BC5)














