Cegah ASF, Pemkab Badung Perketat Pengawasan Peternakan

0
0
ASF
Anak Agung Ngurah Raka Sukadana. (ist)

balibercerita.com –
Pemkab Badung meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika yang kembali merebak di sejumlah daerah. Meski hingga saat ini Badung masih dalam kondisi aman, langkah antisipasi langsung dilakukan guna melindungi peternak dan menjaga stabilitas sektor peternakan babi yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat.

Melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa), Pemkab Badung menerjunkan tim kesehatan hewan untuk melakukan pemantauan intensif ke sentra-sentra peternakan babi. Langkah ini merupakan tindak lanjut atas Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian terkait peningkatan kasus ASF di kawasan Asia Pasifik.

Kepala Disperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, mengatakan pengawasan lapangan diperketat sebagai upaya deteksi dini sekaligus memastikan kondisi kesehatan ternak tetap terjaga. “Kami telah menerjunkan tim kesehatan hewan (keswan) untuk melakukan pengecekan langsung ke kantong-kantong peternakan babi di Badung. Monitoring ketat ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan ternak warga tetap terjaga,” ujarnya, Selasa (2/6).

Baca Juga:   Kalahkan Tabanan, Tim Sepak Bola Bapor Korpri Badung Melaju ke Semifinal

Selain melakukan pengawasan, Disperpa juga menggencarkan edukasi kepada para peternak melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE). Materi yang disampaikan mencakup gejala ASF, cara penularan, hingga langkah pencegahan yang harus diterapkan di lingkungan peternakan.

Sebagai bentuk penguatan biosekuriti, Pemkab Badung meminta peternak memperketat akses keluar masuk kandang guna mencegah masuknya virus dari luar lingkungan peternakan. “Kami juga memperketat sistem pembatasan dan pengawasan akses keluar masuk kandang guna meminimalkan pembawa virus dari luar,” kata Raka Sukadana.

Baca Juga:   Ny. Rai Wahyuni Sanjaya Dampingi Ny. Putri Koster dalam Aksi Sosial “Menyapa dan Berbagi” di Tabanan

Langkah pencegahan lainnya dilakukan dengan mewajibkan penyemprotan cairan desinfektan secara berkala pada kandang dan fasilitas peternakan. Kebijakan tersebut telah dituangkan dalam surat edaran yang disampaikan kepada seluruh peternak babi di Kabupaten Badung. “Kami mewajibkan penyemprotan cairan desinfektan pada area kandang dan sarana prasarana peternakan secara berkala,” ucapnya.

Disperpa juga mengingatkan peternak agar tidak menggunakan sisa makanan dari hotel, restoran, maupun warung sebagai pakan ternak. Praktik swill feeding dinilai berisiko tinggi menjadi media penyebaran virus ASF.

Untuk memperkuat sistem kewaspadaan, seluruh petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di masing-masing kecamatan disiagakan menerima laporan masyarakat apabila ditemukan ternak yang menunjukkan gejala sakit atau kematian mendadak. “Kami menginstruksikan peternak untuk segera melapor kepada otoritas veteriner jika menemukan indikasi babi sakit atau mati mendadak dalam skala besar,” tegasnya.

Baca Juga:   Kebakaran Hanguskan Lantai II Toserba di Kedonganan, Penanganan Hampir Tujuh Jam

Menurut Raka Sukadana, keberhasilan mencegah masuknya ASF tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif para peternak dalam menerapkan biosekuriti dan melaporkan setiap gejala yang mencurigakan. “Kami mengimbau seluruh peternak untuk tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan kandang. Dengan kerja sama semua pihak, kami berharap Badung tetap aman dari ancaman ASF,” pungkasnya. (BC5)