Bukan Sekadar Hari Lahir, Otonan Ibarat Blueprint Kehidupan Orang Bali

0
71
Bali
Ilustrasi ritual otonan. (ist)

Denpasar, balibercerita.com –

Umat Hindu di Bali memiliki banyak ritual atau upacara keagamaan yang berkaitan dengan kelahiran dan tahapan kehidupan manusia. Salah satunya adalah otonan yang zaman sekarang sering disebut ulang tahun ala Hindu Bali. 

Otonan merupakan sebuah ritual yang bertujuan untuk memperingati hari lahir seseorang secara tradisional Bali. Namun, berbeda dengan ulang tahun yang lumrahnya diperingati setahun sekali didasarkan atas tanggal dan bulan Masehi, otonan diperingati atau dilaksanakan setiap enam bulan kalender Bali atau 210 hari sekali. 

Pelaksanaan ritual ini didasarkan atas pertemuan hari atau yang dalam istilah tradisionalnya disebut Sapta Wara dengan pepasaran atau Panca Wara yang terdiri dari Umanis, Paing, Pon, Wage, dan Kliwon serta dikaitkan pula dengan Wuku yang menaungi hari tersebut. 

Pada saat otonan, seseorang akan melaksanakan upacara yang terdiri dari natab sampian otonan, ngaturang sembah, dan sebagainya, sesuai dengan dresta dan tradisi di masing-masing wilayah. Pada intinya, tradisi tersebut dilaksanakan dengan harapan agar ia yang diupacarai senantiasa mendapatkan perlindungan dan anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta leluhur yang diyakini telah “dumateng” atau bereinkarnasi pada orang tersebut. 

Baca Juga:   Bank Sampah Digital Sangkara, Ajak Pamedek Bersihkan Pura Sekaligus Kumpulkan Rupiah 

Namun apakah otonan hanya merupakan sebuah ritual tanpa makna? Tidak! Sebab, dibalik ritual otonan tersebut, tersimpan pengetahuan yang sangat dalam dan luar biasa mengenai kelahiran seseorang, apakah itu karakter dan perilakunya, kesesuaian dengan jenis pekerjaan yang bisa diambil, bahkan hingga alur perjalanan hidup bisa dipelajari dan dipahami hanya dengan mengetahui “tegak oton” atau hari otonan seseorang. 

Dalam sebuah hari otonan, akan melekat banyak hal yang di dalamnya mengandung arti, makna, bahkan pesan khusus mengenai orang tersebut misalnya wewaran, palelintangan, watek madya watek alit, pangarasan, Panca Sudha dan sebagainya yang akan menggambarkan atau memberi informasi mengenai orang dengan otonan tersebut. 

Baca Juga:   Pemkab Badung Ngaturang Bhakti Penganyaran di Pura Besakih 

Sebagaimana kemudian dibuktikan melalui studi kasus di lapangan, akurasi mengenai kesesuaian karakter seseorang ketika dibaca melalui pawacakan oton atau unsur-unsur dalam otonan tersebut cenderung mencapai hingga 85 persen. Akan tetapi, tetap saja untuk dapat memahami mengenai hal-hal tersebut, diperlukan usaha keras untuk mempelajarinya. Namun dengan kecanggihan teknologi informasi seperti sekarang ini, tidak sulit untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal tersebut. 

Hari otonan menjadi sangat penting untuk dipahami karena diharapkan seseorang yang sudah memahami otonan dan pesan-pesan dibaliknya dapat mengusahakan hal yang terbaik bagi dirinya dan menghindarkan diri dari hal-hal yang berbahaya bagi dirinya. Selain itu, masyarakat juga meyakini bahwa di tangan orang tertentu, otonan juga bisa dipakai sebagai dasar bagi seseorang untuk melakukan tindakan yang bersifat menyakiti atau tidak baik. Sebab, ketika si pelaku memahami apa saja bagian-bagian termasuk pula kelemahan-kelemahan orang tersebut berdasarkan otonannya, maka akan sangat mudah baginya untuk bertindak sesuai yang diinginkan. 

Baca Juga:   Selama Festival Imlek Bersama, Arus Lalin Jalan Gajah Mada Dialihkan 

Sangatlah penting untuk merahasiakan otonan dalam konteks menjaga diri karena otonan merupakan blueprint seseorang yang menggambarkan seperti apa dan bagaimana orang tersebut. Dalam otonan termuat berbagai macam informasi yang ketika diketahui oleh orang yang berniat buruk maka bisa menjadi dasar untuk menyakiti seseorang baik secara sekala maupun niskala. 

Konsep dan makna penting otonan mungkin saja diabaikan bahkan oleh sebagian umat Hindu di Bali. Hal ini mengingat derasnya arus modernisasi yang menyebabkan banyak orang Bali yang mengabaikan konsepsi leluhur. Padahal sesungguhnya ilmu warisan leluhur jauh lebih rinci dan relevan di tiap zaman dibandingkan dengan apa yang diterima dari luar negeri. (was)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini