
balibercerita.com –
Hamparan hijau mangrove yang kini tumbuh subur di kawasan Arboretum Park, Tanjung Benoa, menjadi bukti nyata bahwa ekosistem yang pernah rusak dapat dipulihkan melalui komitmen dan kerja bersama. Dari kawasan kritis yang sempat mengalami kematian vegetasi, Arboretum Park kini menjelma menjadi benteng ekologis pesisir yang menjadi kebanggaan Bali sekaligus contoh nasional dalam upaya restorasi lingkungan.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui aksi penanaman mangrove yang dipimpin langsung Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat, sebagai bagian dari percepatan target nasional penanaman 2 miliar pohon di seluruh Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Jumhur menegaskan bahwa penanaman mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari gerakan besar pemulihan lingkungan dan penguatan ketahanan iklim nasional. “Hari ini kita menanam mangrove bukan sekadar untuk menghijaukan pesisir, tetapi mengirimkan pesan bahwa kerusakan lingkungan bisa dipulihkan jika ada kemauan dan partisipasi bersama. Bali telah membuktikannya,” ujar Jumhur, Rabu (10/6).
Arboretum Park yang memiliki luas sekitar 12 hektare kini ditumbuhi lebih dari 300.000 pohon mangrove dari 12 spesies berbeda. Kawasan tersebut dinilai memiliki peran strategis sebagai pelindung alami pesisir dari abrasi, intrusi air laut, hingga dampak perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan kawasan kepulauan.
Menurut Jumhur, keberhasilan restorasi mangrove di Bali harus menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia, terutama wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang rentan terhadap kerusakan lingkungan. “Restorasi mangrove bukan hanya soal menanam pohon, tetapi memastikan ekosistem pesisir kembali pulih dan memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan sebagai bagian dari target penanaman 2 miliar pohon di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Indonesia sendiri tercatat memiliki sekitar 3,45 juta hektare kawasan mangrove atau setara 23 persen dari total mangrove dunia. Karena itu, pemerintah menempatkan rehabilitasi mangrove sebagai salah satu strategi utama dalam menjaga ketahanan lingkungan dan menghadapi ancaman perubahan iklim global.
Untuk memperkuat upaya tersebut, KLH/BPLH berkomitmen menjadikan Arboretum Park sebagai pusat pembelajaran restorasi mangrove yang dapat direplikasi ke berbagai daerah di Nusantara. “Mangrove adalah benteng pertahanan alami terbaik kita. Kementerian LH berkomitmen penuh menjadikan Arboretum Park ini sebagai laboratorium alam dan pusat edukasi restorasi mangrove berskala nasional yang ilmunya bisa direplikasi ke pulau-pulau kecil lainnya di seluruh Nusantara,” kata Jumhur.
Selain menyoroti keberhasilan pemulihan ekosistem pesisir, Menteri Jumhur juga memberikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Provinsi Bali dalam menangani persoalan sampah. Menurutnya, berbagai kebijakan yang diterapkan berhasil membawa Bali menuju kondisi yang semakin baik dalam pengelolaan lingkungan. “Itu baik sekali Pak Gubernur, tinggal kita nanti bertahan dengan prestasi itu dan memproses lebih baik lagi, apakah sampah dibuat menjadi bahan bakar atau menjadi pupuk, ini sedang dalam proses,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan menjaga lingkungan akan berdampak langsung terhadap citra dan daya saing pariwisata Bali. Wisatawan dunia kini semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan etika lingkungan dalam menentukan destinasi wisata. “Marilah kita semakin ramah terhadap lingkungan dan masyarakat Bali menjadi contoh beretika lingkungan untuk seluruh warga di Republik Indonesia ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali untuk terus menjaga keseimbangan alam melalui implementasi nilai-nilai kearifan lokal Tri Hita Karana, baik secara sekala maupun niskala. “Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Bali, mari kita bersama-sama mewujudkan Bali 100 persen memilah sampah. Bersama, serentak untuk Bali yang bersih, sehat, indah, dan lestari,” kata Koster.
Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan partisipasi masyarakat, Bali kini tidak hanya menjadi destinasi wisata dunia, tetapi juga mulai menegaskan posisinya sebagai laboratorium hidup pemulihan lingkungan nasional. (BC5)
















