Mangupura, balibercerita.com –
Upaya nyata Desa Adat Pecatu dalam menjaga tradisi sekaligus meringankan beban warganya kembali terlihat melalui pelaksanaan karya pitra yadnya massal yang digelar pada Senin (23/6). Kegiatan sakral yang dilaksanakan tiga tahun sekali ini dirangkai pula dengan manusa yadnya (metatah) dan atma wedana (nyekah), menjadikannya momentum spiritual dan sosial yang menyatukan masyarakat.
Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta menjelaskan bahwa karya kali ini tidak hanya memperkuat nilai adat dan spiritual, tetapi juga menjadi bentuk gotong royong ekonomi. Subsidi diberikan kepada peserta upacara oleh LPD, desa adat, dan desa dinas, dengan total bantuan mencapai Rp14,5 juta per sawa.
“Kami ingin memastikan yadnya ini tidak memberatkan warga. Maka, kami siapkan subsidi dari berbagai sumber dan imbauan untuk memiliki tabungan LPD sebagai syarat agar berhak menerima bantuan,” kata Sumerta, yang juga merupakan anggota DPRD Badung.
Inisiatif bendesa untuk menambahkan prosesi metatah (potong gigi) dalam karya ini pun menjadi respons atas kebutuhan masyarakat. “Astungkara, lebih dari 100 orang ikut metatah tahun ini. Sebelumnya hanya di griya, sekarang bisa di desa,” ujarnya.
Total ada 92 sawa yang mengikuti ngaben, 76 untuk ngelangkir, dan 6 untuk ngelungah. Prawartaka karya, Made Astra mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian sudah berjalan sejak 16 Juni dan akan berakhir pada 2 Juli 2025, ditutup dengan prosesi nyegara gunung.
Untuk efisiensi dan keteraturan, prosesi dilaksanakan oleh Yayasan Gases, dengan biaya sekitar Rp20 juta per sawa. “Semua sarana upacara sudah disiapkan, warga tinggal mengikuti dengan tenang,” kata Astra.
Sumerta berharap, karya massal semacam ini dapat terus menjadi jalan tengah antara menjaga tradisi dan menjaga kesejahteraan. “Jangan sampai karena yadnya, yang hidup jadi menderita. Kita atur agar yadnya berjalan sesuai kemampuan. Yang penting tulus dan niatnya benar,” pungkasnya. (BC5)















