Pelawatan Barong Terbakar di Seminyak, Bendesa: Ini Murni Human Error

0
283
Barong
Potongan video yang menunjukkan pelawatan barong terbakar di Pura Puseh Desa Adat Seminyak, Selasa (17/6). (ist)

Mangupura, balibercerita.com –
Sebuah video yang memperlihatkan pelawatan barong terbakar saat prosesi keagamaan viral di media sosial, Selasa (17/6). Peristiwa itu terjadi di Pura Puseh, Desa Adat Seminyak, saat berlangsungnya upacara pujawali jelih. Meski terlihat dramatis, kejadian ini dipastikan bukanlah bentuk kesengajaan.

Bendesa Adat Seminyak, I Made Puspita membenarkan insiden tersebut dan menyampaikan rasa syoknya atas apa yang terjadi. Ia mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.00 Wita saat prosesi berlangsung dengan khidmat.

“Kejadian ini benar-benar di luar prediksi kami bersama warga. Ini peringatan bagi kami karena ini benar-benar human error,” ujar Puspita, Rabu (18/6).

Baca Juga:   KLH Soroti Aktivitas Tambang yang Ancam Ekosistem Raja Ampat

Menurut penjelasan Puspita, kebakaran terjadi saat prosesi ngider ring pura, ketika salah satu pasepan (wadah berisi api) secara tak sengaja mengenai rambut barong. Rambut barong yang terbuat dari bahan mudah terbakar langsung tersulut, dan api dengan cepat membesar sebelum sempat dipadamkan.

“Pasepan itu menggunakan kayu besar, kemudian ada angin dan mengenai rambut Pelawatan Ida Bhatara yang berbahan parasok. Pererai masih tersisa tapi langsung mapunggel,” ungkapnya.

Baca Juga:   Pengendara Motor Terseret Arus Sungai di Buleleng, Tim SAR Lakukan Pencarian

Ia menegaskan bahwa kejadian ini sepenuhnya merupakan kelalaian manusia. Faktor angin dan posisi pasepan yang tidak tepat disebut sebagai penyebab utama.

“Ini memang human error di tengah musim angin kencang, paso pasepan posisinya di bawah ini yang tidak dapat diantisipasi. Astungkara yang mundut selamat rahayu,” paparnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan, Desa Adat Seminyak segera melaksanakan upacara ngulap ngambe, bendu piduka, dan pecaruan untuk memohon maaf atas kejadian tersebut secara niskala.

Baca Juga:   Pemerintah Uji Coba Sistem “All Indonesia” untuk Permudah Proses Kedatangan Penumpang Internasional

“Sekarang kami akan bertanya atau berkoordinasi dengan Ida Sulinggih bagaimana sebaiknya. Tapi yang pasti akan dikembalikan seperti semula,” imbuhnya.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh krama desa, bahwa dalam kekhidmatan ritual sekalipun, kewaspadaan teknis dan antisipasi terhadap hal-hal kecil tetap sangat penting. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, dan semangat warga untuk menjaga kesucian tradisi tetap menyala. (BC9)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini