BMKG Bali Prediksi Musim Kemarau 2025 Dimulai April hingga Mei, Puncaknya Agustus

0
482
Kemarau
Infografis peta prediksi musim kemarau Provinsi Bali tahun 2025. (ist)

Denpasar, balibercerita.com –
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bali memprediksi awal musim kemarau di wilayah Bali pada tahun 2025 akan berlangsung antara April hingga Mei. Dari 20 Zona Musim (ZoM) di Bali, sekitar 50 persen wilayah Bali memasuki musim kemarau pada bulan April dan 50 persen sisanya masuk bulan Mei.

Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri menyampaikan bahwa prediksi ini berdasarkan hasil analisis data iklim terbaru dan dinamika atmosfer terkini. Pembaharuan data iklim dengan periode normal baru 1991–2020 memungkinkan analisis iklim yang lebih akurat dan responsif terhadap perubahan iklim global. “Awal musim kemarau di Bali tahun ini diperkirakan dimulai pada bulan April hingga Mei, masing-masing mencakup 10 Zona Musim atau 50 persen dari total 20 Zona Musim (ZOM) di Bali,” jelasnya.

Baca Juga:   Kerusakan Sistem UPA Siligita Picu Krisis Air Bersih di Kampial

Adapun 10 ZOM yang diperkirakan memasuki musim kemarau pada bulan April yaitu Karangasem bagian timur dan Nusa Penida pada 10 hari pertama atau April dasarian I (10 hari pertama). Pada April dasarian II diantaranya daerah Jembrana bagian barat, Buleleng bagian barat dan utara, Gianyar bagian selatan, Klungkung bagian selatan, dan Karangasem bagian selatan.

Kemudian, April dasarian III yaitu daerah Buleleng bagian utara dan timur, Karangasem bagian utara dan tengah, Bangli bagian utara dan timur, Gianyar bagian selatan, Tabanan bagian tengah, Kota Denpasar, serta Badung bagian tengah dan selatan.

Untuk 10 ZOM lainnya diperkirakan akan mengalami awal musim kemarau pada bulan Mei, yaitu pada Mei dasarian I sebagian besar wilayah Jembrana, Buleleng bagian tengah, Tabanan bagian barat dan tengah, Bangli bagian utara dan tengah, Gianyar bagian tengah, dan Karangasem bagian selatan. Untuk Mei dasarian II yaitu daerah Buleleng bagian tengah dan selatan, Tabanan bagian utara, Badung bagian utara, Gianyar bagian utara, Karangasem bagian barat, dan Bangli bagian selatan.

Baca Juga:   Badung Sebelas Kali Berturut-turut Raih Opini WTP

Jika dibandingkan dengan rata-rata periode 1991–2020, musim kemarau tahun ini cenderung mengalami kemunduran. Sebanyak 12 ZOM atau 60 persen diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih lambat dari biasanya. Hanya 3 ZOM yang lebih cepat, dan 5 ZOM sama dengan rata-ratanya.

Dari sisi intensitas hujan selama musim kemarau, BMKG memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Bali yakni 12 ZOM atau 60 persen akan mengalami kondisi hujan normal. Mencakup sebagian besar wilayah Jembrana, Buleleng bagian barat dan tengah, Bangli bagian utara hingga selatan, Karangasem bagian timur, tengah, barat, dan selatan, Tabanan bagian tengah, Gianyar bagian tengah dan selatan, Badung bagian tengah dan selatan, Klungkung bagian selatan, serta Nusa Penida.

Baca Juga:   AP5i Hadapi Tekanan Tarif Ekspor, Fokus Garap Pasar Baru dan Domestik

Sebanyak 2 ZOM diperkirakan mengalami hujan di bawah normal, yakni di wilayah Tabanan bagian barat dan Karangasem bagian selatan. Sedangkan 6 ZOM lainnya diprediksi mengalami hujan di atas normal, mencakup wilayah Buleleng bagian utara, tengah, timur, dan selatan, Tabanan bagian utara, Badung bagian utara, Gianyar bagian utara, Karangasem bagian utara, serta Bangli bagian utara dan timur.

Puncak musim kemarau 2025 diprediksi terjadi pada bulan Agustus di 19 dari 20 ZOM atau 95 persen wilayah Bali. Hanya satu wilayah, yaitu Karangasem bagian selatan, yang diperkirakan mengalami puncak kemarau lebih awal, yakni pada Juli.

Ia mengimbau agar pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat bersiap menghadapi musim kemarau. “Antisipasi perlu ditingkatkan, terutama di daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan serta kekurangan air bersih,” ujarnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini