Selama 8 Hari, Banjir Rob Berpotensi Terjadi di 26 Wilayah di Bali 

0
289
Rob
Banjir rob berpotensi terjadi di 26 kawasan pesisir Bali, salah satunya di Pantai Masceti, Gianyar. (BC13)

Mangupura, balibercerita.com –

Potensi banjir rob (banjir pesisir) di wilayah pesisir selatan Bali berpotensi terjadi selama 8 hari, yaitu dari tanggal 30 Mei hingga 7 Juni 2022. Hal itu disebabkan fase bulan baru yang terjadi ketika bulan berada dalam posisi sejajar dengan matahari dan bumi. 

Koordinator Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wirajaya menerangkan, berdasarkan data pantauan water level dan prediksi pasang surut, beberapa wilayah perairan selatan Bali diperkirakan berpotensi mengalami banjir ROB. Informasi mengenai potensi banjir rob di wilayah pesisir Bali telah disampaikan BMKG sebelumnya. 

Baca Juga:   Patung Penari Bali Akan Hiasi Jalan Tol Bali Mandara

Untuk itu, masyarakat di daerah pesisir Bali selatan diimbau mewaspadai potensi banjir rob pada tanggal yang diperkirakan demi mencegah kerugian akibat dampak yang dapat ditimbulkan. “Total ada 26 titik pantai di perairan selatan Bali yang diprediksi mengalami banjir rob. Kejadiannya kemungkinan berlangsung dengan waktu yang berbeda di tiap wilayah,” terangnya. 

Baca Juga:   Pramuka Didorong Jadi Pilar Strategis Pembangunan Karakter Bangsa

Adapun wilayah pesisir yang berpotensi mengalami banjir rob adalah Pantai Pulukan, Pantai Pekutatan, Pantai Balian, Pantai Soka, Pantai Pasut, Pantai Kelanting, Pantai Yeh Gangga, Pantai Kedungu, Pantai Tanah Lot, Pantai Batu Bolong, Pantai Seminyak, Pantai Kuta, Pantai Jerman, Pantai Nusa Penida, Pantai Balangan, Pantai Padang-padang, Pantai Nugalan, Pantai Pandawa, Pantai Nusa Dua, Pantai Serangan, Pantai Sanur, Pantai Sindu, Pantai Saba, Pantai Masceti, Pantai Lebih, dan Pantai Kusamba.

Kondisi itu secara umum dapat mengganggu aktivitas keseharian masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir. Seperti aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di permukiman pesisir, serta aktivitas tambak garam dan perikanan darat. Untuk itu masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan siaga mengantisipasi dampak dari pasang maksimum air laut, serta memperhatikan informasi cuaca maritim dan BBMKG Wilayah III Denpasar. “Jadi ini sifatnya perkiraan sesuai analisa kami. Kalaupun itu tidak terjadi, kita sangat syukuri. Tapi, kalau benar-benar terjadi, masyarakat sudah antisipasi,” tegasnya. (BC5) 

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Ikuti Aksi Bersih Pantai Kedonganan, Dorong Gerakan ASRI Berkelanjutan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini