balibercerita.com –
Upaya mewujudkan pertanian yang lebih ramah lingkungan terus mendapat dukungan. Kali ini, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui Program Community Development The Nusa Dua berkolaborasi dengan Yayasan Owl Tower Bali menghadirkan solusi alami untuk mengendalikan hama tikus di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar.
Melalui program tersebut, burung hantu tyto alba dimanfaatkan sebagai predator alami untuk melindungi area persawahan dari serangan tikus. Inisiatif ini tidak hanya mendukung pengembangan pertanian organik, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati (biodiversity), sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai bentuk dukungan, ITDC menyerahkan 10 unit rumah burung hantu (rubuha), satu unit kandang adaptasi berukuran 3 x 2 meter, serta paket pakan awal selama 14 hari berupa jangkrik dan 84 ekor tikus. Sementara itu, Yayasan Owl Tower Bali yang dipimpin dr. I Wayan Wirawan, S.Ked., M.M., menyerahkan sepasang burung hantu tyto alba yang akan dibudidayakan sebagai predator alami untuk mengendalikan populasi tikus di area persawahan.
Pemanfaatan tyto alba sebenarnya bukan hal baru di kalangan petani. Di berbagai daerah, burung hantu ini telah lama menjadi andalan sebagai pengendali hayati hama tikus. Petani biasanya memasang pagupon atau rumah burung hantu di area persawahan maupun perkebunan agar satwa tersebut bersarang dan membantu melindungi tanaman dari serangan tikus.
Kemampuan berburu tyto alba pun terbilang luar biasa. Sekitar 95 persen makanannya merupakan tikus, bahkan seekor burung hantu dewasa mampu memangsa tiga hingga lima ekor tikus dalam semalam. Karena itu, kehadirannya dinilai menjadi solusi yang efektif dan ramah lingkungan dibandingkan penggunaan racun tikus, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung pertanian organik yang berkelanjutan.
General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika mengatakan, kolaborasi ini merupakan implementasi nyata komitmen ITDC dalam menciptakan creating shared value, di mana keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari pengembangan kawasan pariwisata, tetapi juga dari kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui pengelolaan destinasi pariwisata, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap sektor pertanian yang menjadi bagian penting dari pembangunan daerah. Melalui kolaborasi ini, kami berharap petani dapat mengendalikan hama secara alami, menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Agus, Kamis (30/7).
Menurutnya, program tersebut juga sejalan dengan komitmen ITDC dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek ketahanan pangan, pelestarian ekosistem daratan, serta penguatan kemitraan.
Pendiri Yayasan Owl Tower Bali, dr. I Wayan Wirawan, S.Ked., M.M., menjelaskan, tyto alba merupakan salah satu predator alami paling efektif untuk mengendalikan populasi tikus sawah tanpa merusak lingkungan. “Pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hayati telah terbukti mampu membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap racun tikus. Selain lebih ramah lingkungan, metode ini juga mendukung terciptanya ekosistem pertanian yang lebih sehat, menjaga keseimbangan rantai makanan, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati,” jelasnya.
Ketua Kelompok Tani Desa Kedisan, I Putu Yoga Wibawa menyambut baik program tersebut. Menurutnya, bantuan rubuha beserta burung hantu tyto alba menjadi solusi yang sangat dibutuhkan karena sejalan dengan upaya mengembangkan pertanian organik yang lebih sehat dan produktif.
Ia optimistis program tersebut mampu mengurangi serangan hama tikus, meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem persawahan. Fasilitas yang telah diberikan juga akan dirawat dan dimanfaatkan secara optimal agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh seluruh anggota kelompok tani.
Melalui inisiatif ini, ITDC kembali menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan prinsip environmental, social, and governance (ESG) melalui pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. ITDC meyakini keberlanjutan pariwisata harus berjalan seiring dengan keberlanjutan sektor pertanian dan kelestarian lingkungan sebagai fondasi masa depan Bali.
“Sejalan dengan visi perusahaan dalam mengembangkan destinasi pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, ITDC akan terus memperluas kemitraan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sebagai fondasi masa depan pariwisata Indonesia,” tutup Agus. (BC5)


















