Penanganan Tebing Pura Luhur Uluwatu Dilanjutkan, Fokus Penguatan Struktur dan Akses Upacara Adat

0
212
Pura Uluwatu
Metode shotcrete yang dipergunakan dalam penanganan keretakan tebing Pura Luhur Uluwatu. (ist)

Mangupura, balibercerita.com –
Penanganan lanjutan terhadap tebing di kawasan suci Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu kembali dilakukan Pemkab Badung. Ini merupakan tahap lanjutan dari proyek pengamanan pantai yang telah rampung 100 persen pada tahun 2024 lalu.

Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung, I Nyoman Karyasa menyampaikan, kegiatan ini akan mulai berjalan pada APBD perubahan 2025 dan dilanjutkan melalui APBD 2026.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Badung, Anak Agung Rama Putra menambahkan bahwa pekerjaan tahun ini akan difokuskan pada peninggian area bawah utama mandala, yang menjadi akses utama untuk pelaksanaan upacara keagamaan seperti mapakelem. Peninggian dilakukan karena titik tersebut merupakan lokasi hantaman ombak terdahsyat.

Baca Juga:   Mendagri Ingatkan Antibodi Untuk Menetralisir Virus, Untuk Mencegah Tetap 3 M

“Dari eksisting sekarang naiknya lagi 2,20 meter. Panjangnya hanya sekitar 10 meter saja di titik revetment,” jelasnya.

Selain peninggian, kegiatan tahun ini juga mencakup perkuatan struktur tebing menggunakan metode shotcrete untuk menangani retakan-retakan yang belum tertangani sebelumnya, serta penyempurnaan jalan inspeksi di kawasan tersebut.

Secara keseluruhan, penanganan tebing Pura Luhur Uluwatu akan dilakukan hingga mencapai area Batu Metandal. Penanganan dilakukan secara bertahap, dengan target penyelesaian penuh pada tahun 2026.

Salah satu langkah persiapan yang dilakukan melalui APBD perubahan 2025 adalah pengadaan material batu dan tetrapod yang akan digunakan pada pengerjaan berikutnya. “Biar nanti tidak terjadi kendala mencari batu dengan berat jenis 400 kg. Batu dan tetrapod ini akan ditempatkan sementara di sekitar pantai sisi kiri utama mandala,” tegas Gung Rama.

Baca Juga:   Tim SAR Evakuasi Remaja Asal Tabanan yang Alami Hipotermia di Gunung Agung

Pekerjaan lanjutan saat ini masih berada di bawah tanggung jawab penyedia jasa, karena proyek tersebut masih dalam masa pemeliharaan selama dua tahun. Sekitar 15 orang pekerja dikerahkan untuk menangani sejumlah pekerjaan seperti perbaikan struktur retak tebing sisi selatan, struktur bawah tanjung yang menjadi lokasi upacara mulang pakelem, serta pembangunan akses jalan untuk sarana upacara tersebut.

“Langkah yang kami lakukan sekarang fokus untuk menambal dulu tebing yang retak di sisi kiri dan pelataran upakara pakelem di tanjung bagian bawah. Nanti baru masuk ke Batu Metandal. Jalan aksesnya juga belum final,” jelasnya.

Baca Juga:   Penertiban Waria Terkendala Regulasi

Namun, pekerjaan tidak lepas dari tantangan, terutama kondisi alam di Pantai Selatan. Gelombang tinggi dan arus kuat kerap menghambat proses pengerjaan, terutama di titik-titik bawah. “Tantangannya karena arus pantai selatan sangat kuat. Sekarang gelombang tinggi bahkan sampai menyentuh revetment,” ujarnya.

Meski begitu, Dinas PUPR Badung memastikan bahwa pekerjaan akan terus dilanjutkan secara bertahap, menyesuaikan kondisi cuaca dan ketersediaan anggaran. Pembangunan revetment hingga ke Batu Metandal dijadwalkan masuk dalam APBD 2026. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini