Wamendag Dorong Bali Jadi Gateway Ekspor, 16 Juta Wisatawan Jadi Pasar Potensial

0
3
Ekspor Bali
Mendag bersama Gubernur Bali saat menerima plakat penghargaan dari GPAI Bali. (BC5)

balibercerita.com –
Bali dinilai memiliki modal besar untuk berkembang menjadi gateway to exporting atau pintu masuk produk Indonesia ke pasar internasional. Bukan hanya karena konektivitasnya, tetapi juga karena besarnya arus wisatawan mancanegara dan domestik yang setiap tahun datang ke Pulau Dewata.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI Dyah Roro Estu Widya Putri mengatakan, Bali memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi etalase berbagai produk unggulan Indonesia. Terlebih, jumlah wisatawan yang datang ke Bali mencapai sekitar 7,05 juta wisatawan mancanegara dan 9,3 juta wisatawan domestik.

“Kalau kita menggabungkan kedua figur ini, ini merupakan market yang ada di Bali alone. Kita belum berbicara Indonesia, kita masih berbicara Bali. Maka karena jumlah wisatawan khususnya yang global besar, Bali ini bisa menjadi etalase untuk produk-produk unggulan Indonesia,” ujarnya.

Menurut Dyah Roro, besarnya jumlah wisatawan tersebut harus dioptimalkan tidak hanya untuk kepentingan pariwisata, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan produk lokal dan produk unggulan dari berbagai daerah di Indonesia. “Ini menjadi gateway to exporting. Jadi saya senang kalau misalnya ke depannya ada upaya agar Bali ini bisa menjadi hub, itu menurut saya sangat luar biasa dan bisa kita sambut dengan sangat baik,” katanya.

Pengembangan ekspor tersebut dinilai semakin penting di tengah kondisi geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian. Konflik di Timur Tengah hingga perang dagang Amerika Serikat dan China memberikan tantangan tersendiri terhadap perdagangan global.
Namun, pemerintah tetap menargetkan nilai ekspor Indonesia pada 2026 mencapai US$315 miliar, meningkat dari target sebelumnya sebesar US$294 miliar.

Baca Juga:   Dari Koperasi Banjar ke Aset Rp107 Miliar, Ngardi Rahayu Jadi Contoh Kemandirian Ekonomi Adat

Dyah Roro mengatakan, pemerintah terus berupaya menjaga daya tahan ekonomi nasional dengan memperkuat ketahanan pangan dan energi sekaligus memperluas pasar perdagangan. “Kita berupaya agar nilai ekspor kita bertumbuh dengan kita juga jemput bola. Kami di Kementerian Perdagangan jemput bola ke lintas daerah, lintas provinsi, lintas kabupaten untuk memastikan bahwa masyarakat di daerah itu semangat,” ujarnya.

Ia menegaskan sumber komoditas ekspor Indonesia justru banyak berasal dari daerah. Oleh karena itu, penguatan ekspor nasional tidak bisa hanya bertumpu pada pusat perekonomian di Jakarta.

Di tengah peluang pasar global, pemerintah juga mendorong daerah meningkatkan nilai tambah produk sebelum diekspor. Indonesia dinilai tidak boleh terus bergantung pada ekspor komoditas dalam bentuk bahan mentah. Sejumlah komoditas dinilai memiliki peluang besar di pasar internasional, mulai dari kelapa sawit, besi dan baja, produk perikanan, kopi hingga kakao.

Dyah Roro mencontohkan, kakao yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah seperti cokelat.
Khusus Bali, ia melihat industri cokelat lokal memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional.

Bahkan, produk cokelat premium Bali telah mulai diperkenalkan dalam berbagai kesempatan diplomasi perdagangan maupun melalui fasilitas perdagangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. “Pada prinsipnya Indonesia mampu berdaya saing, baik dari segi packaging-nya, baik dari segi komponennya, baik dari segi hasil yang bisa kita produksikan,” katanya.

Baca Juga:   Bupati Badung Dampingi Gubernur Bali, Jajaki Obligasi Daerah ke Pemprov DKI Jakarta

Menurutnya, pengembangan produk olahan seperti cokelat menjadi contoh bagaimana komoditas daerah dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi ketika diproses dan dikemas dengan baik. Potensi lain yang mendapat perhatian adalah komoditas buah tropis.

Dyah Roro mengatakan, sejumlah negara seperti Tiongkok, Pakistan, dan negara-negara di Uni Emirat Arab memiliki permintaan terhadap buah tropis yang tidak dapat mereka produksi sendiri. Komoditas seperti manggis dan salak menjadi salah satu produk yang berpeluang diperkuat ekspornya. “Hari ini setelah kita kegiatan di sini, saya tahu akan ada pelepasan ekspor. Kebetulan tropical fruits is one of our strengths,” ujarnya.

Ia berharap kepengurusan GPEI Bali dapat semakin banyak melibatkan pelaku usaha buah tropis sehingga ekspor komoditas tersebut dapat terus digalakkan. Peluang tersebut sekaligus diperkuat dengan momentum ekspor perdana salak gula pasir produksi petani Bali ke Tiongkok.

Untuk membuka akses pasar, pemerintah menyiapkan jaringan perdagangan Indonesia di luar negeri. Kementerian Perdagangan memiliki jaringan di 33 negara melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dan Atase Perdagangan. Ia meminta pelaku usaha memanfaatkan jaringan tersebut ketika memiliki target pasar tertentu.

“Kementerian Perdagangan ataupun pemerintah hadir untuk memberikan solusi. Kita adalah jembatan dari apa yang dilakukan pelaku usaha, apa yang sudah direncanakan oleh pemerintah daerah,” ujarnya.

Baca Juga:   Bali Siap Jadi Lokasi Pusat Finansial Internasional, Ajus Linggih Minta Lokasi Digeser ke Luar Bali Selatan

Ia juga menekankan pentingnya business matching dan business pitching dilakukan secara rutin sebelum pelaku usaha mengikuti pameran atau ekspo di luar negeri. Pemerintah ingin memastikan pelaku usaha tidak sekadar hadir dalam pameran, tetapi sudah memiliki calon mitra dan peluang transaksi yang jelas.

Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat kualitas Paviliun Indonesia dalam berbagai pameran perdagangan internasional. Standar tersebut dinilai penting karena menjadi bagian dari citra Indonesia di mata calon mitra bisnis global. Ia juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak menjadi “buta informasi” mengenai berbagai perjanjian perdagangan yang telah dimiliki Indonesia dengan negara lain.

Kementerian Perdagangan bersama berbagai asosiasi, termasuk Kadin, HIPMI, dan GPEI, didorong memperkuat sosialisasi perjanjian perdagangan agar pelaku usaha mengetahui negara mana saja yang memiliki akses perdagangan yang menguntungkan bagi produk Indonesia.

Ia mencontohkan sejumlah perjanjian perdagangan yang dimiliki Indonesia, termasuk dengan Uni Eropa, Peru, dan Kanada. “Harapannya nanti ke depannya para pelaku usaha yang ada di sini semangat terus agar produk-produknya juga bisa tembus ke pasar internasional,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan asosiasi usaha menjadi kunci menghadapi ketidakpastian perdagangan global. Dengan potensi wisatawan yang besar, produk unggulan yang beragam, serta dukungan jaringan perdagangan internasional, Bali dinilai memiliki peluang untuk naik kelas dari sekadar destinasi wisata menjadi salah satu hub perdagangan dan gateway ekspor Indonesia ke dunia. (BC5)