balibercerita.com –
Industri otomotif skala kecil dinilai membutuhkan ruang regulasi tersendiri agar mampu berkembang dan tidak diperlakukan sama dengan perusahaan otomotif berskala besar. Hal ini menjadi salah satu harapan Tuksedo Studio seiring langkahnya mengembangkan kendaraan dengan desain dan identitas sendiri.
Co Founder Tuksedo Studio, Laksmana Gusti Handoko mengatakan, dukungan terhadap industri custom saat ini sudah cukup terasa. Namun, karakter Tuksedo Studio berbeda karena kendaraan yang dibuat tidak sekadar memodifikasi produk yang sudah ada, melainkan dibangun dari nol.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan pendekatan regulasi yang lebih sesuai, terutama dalam aspek birokrasi, regulasi teknis dan sertifikasi. “Jangan kami disamaratakan dengan perusahaan mobil internasional. Kami ini kan baru memulai. Memang mahal, tapi baru mulai. Effort-nya sama, bahkan lebih berat buat kami,” ujar Handoko.
Ia berharap pemerintah dapat membangun ekosistem yang memberi ruang bagi manufaktur kendaraan skala kecil untuk tumbuh. Dukungan tersebut, menurutnya, tidak harus berupa insentif pajak, tetapi dapat dimulai dari penyederhanaan dan penyesuaian proses birokrasi, regulasi maupun sertifikasi. “Kami tidak minta insentif pajak. Kami minta insentif birokrasi, regulasi, sertifikasi. Itu jangan kami dipukul rata nantinya dengan industri mobil yang besar,” tegasnya.
Handoko menilai potensi pengembangan manufaktur kendaraan skala kecil di Indonesia cukup besar. Kemampuan tersebut, menurut dia, tidak hanya dimiliki Tuksedo Studio, sehingga keberadaan regulasi yang tepat dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak pelaku industri untuk berkembang. “Kalau misalnya ada aturan untuk manufaktur mobil skala kecil, saya yakin banyak. Karena saya tahu di Indonesia yang punya kemampuan tidak hanya kami,” katanya.
Langkah Tuksedo Studio sendiri telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Sejak efektif berjalan pada 2022, studio yang berbasis di Bali tersebut telah menghasilkan hampir 30 mobil. Perkembangan itu kini diarahkan tidak hanya pada penghidupan kembali ikon otomotif klasik, tetapi juga menghasilkan karya dengan identitas desain sendiri melalui Firstlady.
Firstlady dibangun oleh tim Indonesia di Bali dengan memadukan craftsmanship, desain dan teknologi. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya Tuksedo Studio membawa karya otomotif yang lahir di Indonesia ke pasar yang lebih luas.
Handoko mengatakan, segmen kendaraan luxury memiliki karakter pasar tersendiri. Konsumen pada segmen tersebut, menurutnya, tidak semata mencari kendaraan berdasarkan jumlah produksi atau fungsi, tetapi juga keunikan dan karakter desain. “Kalau kita ngomongin luxury, itu bukan buat disetir sebenarnya. Itu akhirnya balik lagi ke selera. Jadi akan selalu ada pasar untuk hal yang berbeda,” ujarnya.
Pasar tersebut bahkan telah dirasakan Tuksedo Studio. Kendaraan yang diproduksi di Bali telah dimiliki klien hingga luar negeri. Bagi konsumen kelas atas, menurut Handoko, lokasi produksi bukan persoalan utama sepanjang kualitas kendaraan mampu memenuhi ekspektasi. “Buat mereka tidak masalah mau made in Indonesia, mau made in mana pun, asal kualitasnya sesuai,” katanya.
Bagi Tuksedo Studio, perkembangan tersebut sekaligus menjadi pijakan untuk membangun kepercayaan diri industri otomotif lokal agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang memiliki daya saing di tingkat global. (BC5)


















