
balibercerita.com –
Umat Hindu di Bali memperingati Tumpek Wayang pada Sabtu (14/3), sebuah hari suci yang jatuh setiap 210 hari sekali pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang dalam kalender pawukon. Hari suci ini dimaknai sebagai momentum pemujaan kepada Dewa Iswara, manifestasi Tuhan dalam aspek seni dan keindahan, sekaligus sebagai upaya penyucian berbagai sarana kesenian.
Akademisi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Dr. Drs. I Gusti Ketut Widana, M.Si., menjelaskan bahwa Wuku Wayang merupakan wuku terakhir dari siklus pawukon yang berjumlah 30 wuku. Oleh karena itu, Tumpek Wayang juga dipandang sebagai momentum evaluasi dari rangkaian tumpek-tumpek sebelumnya.
“Perayaan Tumpek Wayang secara teologis merupakan momen ritual pemujaan kepada Sang Hyang Iswara atau Dewa Iswara yang dikenal sebagai dewa kesenian dan keindahan. Dalam praktik ritual, biasanya dilakukan prosesi ngotonin wayang atau retinggitan beserta piranti yang menyertainya,” jelasnya.
Secara filosofis, jika ditelusuri lebih jauh, keberadaan seni wayang sebenarnya sudah ada sejak masa pra-Hindu. Pada masa itu, wayang dipandang sebagai bagian dari unsur kebudayaan universal yang muncul dari upaya manusia membayangkan berbagai hal yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap roh, arwah, maupun leluhur.
Melalui seni wayang, masyarakat pada masa itu mencoba menggambarkan berbagai realitas kehidupan dan nilai-nilai spiritual. Seiring perkembangannya, pertunjukan wayang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarat dengan tuntunan moral dan filosofi kehidupan.
“Di dalam pementasan wayang terdapat lakon dan sumber cerita yang sarat makna. Hal tersebut sekaligus merefleksikan karakteristik diri manusia, karena setiap cerita yang diangkat mengandung pesan moral bagi kehidupan,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, Tumpek Wayang juga erat kaitannya dengan kisah mitologi Dewa Kumara. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat Bali, Dewa Kumara konon hendak dimangsa oleh Batara Kala karena lahir bertepatan dengan Wuku Wayang.
Berkaitan dengan mitologi tersebut, orang yang lahir pada Wuku Wayang, terutama tepat pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang, biasanya disarankan melaksanakan prosesi mabayuh oton atau ruwatan sapuh leger. Ritual ini bertujuan untuk menetralisir pengaruh negatif serta memohon keselamatan bagi yang bersangkutan.
Dengan demikian, Tumpek Wayang tidak hanya dimaknai sebagai hari pemujaan terhadap seni dan keindahan, tetapi juga sebagai momentum spiritual untuk penyucian diri, memohon keselamatan, serta menjaga keseimbangan antara Tuhan, manusia, dan alam semesta. (BC18)














