Tari Berko Pendem Hidup Kembali, Tradisi Lama yang Tetap Dijaga

0
14
Tari Berko
Tari Berko yang dipentaskan di Kelurahan Pendem, Sabtu (25/4) malam. (ist)

balibercerita.com –
Malam di Kelurahan Pendem, Jembrana, berubah hangat ketika bunyi kulkul bertalu-talu memanggil warga untuk berkumpul. Satu per satu masyarakat datang memadati area pementasan untuk menyaksikan Tari Berko, kesenian tradisional khas Pendem yang kini mulai jarang dipertontonkan.

Pementasan berlangsung sederhana namun sarat makna. Tidak terlihat panggung modern dengan lampu gemerlap. Sebagai gantinya, cahaya lampu sentir yang ditempatkan di atas wajan tanah liat menerangi para penari dan penabuh gamelan. Suasana tradisional itu sengaja dihadirkan agar masyarakat dapat merasakan nuansa pertunjukan Berko seperti pada masa lampau.

Bagi warga Pendem, pertunjukan tersebut lebih dari sekadar hiburan malam. Momen itu menjadi ajang mempertemukan generasi tua yang menyimpan kenangan tentang Berko dengan generasi muda yang baru mengenal kesenian tersebut.

Baca Juga:   HUT Ke-25 Pinandita Sanggraha Nusantara Raya

Ketua Sekaa Seni Tari Berko Pendem, I Wayan Suwitra mengatakan, Tari Berko berawal dari kehidupan masyarakat tani di wilayah Pendem. Kesenian ini pertama kali diciptakan oleh Pan Mider, seorang petani yang dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap seni.

Pada masa awal kemunculannya, Berko dimainkan menggunakan alat musik bambu sederhana di gubuk sawah. Pertunjukan itu menjadi hiburan bagi para petani setelah menjalani aktivitas di ladang.

“Lama-kelamaan masyarakat menyukai alunan musiknya. Dari yang awalnya dimainkan di sawah, kemudian berkembang menjadi pertunjukan yang hadir dalam berbagai kegiatan adat dan perayaan masyarakat,” ujarnya saat pementasan, Sabtu (25/4) malam.

Baca Juga:   Pondasi Bangunan Pos Balawista Kuta Diperkuat

Nama Berko sendiri disebut berasal dari istilah “bero-bero neko” yang kerap diucapkan masyarakat tempo dulu. Seiring waktu, ungkapan tersebut melekat dan menjadi nama dari kesenian tradisional itu.

Pementasan Tari Berko kali ini turut didukung melalui program Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Lewat program tersebut, kesenian Berko tidak hanya ditampilkan sebagai tontonan, tetapi juga didokumentasikan sebagai bagian dari upaya menjaga pengetahuan budaya warisan leluhur. Alunan musik bambu yang berpadu dengan gerak tari khas menciptakan suasana yang menggambarkan nilai kebersamaan, gotong royong, hingga keharmonisan manusia dengan alam sekitar.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Dampingi Bupati Hadiri Puncak Karya Padudusan Agung di Pura Pucak Mangu

Ketertarikan terhadap Tari Berko ternyata juga datang dari kalangan muda. Banyak anak muda hadir menyaksikan pertunjukan tersebut secara langsung. Salah satunya Ni Putu Adela (23), yang mengaku baru pertama kali melihat Tari Berko ditampilkan dalam konsep tradisional.

“Rasanya berbeda ketika melihat langsung. Suasananya sangat khas dan membuat kita seperti kembali ke masa lalu. Saya jadi lebih mengenal warisan budaya yang dimiliki Jembrana,” katanya.

Pementasan malam itu menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi, warga Pendem terus berupaya menjaga Tari Berko agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang. (BC13)