Sejarah GWK, Patung Terlebar di Dunia

0
1946
GWK
Kemegahan Patung Garuda Wisnu Kencana. (ist)

Denpasar, balibercerita.com – 

Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park merupakan sebuah wisata taman budaya seluas 60,7 hektar yang terletak di Desa Ungasan, Kabupaten Badung. Di sini terdapat patung monumental karya maestro Nyoman Nuarta, yaitu Garuda Wisnu Kencana. Patung dengan ornamen Bali ini menjadi patung terlebar di dunia dan satu-satunya patung berbahan tembaga terbesar di dunia. 

Jika disandingkan dengan patung tertinggi di dunia, GWK berada di posisi empat tertinggi di dunia. Selain dari ukuran, di dalam patung GWK juga terdiri dari 30 lantai, namun pengunjung hanya diperkenankan berkunjung sampai lantai 23 (bahu patung). Tujuannya tiada lain kearifan lokal, sebagai bentuk penghormatan kepada patung Dewa Wisnu.

Berdiri di atas bukit batu kapur setinggi 263 meter di atas permukaan laut, patung GWK memiliki ketinggian 121 meter dari permukaan tanah atau 271 meter dari permukaan laut. Patung ini memiliki berat lebih dari 4.000 ton, dengan tinggi patung berukuran 75 meter, pondasi pedestal 46 meter, dan dengan sayap Garuda yang membentang selebar 66 meter. 

Patung ini berbahan tembaga seluas 2,5 hektar atau 25 ribu meter persegi, ditopang 21.000 batang baja dengan total berat 2.000 ton dan baut sebanyak 170.000 buah, serta kuningan seberat 3,5 ton pada bagian mahkota, bahu dan pundak yang dilapisi ribuan potong kaca mosaic emas. Patung ini terdiri dari 754 modul atau 1.500 keping bagian, yang dikerjakan oleh 200 seniman dan pekerja dibawah naungan Nu-Art studio. Pengerjaan patung ini tanpa memakai steger (skafoding) dan digarap menggunakan teknik spiderman (bergelantungan) tanpa accident.

Baca Juga:   Jelang Akhir Tahun, Terbang Langsung dari Bali ke Melbourne Kini Lebih Mudah dan Terjangkau

Pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana menelan biaya sebesar Rp450 miliar saat itu. Patung ini mengalami 5 kali perubahan desain dan ukuran, mempertimbangkan faktor keselamatan. Bagian yang mengalami perubahan yaitu pada bagian sayap, ekor, singgasana Dewa Wisnu dan bentuk kepala Garuda. 

Bagian sayap dan ekor ditarik agak ke belakang untuk alur angin, begitu juga pada bagian lain yang disusun mempertimbangkan celah alur angin. Patung ini telah melalui serangkaian tes, yaitu wind tunnel test (tes ketahanan angin) di Australia (Windtech) dan di Toronto Kanada (RDW), cavity test (tes rongga secara berkala), dan soil test. Hal ini membuat GWK memiliki ketahanan 100 tahun lamanya.

Patung GWK bermula dari gagasan Nyoman Nuarta bersama Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi era 1993-1998 Joop Ave, Menteri Pertambangan dan Energi I.B. Sudjana, serta Gubernur Bali Ida Bagus Oka. Proyek ini kemudian disusun di tahun 1989 dengan tujuan memperkuat Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Pada tahun 1990, proyek pembangunan GWK disetujui Presiden Soeharto.

Baca Juga:   Samana Resto n Villa Baturiti Tawarkan Tempat Luas dan Nyaman

Semula, proyek ini berlokasi di kawasan Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai. Mempertimbangkan luasan, maka proyek ini digeser ke bekas galian C yang berada di bukit Ungasan. Proyek sempat berhenti akibat krisis moneter tahun 1998. Hal itu ditambah dengan kontroversi pembangunan patung yang dinilai kurang cocok dengan filosofis budaya Bali, terkait dengan patung Dewa Wisnu yang berada wilayah Bali Selatan, padahal konseptual hindu menempatkan Dewa Wisnu berada di arah utara penjuru mata angin.

Berkat penjelasan logis bahwa Dewa Wisnu merupakan dewa pemelihara yang diharapkan kehadirannya mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Bali Selatan yang tandus, pembangunan pun perlahan diterima dan mendapatkan dukungan masyarakat. Hal ini didukung dengan konsep nyegara gunung yang disematkan dalam pembangunan patung GWK.

Setelah satu dekade berlalu, pembangunan patung GWK kemudian dilanjutkan oleh PT Alam Sutra Realty Tbk di tahun 2012 setelah mengakuisisi saham dari PT Garuda Adhimatra Indonesia. Hal itu membuat perusahaan pengembang properti yang berkantor pusat di Jakarta ini untuk pertama kali terjun ke pariwisata. Mereka melakukan berbagai peremajaan fasilitas, pembenahan sarana dan prasarana di kawasan utama GWK Cultural Park. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. 

Baca Juga:   Pameran Tunggal Beluluk, Usung Tema "Pakedek, Pakenyem, Pawisik"

Patung ini kemudian dibangun secara bertahap dan rampung pada 22 September 2018. Peresmiannya dilakukan Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo, bertepatan dengan moment HUT ke-73 RI. Hal ini mencatatkan sejarah bahwa pembangunan GWK dapat terealisasi setelah menempuh jalan berliku selama 28 tahun.

Kawasan GWK Cultural Park terdiri dari beberapa venue antara lain, Plaza Wisnu, Lotus Pond, Festival Park yang memiliki luas area hingga 5.000 meter persegi dengan kapasitas 15.000 pengunjung, Mandalaloka dengan luas 1,4 hektar yang memiliki kapasitas 30.000 pengunjung dan kerap menjadi venue pelaksanaan event besar berskala nasional maupun internasional. Amphitheater yang menjadi venue pertunjukan seni dan budaya memiliki daya tampung hingga 500 tempat duduk. 

Sebagai salah satu destinasi pariwisata, GWK saat ini berkembang menjadi taman budaya yang menyuguhkan berbagai acara yang meliputi pertunjukan budaya, atraksi hiburan, beragam karya seni patung dan juga seni lanskap tebing-tebing kapur yang unik. GWK juga menawarkan destinasi wisata kuliner dengan pesona Bukit Ungasan di Jendela Bali dan Beranda Resto, hingga bermacam cinderamata unik dan menarik yang tersedia di Kencana Souvenir. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini