Pipa Bawah Laut Pertama di Indonesia, Langkah Besar Perumdam Tirta Mangutama Amankan Pasokan Air Badung Selatan

0
6
Pipa bawah laut
Pengerjaan pipa bawah laut Perumda Air Minum Tirta Mangutama. (ist)

balibercerita.com –
Perumdam Air Minum Tirta Mangutama Badung terus bergerak mengantisipasi lonjakan kebutuhan air bersih di kawasan Badung Selatan yang tumbuh pesat sebagai pusat pariwisata dan investasi. Salah satu langkah strategis yang kini hampir rampung adalah pembangunan jaringan pipa bawah laut yang melintasi jalur Tol Bali Mandara, proyek infrastruktur publik yang disebut sebagai yang pertama di Indonesia.

Plt. Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung, Wayan Suyasa mengatakan, kebutuhan air bersih di wilayah selatan terus meningkat seiring masifnya pembangunan hotel, vila, kawasan usaha, hingga permukiman baru. Bahkan, sebagian besar permohonan sambungan baru berasal dari kawasan dengan elevasi tinggi yang membutuhkan pengaturan distribusi lebih kompleks.

“Pembangunan di selatan sangat masif sekali. Yang datang mendaftar juga banyak, padahal lokasinya cukup tinggi. Karena mereka mendaftar, kami harus membuat keseimbangan distribusi dari hulu sampai hilir agar pelayanan tetap optimal,” ujarnya.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Perumdam Air Minum Tirta Mangutama terus meningkatkan kapasitas pasokan air ke Badung Selatan. Hingga Juni 2026, total debit air yang dialirkan mencapai sekitar 1.050 liter per detik, yang bersumber dari instalasi estuary sekitar 822 liter per detik, IPA Belusung sekitar 223 liter per detik, serta tambahan dari IPA Petanu sekitar belasan liter per detik. “Artinya saat ini hampir 1.100 liter per detik air sudah terkirim ke selatan,” kata Suyasa.

Di tengah upaya memperkuat sistem distribusi, Perumdam Air Minum Tirta Mangutama menghadirkan terobosan melalui pembangunan jaringan pipa bawah laut yang membentang di kawasan Tol Bali Mandara. Proyek ini menjadi salah satu infrastruktur strategis yang diyakini akan mengubah pola distribusi air bersih di Badung Selatan. “Kami menanam pipa di dalam laut. Setahu kami, di Indonesia belum ada yang seperti ini. Ini yang pertama dan tentu melalui proses perizinan yang cukup panjang,” ungkapnya.

Saat ini pembangunan telah memasuki tahap akhir dan tinggal menunggu proses penyambungan dengan jaringan eksisting. Tahapan connecting tersebut diperkirakan akan memerlukan penghentian distribusi air sementara selama satu hari. “Pipa laut sudah sangat dekat dengan pipa lama dan pipa bypass, tinggal proses connecting saja. Mungkin saat penyambungan nanti akan ada penghentian distribusi sementara selama satu hari,” jelasnya.

Baca Juga:   Gerhana Bulan Total Dapat Disaksikan dari Seluruh Wilayah Bali

Meski demikian, perjalanan proyek tidaklah mudah. Faktor alam menjadi tantangan utama, terutama kondisi pasang surut laut yang membatasi waktu pekerjaan di lapangan. “Dalam sebulan kami hanya bisa bekerja sekitar 18 hari. Ketika air laut pasang, kapal yang membawa alat berat tidak bisa beroperasi. Jadi kami harus menunggu waktu yang tepat. Selain itu kami juga menyesuaikan aktivitas nelayan karena proyek ini bersinggungan dengan jalur mereka melaut,” tuturnya.

Suyasa menargetkan pekerjaan fisik dapat selesai pada bulan ini sehingga jaringan siap dioperasikan setelah seluruh tahapan perizinan rampung. “Kalau pekerjaan internal PDAM bisa kami hitung waktunya, tetapi untuk perizinan dan faktor eksternal lainnya tentu mengikuti prosedur yang ada dan kondisi alam,” katanya.

Suyasa menjelaskan bahwa pipa bawah laut akan menjadi bagian dari sistem distribusi baru yang disebut Sistem 5. Selama ini distribusi air dari estuary terbagi ke dalam empat sistem pelayanan yang melayani kawasan Tuban, Kuta, Kerobokan, dan jalur selatan. Melalui Sistem 5, kawasan timur Badung Selatan seperti Kampial, Sawangan, Pratama, hingga kawasan ITDC akan memperoleh jalur distribusi tersendiri.

“Sistem lima ini akan mengalirkan air langsung ke wilayah timur. Ke depan sistem ini bisa saling mendukung dengan sistem lainnya sehingga ketika ada gangguan pada satu jalur, pelayanan tetap bisa dibackup oleh sistem lain,” terangnya.

Menurutnya, manfaat proyek ini tidak hanya meningkatkan keandalan jaringan distribusi, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber air baku baru dari Tukad Mati yang telah mengantongi izin pengambilan hingga 300 liter per detik. “Air baku dari Tukad Mati sebesar 300 liter per detik itu seluruhnya akan kami kirim ke selatan melalui sistem ini. Dampaknya sangat besar terhadap pelayanan karena selain membantu pemenuhan kebutuhan pelanggan eksisting, juga memungkinkan penambahan pelanggan baru dan peningkatan jam layanan distribusi air,” tegasnya.

Ia menegaskan, tujuan utama proyek tersebut bukan semata-mata menambah jumlah pelanggan, melainkan memastikan masyarakat memperoleh layanan air bersih yang lebih andal dan berkelanjutan di tengah laju pembangunan yang terus meningkat.

Baca Juga:   Trofeo Fun Football Meriahkan HUT Korpri dan HUT Mangupura

Sementara itu, Manajer Distribusi Perumdam Air Minum Tirta Mangutama, Ketut Gede Suryawan menjelaskan bahwa air yang dialirkan melalui pipa bawah laut nantinya akan dibagi ke dalam dua sistem pelayanan, yakni wilayah barat dan wilayah timur.

Untuk jalur timur, distribusi akan difokuskan melayani kawasan Sawangan, ITDC, Tanjung Benoa hingga Kampial, sekaligus memperkuat pengamanan suplai menuju kawasan Pandawa dan sekitarnya. “Untuk yang jalur timur nanti akan melayani kawasan Sawangan, ITDC, Tanjung Benoa sampai Kampial. Termasuk untuk pengamanan suplai di area selatan yang mengarah ke Pandawa, mungkin sampai sekitar Kempinski. Jadi pembagiannya seperti itu,” ujarnya.

Di sisi lain, wilayah barat tetap menjadi perhatian, terutama kawasan Pecatu yang selama ini menghadapi tantangan distribusi cukup besar. Menurut Suryawan, kondisi pelayanan saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya setelah adanya tambahan debit sekitar 70 liter per detik.

“Dengan tambahan debit 70 liter per detik kemarin memang sangat membantu, tetapi persoalannya belum sepenuhnya selesai. Masih ada pelanggan yang belum bisa mendapatkan pengaliran selama 24 jam penuh. Ada yang menerima air sekitar 10 jam, namun paling tidak dalam satu hari mereka tetap terlayani,” katanya.

Ia menambahkan, sebelum adanya tambahan pasokan dari Tukad Mati, kapasitas distribusi menuju kawasan selatan sebenarnya sudah mendekati batas maksimal. “Saat ini pengaliran sudah jauh lebih baik, tetapi dengan tambahan debit dari Tukad Mati nanti kami berharap pelayanan ke kawasan selatan bisa semakin optimal,” jelasnya.

Menurutnya, potensi air baku Tukad Mati hingga 300 liter per detik merupakan solusi strategis untuk menjawab kebutuhan air bersih kawasan pariwisata Badung Selatan. Namun jika pertumbuhan kebutuhan terus meningkat dan pasokan tersebut masih belum mencukupi, maka teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau pengolahan air laut menjadi air bersih dapat menjadi opsi berikutnya. “Kalau nanti tambahan 300 liter per detik dari Tukad Mati masih belum mencukupi kebutuhan, maka jalan terakhir yang memang sudah sering didengungkan adalah SWRO,” tegasnya.

Manajer Perencanaan Umum, Penelitian dan Pengembangan Perumda Air Minum Tirta Mangutama, Eddy Surya Dharma mengungkapkan, progres pemasangan pipa bawah laut telah mencapai sekitar 70 persen dan menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. “Sebelumnya banyak kendala, terutama faktor cuaca dan kondisi air laut yang sering pasang sehingga menyulitkan secara teknis proses pemasangan pipa di bawah laut. Namun saat ini progresnya sudah sangat meningkat dan sudah menuju tahap penyambungan (connecting) dengan pipa existing di area exit tol,” ujarnya.

Baca Juga:   Pansus DPRD Badung Bahas Ranperda Perlindungan Hewan Penular Rabies

Setelah pemasangan pipa selesai, pekerjaan akan dilanjutkan dengan pemasangan cincin pemberat yang berfungsi menjaga stabilitas jaringan di dasar laut. “Pemasangan cincin pemberat ini cukup kompleks karena harus membawa pemberat ke lokasi pipa yang berada di bawah laut untuk kemudian dipasang satu per satu,” katanya.

Dari sisi perizinan, sebagian besar tahapan telah berjalan, termasuk terbitnya persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut (PKKPRL). Namun masih terdapat beberapa proses lanjutan yang harus dipenuhi, termasuk penyesuaian dokumen amdal sebagai syarat penerbitan izin bangunan instalasi laut yang telah terbangun. “Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah kesesuaian dokumen amdal yang telah dimiliki PDAM,” jelasnya.

Meski target awal penyelesaian proyek ditetapkan pada Mei 2026, berbagai kendala teknis dan faktor alam menyebabkan jadwal mengalami penyesuaian. Namun dengan progres yang kini mendekati 80 persen, pihaknya optimistis jaringan dapat terkoneksi pada akhir Juni 2026. “Harapannya akhir Juni ini sudah terkoneksi sehingga air bisa mulai dialirkan. Namun untuk pengaliran kepada pelanggan tetap harus menunggu penyelesaian beberapa izin yang masih berproses,” terangnya.

Eddy menambahkan, sejumlah izin strategis telah dipenuhi, mulai dari izin lintasan kawasan bandara, koordinasi dengan nelayan terdampak, pemanfaatan ruang laut, hingga perizinan dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional. Secara keseluruhan, proyek ini didukung berbagai dokumen penting seperti perjanjian kerja sama (PKS), izin pemanfaatan lahan Tahura Ngurah Rai, PKKPRL dari Kementerian Investasi dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta izin pemanfaatan bagian-bagian jalan nasional.

Total izin dan rekomendasi yang diperlukan mencapai sekitar 20 dokumen. “Secara garis besar seluruh proses perizinan pendukung terus kami penuhi agar proyek dapat segera beroperasi dan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” pungkasnya. (BC5)