Pembangunan PSEL Bali Dimulai, 1.200 Ton Sampah per Hari akan Disulap Jadi Energi Listrik

0
2
PSEL
Gambaran pembangunan PSEL di Bali yang mulai dibangun. (ist)

balibercerita.com –
Persoalan sampah yang selama bertahun-tahun membayangi Bali akhirnya mulai mendapat solusi konkret. Pemerintah pusat resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Pedungan, Denpasar Selatan.

Fasilitas ini ditargetkan mampu mengolah 1.200 ton sampah per hari menjadi energi listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPA Suwung yang telah mengalami kelebihan kapasitas. Pembangunan fasilitas modern tersebut ditandai dengan groundbreaking yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama para pemangku kepentingan strategis pada Rabu (8/7)

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat menegaskan, proyek ini menjadi implementasi perdana Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan. Pembangunan PSEL merupakan bagian dari transformasi besar pengelolaan sampah nasional yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga tetap mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya melalui pendekatan pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang.

Kehadiran PSEL di Bali dinilai sangat penting mengingat timbulan sampah gabungan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung mencapai sekitar 1.600 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sebanyak 72,18 persen masih dibuang ke tempat pemrosesan akhir. Melalui fasilitas ini, sebanyak 1.200 ton sampah per hari akan diolah menjadi energi terbarukan, sementara sisanya ditangani melalui sistem reduce, reuse, recycle (3R).

Baca Juga:   Perketat Pengawasan Sampah Liar, Kuta Pasang CCTV hingga Siapkan Truk Penyisir

“PSEL ini yang terdata di kami kira-kira ke depannya ada 34 aglomerasi yang meng-cover sekitar 60–70 kabupaten/kota di Indonesia. Sehingga alhamdulillah dengan PSEL ini setidaknya 60–70 kabupaten/kota selesai masalah sampahnya. Namun, masih ada sekitar 480 kabupaten/kota yang timbulan sampahnya tidak mencapai 1.000 ton per hari dan ini tetap harus menjadi perhatian dan tanggung jawab pemerintah daerah serta secara nasional Kementerian Lingkungan Hidup tentunya,” ujar Jumhur.

Ia menjelaskan, teknologi PSEL merupakan solusi yang efektif untuk wilayah dengan timbulan sampah besar seperti Bali. Sementara, daerah dengan volume sampah lebih kecil tetap didorong mengoptimalkan pengelolaan dari sumber, menerapkan ekonomi sirkular, serta memanfaatkan teknologi yang sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.

Baca Juga:   Kerja Ilegal sebagai Terapis Spa di Kuta, Empat Wanita Vietnam Dideportasi

Proyek strategis nasional ini juga mendapat dukungan penuh dari Danantara Indonesia. Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani menyebut groundbreaking PSEL Bali sebagai momentum bersejarah karena menjadi proyek pertama dalam program nasional waste to energy yang dijalankan Danantara.

“Tentunya pada pagi hari ini menurut kami adalah hari yang sangat bersejarah karena pertama kali di dalam program Danantara terkait waste to energy atau PSEL ini groundbreaking pertama di Bali. Tentu kami sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat di dalamnya, karena sesuai arahan Pak Presiden Prabowo bahwa persoalan sampah ini adalah problem kita dan harus kita selesaikan sesegera mungkin dan secepatnya,” kata Rosan.

Baca Juga:   KLH Soroti Aktivitas Tambang yang Ancam Ekosistem Raja Ampat

Selain mengurangi timbunan sampah secara signifikan, fasilitas ini juga diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. PSEL Bali diperkirakan mampu menyerap sekitar 1.200 tenaga kerja hijau (green jobs), menurunkan emisi karbon, serta mendorong tumbuhnya ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan apresiasi atas kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak yang telah mewujudkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern tersebut. “Mudah-mudahan kolaborasi yang baik ini, apa yang dimulai hari ini akan berjalan lancar, dan semoga bisa selesai tepat waktu bahkan lebih cepat dari target,” ujar Koster.

Pembangunan PSEL di Bali diharapkan menjadi model pengelolaan sampah perkotaan modern bagi daerah lain di Indonesia. Selain mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir, fasilitas ini juga menjadi langkah nyata dalam menekan emisi gas rumah kaca, memperkuat ketahanan energi bersih, serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. (BC5)