balibercerita.com –
Kecamatan Kuta Selatan meninggalkan kenangan khusus bagi sang mantan camat, Ketut Gede Arta. Pria yang kini menjabat Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Badung itu mengakui bahwa Kuta Selatan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya.
Bagi Arta yang pernah enam tahun lebih menjabat camat di wilayah tersebut, Kuta Selatan bukan sekadar tempat bertugas, melainkan rumah kedua yang menyimpan banyak kesan, tantangan, sekaligus pembelajaran berharga. Arta menyebut, Kuta Selatan adalah kawasan yang berkembang sangat pesat dengan dinamika yang tinggi. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi yang terus melaju harus diimbangi dengan penguatan pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan yang baik.
“Fungsi kecamatan adalah pelayanan. Karena itu yang harus terus diperkuat adalah layanan dasar masyarakat, tindak lanjut pengaduan, dan berbagai pelayanan publik lainnya dalam rangka mewujudkan good government,” ujarnya.
Menurutnya, pesatnya perkembangan sebuah wilayah selalu diikuti berbagai persoalan yang harus diantisipasi bersama. Mulai dari kemacetan lalu lintas, persoalan sosial, keberadaan gelandangan dan pengemis, praktik gacong, hingga penanganan banjir yang menjadi perhatian masyarakat.
“Daerah yang sedang bertumbuh biasanya banyak persoalan. Karena itu penguatan pelayanan harus dilakukan agar tujuan akhirnya, yaitu mewujudkan pariwisata yang berkualitas, bisa tercapai,” katanya.
Selama memimpin Kuta Selatan, berbagai program dan inovasi telah dijalankan. Namun, Arta menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak bergantung pada satu figur semata, melainkan pada sistem yang sudah dibangun dan terus dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.
“Program itu tidak bergantung pada satu orang. Sistem yang berjalan tinggal dikembangkan sesuai perkembangan situasi dan kebutuhan masyarakat. Karena kebutuhan masyarakat terus berubah, pemerintah juga harus jeli melihat persoalan yang muncul,” jelasnya.
Meski menyadari belum seluruh harapan masyarakat dapat dipenuhi secara maksimal, Arta mengaku bersyukur dapat memberikan manfaat selama bertugas di Kuta Selatan. “Mungkin masih ada yang belum bisa kami penuhi sesuai harapan masyarakat. Tapi saya merasa senang kalau bisa bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.
Salah satu hal yang paling membekas baginya adalah karakter masyarakat Kuta Selatan yang kritis dan memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan daerah. Alih-alih menganggap kritik sebagai hambatan, ia justru melihatnya sebagai modal besar untuk membangun wilayah secara bersama-sama.
“Yang penting kita tidak boleh berbohong. Kritik itu bukan persoalan. Justru itu potensi karena artinya masyarakat peduli terhadap kemajuan daerahnya. Banyak masukan dan motivasi yang bisa kita jadikan modal untuk bergerak bersama,” tegasnya.
Baginya, tingginya partisipasi masyarakat menjadi kekuatan utama dalam mendorong berbagai inovasi pemerintahan. Semakin kompleks persoalan yang dihadapi, semakin besar pula dorongan untuk mencari solusi dan terobosan baru.
“Kuta Selatan bukan daerah yang menantang, tetapi daerah yang sangat berkesan. Tempat yang kangenin. Masyarakatnya dinamis, partisipasinya tinggi, dan persoalannya juga tinggi. Justru dari situ muncul semangat untuk terus berinovasi,” katanya.
Arta meyakini bahwa keberhasilan pembangunan tidak lahir dari sosok hebat seorang diri, melainkan dari kemampuan membangun kolaborasi. “Tidak ada orang hebat. Yang ada adalah orang-orang yang mampu berbuat bersama-sama. Kolaborasi itulah yang menjadi kunci membangun daerah,” pungkasnya. (BC5)


















