balibercerita.com –
Semangat regenerasi dan kolaborasi di wilayah Jimbaran kembali menguat. I Nyoman Sudiartika resmi terpilih kembali sebagai Kelian Adat Banjar Perarudan untuk masa bakti berikutnya, melalui proses pemilihan yang berlangsung aman, tertib, dan penuh suasana kekeluargaan.
Sudiartika, sosok yang dikenal berpengalaman sekaligus terbuka terhadap inovasi, menegaskan bahwa amanah ini bukan sekadar tanggung jawab pribadi, melainkan bentuk kepercayaan bersama seluruh krama Banjar Perarudan. “Ini bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi kemenangan seluruh krama Banjar Perarudan. Kami ingin memastikan adat tetap kokoh, sambil terus membuka ruang bagi generasi muda untuk berkarya,” ujarnya, Senin (10/11).
Menariknya, pemilihan kelian adat ini berlangsung bersamaan dengan terpilihnya I Made Dharmayasa sebagai Kepala Lingkungan (Kaling) Perarudan. Tokoh muda yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan kepemudaan tersebut dinilai membawa semangat baru dalam pengelolaan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat.
Dharmayasa menyambut baik hasil pemilihan tersebut dan menyatakan siap membangun sinergi bersama Sudiartika. “Kolaborasi ini akan menjadi kunci kemajuan. Dengan sinergi antara tokoh senior dan generasi muda, Banjar Perarudan bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di Jimbaran,” tegasnya.
Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta menyambut positif terpilihnya dua figur ini. Ia menilai kolaborasi antara Sudiartika dan Dharmayasa menjadi bukti nyata bahwa regenerasi kepemimpinan adat dan lingkungan berjalan sehat di tingkat banjar.
“Kehadiran dua figur muda seperti saudara Dharmayasa dan Sudiartika menunjukkan bahwa proses kepemimpinan di tingkat banjar dan lingkungan berjalan sangat baik. Saya berharap sinergi ini menjadi contoh bagaimana nilai-nilai adat dan tata kelola pemerintahan modern bisa berjalan beriringan demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Kehadiran duet Sudiartika–Dharmayasa di Banjar Perarudan diharapkan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Jimbaran. Sinergi antara pengalaman dan semangat muda menjadi modal kuat untuk memperkuat adat, mempererat persaudaraan, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan berbasis budaya lokal. (BC5)

















