Kuta Culture Weekend, Cara Asyik Menikmati Budaya Sambil Nonton Sunset di Pantai Kuta

0
210
Kuta
Suasana Kuta Culture Weekend. (ist)

balibercerita.com –
Desa Adat Kuta kembali menghidupkan denyut seni dan budaya lokal melalui gelaran Kuta Culture Weekend, sebuah acara budaya terbuka yang digelar setiap hari Minggu di akhir bulan. Bertempat di panggung terbuka Majelangu, kawasan Pura Segara Desa Adat Kuta, acara ini terbuka untuk umum dan bisa dinikmati secara gratis oleh wisatawan maupun warga lokal.

Gelaran perdana berlangsung pada Minggu (31/8), pukul 17.00 Wita, dan langsung mencuri perhatian para wisatawan yang tengah menikmati senja di Pantai Kuta. Dengan latar laut dan langit jingga, pertunjukan budaya ini menjadi pelengkap pengalaman wisata yang unik dan berkesan.

“Dulu kegiatan serupa digelar tiap Minggu, tapi karena faktor cuaca dan kendala lainnya, kami evaluasi. Sekarang formatnya sebulan sekali, dengan nama baru, Kuta Culture Weekend,” ujar I Gusti Made Dharma Putra, Koordinator Tim Kesenian Desa Adat Kuta, Senin (1/9).

Baca Juga:   Tambah Daya Tarik Kuta, Desa Adat Rancang Tiga Segmen Penataan

Tidak hanya menampilkan tari dan gamelan Bali, Kuta Culture Weekend juga membuka ruang untuk seni rupa dan sastra. Dalam edisi perdananya, Sanggar Segara Manik Kuta membuka acara dengan pertunjukan tari, disusul oleh pameran seni rupa dan sastra yang memperkaya suasana menjelang sunset.

Empat seniman lokal memamerkan proses pembuatan tapel (topeng). Sementara, anak-anak dari seluruh wilayah Desa Adat Kuta terlibat dalam latihan menulis aksara Bali di atas lontar, berkolaborasi dengan penyuluh Bahasa Bali. Hal ini memperlihatkan upaya pelestarian budaya secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi pertunjukan.

Antusiasme pengunjung pun tinggi. Banyak wisatawan yang duduk santai di tepi pantai, menikmati pertunjukan sambil menunggu matahari terbenam. Tak sedikit pula yang terlibat langsung dengan para seniman.

Baca Juga:   Pemberdayaan Seniman Lokal di The Nusa Dua Festival 2025: Merajut Harmoni Budaya Bali

“Ada wisatawan yang bahkan langsung membeli karya seniman rupa di tempat. Ini bukti bahwa acara seperti ini bukan hanya jadi hiburan, tapi juga ruang transaksi budaya,” ungkapnya.

Inisiatif ini lahir dari Desa Adat Kuta melalui kepemimpinan jro bendesa, sebagai bagian dari strategi memperkaya pariwisata Kuta dengan nilai-nilai budaya lokal. Setelah sebelumnya sempat menerapkan sistem tiket, kini seluruh biaya ditanggung desa adat agar acara bisa diakses secara inklusif dan merata.

“Kami ingin budaya menjadi bagian dari wajah pariwisata Kuta. Karena itu, tim kesenian didorong untuk membuat kegiatan yang menarik, tanpa meninggalkan akar budaya lokal,” tambahnya.

Baca Juga:   JBT Antisipasi Lonjakan Wisatawan Saat Libur Lebaran 2024

Ke depan, Kuta Culture Weekend akan melibatkan lebih banyak sanggar seni dan seniman muda lokal secara bergilir setiap bulannya. Tak hanya itu, pelibatan UMKM kuliner seperti penjual sate lilit, jaja Bali, hingga babi guling juga direncanakan untuk menambah daya tarik acara.

Promosi acara akan diperkuat melalui media sosial dan kolaborasi dengan hotel serta restoran di kawasan Kuta, guna menjangkau wisatawan yang lebih luas. “Harapan kami, Kuta dikenal tidak hanya sebagai destinasi pantai, tetapi juga sebagai ruang ekspresi budaya. Kuta Culture Weekend ini adalah langkah nyata dari desa adat untuk menjaga dan menghidupkan semangat berkesenian di kalangan generasi muda,” imbuhnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini