Kisah Mantan Pengguna Narkoba Jadi Penekun Spiritual

0
338

Mangku Pande terus mencoba mendalami perannya sebagai pemangku di lingkup keluarga, sekaligus menjalankan usada atau pengobatan tradisional Bali. Di tengah ketekunan usaha menemukan cahaya hakiki, Mangku Pande menyadari jalan yang dilaluinya teramat panjang dan terjal. Ada banyak cobaan dan rintangan menghadang. Berbagai persoalan hidup masih silih berganti datang.

Di tengah keresahan atas berbagai permasalahan yang muncul, dia mendapat mimpi tentang perjalanan spiritual berikutnya. Dalam mimpinya ia didatangi sosok tua yang mengatakan, sudah saatnya memperdalam ajaran agama. Mangku Pande diberikan dua pilihan tempat yakni di hutan atau di pura. “Waktu di mimpi saya diam, tak menjawab. Tapi ketika bangun, saya matur akan di pura, agar bisa tahu kondisi keluarga dan tetap bertanggung jawab atas keluarga,” ujarnya sembari menambahkan, pura yang dimaksud adalah Pura Watu Klotok.

Baca Juga:   Patirtan di Kaki Gunung Semeru, Air Sucinya Digunakan untuk Ritual Besar di Bali

Perjalanan dari Singaraja menuju Pura Watu Klotok pun tidak mudah. Kesulitan ekonomi membuatnya berbekal uang hanya Rp 40 ribu. Saat perjalanan mencapai Munduk, sepeda motornya mati. Sedikit kesal, motor lantas didorongnya sampai menemukan bengkel. Setelah dicek, ternyata olinya habis. Uang di dompetnya pun ludes untuk membeli oli. Meski begitu, Mangku Pande tetap melanjutkan perjalanan.

Baca Juga:   Magisnya Tari Baris Panah Desa Adat Bungaya

Apesnya, selang beberapa kilometer dari bengkel tersebut, motornya kembali mati. Kali ini, giliran bensin yang habis. Kali ini pula Mangku Pande nyaris patah semangat. Dia berpikir, demikian berat jalan kebajikan itu. Sekitar satu jam dilanda kekalutan, harapan kembali muncul. Mangku Pande bertemu dengan kawannya yang lantas membantu membelikan bensin. Tekadnya kembali membara. Tujuan harus tercapai. Selama perjalanan, doa terus terucap. “Jika ini adalah tuntunan-Nya, maka saya akan sampai tujuan,” katanya.

Sesampainya di Pura Watu Klotok, Mangku Pande tak berhenti mengucap syukur. Terlebih ketika bertemu Jero Mangku Gede, Pemangku Pura Watu Klotok, dan pengayah lainnya yang sedemikian terbuka dan telah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.

Baca Juga:   Karya Mapadudusan dan Ngenteg Linggih di Pura Anyar Desa Adat Umahanyar

Di Pura Watu Klotok, tempatnya menjalani yasa kerthi, ia belajar memperbaiki diri. Kesempatan ngayah digunakannya untuk merenungi diri, menurunkan ego dan emosi. Baginya, ngayah di pura bukan untuk mencari status atau pengakuan. Di pura ini pula, ia melihat banyak orang yang hidupnya lebih susah dibandingkan dirinya. Hal itu menyadarkannya untuk selalu bersyukur atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah diberikan kesempatan memperbaiki diri. (BC13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini