balibercerita.com –
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali yang terletak di Kota Denpasar secara resmi dinyatakan siap beroperasi. Kesiapan kawasan seluas 498 hektar yang dikembangkan oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23/2023 tersebut dikukuhkan melalui Surat Keputusan Dewan Nasional KEK No. 7/2024 tertanggal 26 Juni 2024.
Kepastian ini diungkapkan jajaran pimpinan PT BTID saat menerima Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi XII DPR RI Masa Sidang V Tahun Sidang 2025–2026 yang didampingi perwakilan Pemerintah Provinsi Bali di KEK Kura Kura Bali (Turtle Island), Denpasar, Kamis (23/7). Kunker reses Komisi XII DPR RI diterima Presiden Direktur PT BTID, Tuti Hadiputranto dan Presiden Komisaris PT BTID, Tantowi Yahya.
Presiden Direktur PT BTID, Tuti Hadiputranto menjelaskan bahwa status KEK memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan bagi para investor melalui penyediaan berbagai insentif fiskal, termasuk tax holiday, yang berlaku hingga jangka waktu 20 tahun. Sebagai hub strategis pariwisata berkelanjutan dan industri kreatif, hingga triwulan II-2026, KEK Kura Kura Bali mencatatkan realisasi investasi kumulatif sebesar Rp1,79 triliun (sekitar USD 113,68 juta). Sementara itu, secara keseluruhan total investasi pembangunan di kawasan tersebut sejak awal proses pengusulan KEK telah mencapai angka fantastis sebesar Rp2,85 triliun (USD 184,53 juta).
“Bahwa kita adalah kawasan ekonomi khusus yang disusun formasinya untuk pariwisata dan industri kreatif. Karena kita KEK, kita bisa mendapatkan berbagai macam insentif seperti tax holiday dan lain-lainnya sehingga insentif itu dapat kita nikmati selama 20 tahun. Saat ini kita sudah dinyatakan oleh Dewan Nasional KEK siap untuk beroperasi,” ujar Tuti.
Dalam pengembangannya, KEK Kura Kura Bali mengusung filosofi 6L (Living, Learning, Leisure, Landscape, Lifestyle, dan Longevity) yang menyelaraskan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana). Selain kemudahan insentif, Tuti membeberkan rekam jejak panjang transformasi lingkungan di kawasan KEK Kura Kura Bali yang memakan waktu lebih dari satu dekade. Lahan yang semula didominasi karang dan pasir yang kering kerontang berhasil disuburkan kembali melalui metode penyuburan tanah alami memanfaatkan kotoran ternak, sebelum akhirnya ditanami ratusan ribu pepohonan.
“Bagaimana hijaunya tempat ini? Lahan ini dulunya kering kerontang karena hanya berisi karang dan pasir. Apa yang kami lakukan adalah melepas ratusan kerbau dan sapi secara liar di sini. Dari kotoran sapi dan kerbau tersebut, tanah ini menjadi subur. Akhirnya kami membeli dan menanam 700.000 pohon di sini. Membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk melakukan ini, jadi memang tidak bisa cepat,” ungkap Tuti.
Kawasan ini juga menjadi habitat bagi lebih dari 160 hingga 170 jenis burung migrasi serta memiliki 80 pura aktif yang tetap dimanfaatkan masyarakat lokal. Selain itu, terdapat area mangrove seluas 300 hektar di kawasan tersebut. Selain dikelola oleh pengembang, sebagian area mangrove akan dikembangkan menjadi Mangrove Center bekerja sama dengan pemerintah dan Universitas Indonesia (UI). Di samping itu, PT BTID juga telah menjalin kolaborasi internasional dengan Conservation International.
Dari sisi aksesibilitas, KEK Kura Kura Bali menawarkan keunggulan konektivitas yang terintegrasi dengan pusat-pusat kegiatan di Bali. Terhubung dengan jaringan jalan tol, kawasan ini dapat dijangkau bebas macet dari berbagai titik vital.
Dampak ekonomi keberadaan kawasan ini langsung dirasakan oleh masyarakat setempat. Hingga saat ini, KEK Kura Kura Bali telah menyerap tenaga kerja sebanyak 5.316 orang, di mana lebih dari 50% diantaranya merupakan warga lokal Bali, khususnya dari Desa Serangan. Dalam menjalankan operasional kawasan, PT BTID bertindak sebagai Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) yang memfasilitasi kebutuhan para investor, sedangkan pembangunan fisik sarana dilakukan oleh masing-masing pelaku usaha. Saat ini terdapat 3 pelaku usaha utama yang beroperasi di kawasan tersebut.
Beberapa proyek strategis yang dikembangkan antara lain Kura-Kura Development: Pembangunan sekolah swasta internasional berkualifikasi tinggi bekerja sama dengan institusi dari Singapura. Seperti ACS serta UUD Campus, kawasan komersial outlet & gedung pertemuan meliputi pengembangan area komersial dan ruang konvensi. Salah satunya yang akan dilaunching yakni Outlet Sira Village. Ketiga, kawasan residensial yakni pembangunan hunian eksklusif (residence).
Sementara itu, Presiden Komisaris PT BTID, Tantowi Yahya menegaskan bahwa pengembangan KEK Kura Kura Bali yang telah dirintis sejak tahun 1994 memegang teguh filosofi kebudayaan lokal Bali sebagai landasan utamanya. Dengan kesiapan infrastruktur, komitmen pelestarian lingkungan, penyerapan tenaga kerja lokal yang tinggi, serta capaian investasi yang terus meningkat, KEK Kura Kura Bali optimistis menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi hijau berbasis pariwisata berkelanjutan dan industri kreatif di Pulau Dewata. (BC18)


















