Tabanan, balibercerita.com –
Akademisi dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. menggagas Gerakan Literasi Akar Rumput. Sebuah gerakan membumikan semangat literasi di tengah masyarakat.
Berbasis di Desa Batungsel, Kabupaten Tabanan, gerakan ini tumbuh dari kesadaran akan pentingnya literasi. Filosofi “akar rumput” diangkat bukan tanpa makna. Layaknya rumput yang tumbuh dari bawah namun mampu menyebar luas, program ini diharapkan mampu menjangkau banyak kalangan, dimulai dari ruang-ruang kecil di desa.
Gerakan ini lahir di tahun 2008. Saat itu, Dr. Artika menyadari rendahnya minat baca masyarakat, terutama anak-anak. Alih-alih menunggu perubahan dari atas, ia memilih bertindak langsung. Meski membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan masyarakat, tekadnya tak surut.
Puncaknya, sejak tahun 2017, komunitas ini mulai berjalan stabil dengan keikutsertaan puluhan anak-anak dari berbagai jenjang sekolah, serta dukungan dari guru-guru setempat. Setiap Minggu, tanpa pamrih, ia mendampingi anak-anak belajar dan berdiskusi. Literasi di sini bukan sekadar membaca buku, tetapi menjadi gerbang untuk berpikir kritis dan memahami dunia.
Bahkan, materi numerasi juga dikemas secara kreatif melibatkan data pribadi seperti tinggi badan dan tahun lahir yang dijadikan bahan diskusi dan tulisan. Sebuah pendekatan sederhana, tetapi sangat membumi dan kontekstual.
Menariknya, seluruh kegiatan ini dilakukan tanpa biaya. Tidak ada pungutan, tidak ada paksaan. Yang ditanamkan adalah nilai. Bagi Dr. Artika, literasi adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini, tetapi benih yang ia tanam bisa saja menjadi pohon pengetahuan yang kokoh di masa depan.
Sebagai akademisi, gerakan ini adalah wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat. Apa yang dimulai dari sebuah desa kecil kini telah menginspirasi banyak pihak, termasuk Balai Bahasa Bali, sekolah-sekolah, dan komunitas literasi lainnya. Bahkan, bantuan buku pun mulai berdatangan sebagai bentuk dukungan moral dan material.
Selain di tanah kelahirannya, gerakan literasinya menyebar luas ke sekolah-sekolah. Dr. Artika kerap diundang sebagai pembicara dalam kegiatan seminar. Ruang ini dijadikannya sebagai momentum untuk mendiseminasikan pengalamannya yang telah dirajut selama bertahun-tahun. Bahkan, perhatian seriusnya terhadap dunia literasi menjadikannya dilirik sebagai penerima CSR perpustakaan dari Bank Indonesia. (BC13)














