Badung Siapkan Terowongan 2,4 Km, Hubungkan Gatsu Barat-Canggu hingga Werdi Bhuwana

0
16
Terowongan Gatsu Barat
I Wayan Adi Arnawa. (ist)

balibercerita.com –
Pemkab Badung mulai menyiapkan terobosan baru untuk mengurai persoalan kemacetan dengan merancang pembangunan jalan bawah tanah. Infrastruktur berupa terowongan ini nantinya diproyeksikan menjadi jalur alternatif dari kawasan Jalan Gatot Subroto (Gatsu) Barat menuju sejumlah wilayah seperti Canggu, Mengwitani, hingga Werdi Bhuwana.

Proyek tersebut belum akan dikerjakan dalam waktu dekat. Pemkab Badung menargetkan proses pembebasan lahan dimulai pada 2027, kemudian pembangunan fisik dilaksanakan pada 2028 dengan harapan seluruh pekerjaan dapat rampung pada akhir tahun.

Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa mengatakan, tahapan pembebasan lahan menjadi bagian penting sebelum konstruksi dimulai. Pemkab Badung kini juga mulai mematangkan konsep teknis pembangunan terowongan tersebut.

Rencana ini muncul karena kondisi kawasan sepanjang koridor Gatsu Barat menuju Canggu sudah semakin padat oleh berbagai pembangunan, termasuk permukiman dan perumahan. Kondisi tersebut membuat pembangunan jaringan jalan baru di atas permukaan menjadi lebih sulit dilakukan. Oleh karena itu, pemerintah daerah mempertimbangkan pemanfaatan teknologi terowongan sebagai solusi untuk menyediakan akses baru tanpa harus sepenuhnya bergantung pada ruang yang tersedia di permukaan.

Baca Juga:   Baru Dua Jam Ditertibkan, PKL Kembali Berjualan di Bundaran Dalung Permai

“Jadi nanti kita rancang pembangunan terowongan itu sepanjang 2,4 kilometer. Jadi dari kawasan Gatot Subroto menuju arah barat. Setelah keluar dari terowongan, jaringan jalan akan memiliki akses menuju Canggu ke arah kiri dan ke arah kanan menuju Mengwitani dan Werdi Bhuwana,” ujar Adi Arnawa.

Untuk mematangkan rencana tersebut, Pemkab Badung telah menggandeng konsultan dari Shanghai. Konsultan tersebut diberi waktu sekitar tiga minggu untuk menyusun kajian awal, terutama terkait aspek teknis serta bentuk pembangunan terowongan yang akan diterapkan.

Baca Juga:   Pemerintah Awasi Ketat Jual Beli Sapi di Pasar Beringkit

Menurut Adi Arnawa, jika terealisasi, proyek tersebut akan menjadi salah satu pembangunan infrastruktur yang mengadopsi teknologi baru di Indonesia. Meski demikian, Pemkab Badung membuka kemungkinan adanya mekanisme pembayaran bagi kendaraan yang nantinya melintasi jalur tersebut.

Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah penerapan electronic road pricing (ERP). Sistem ini memungkinkan pengguna jalan membayar tarif tertentu secara elektronik ketika menggunakan infrastruktur tersebut. “Nanti kita Pemkab Badung membuka opsi penerapan electronic road pricing (ERP) atau sistem pembayaran elektronik bagi kendaraan yang menggunakan jalan tersebut. Dengan konsep tersebut, pengguna jalan nantinya akan dikenakan tarif tertentu,” paparnya.

Baca Juga:   Perkuat Kawasan Hijau Berkelanjutan, Nuanu Tanam 1.000 Pohon Lokal

Kendati demikian, besaran tarif belum ditetapkan. Pemkab Badung masih menunggu hasil kajian teknis dan proses perencanaan lebih lanjut sebelum menentukan skema yang akan diterapkan.

Adi Arnawa menegaskan, rencana penerapan ERP tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan pendapatan daerah. Kebijakan tersebut juga dipertimbangkan sebagai instrumen untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah kendaraan sekaligus menjaga dampak pembangunan infrastruktur terhadap kondisi lahan. Pasalnya, jalur baru tersebut dirancang melintasi kawasan yang masih memiliki area persawahan.

Pemerintah ingin penambahan infrastruktur tidak justru mendorong terjadinya perubahan fungsi lahan secara besar-besaran. “Di satu sisi pelayanan infrastruktur jalan kita dapatkan, di sisi lain kita tetap bisa menjaga lahan tidak terjadi alih fungsi lahan yang masif,” jelasnya. (BC9)