Asal-usul Berdirinya Pura Goa Gong

0
154
Pura Goa Gong
Sejumlah umat bersembahyang di Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong. (BC5)

Mangupura, balibercerita.com –

Asal-usul berdirinya Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong atau yang lebih dikenal dengan Pura Goa Gong dapat ditemukan dalam lontar Dwijendra Tattwa. Pura yang berlokasi di Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung ini dahulunya merupakan salah satu tempat pertapaan Dang Hyang Nirartha saat menelusuri pesisir Pulau Dewata.

Pemangku Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jro Mangku Made Sukanta mengungkapkan, konon, saat perjalanan menuju Uluwatu, Dang Hyang Nirartha yang juga dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra, mendengar suara gong. Ia kemudian mencari sumber suara tersebut, tapi tak kunjung ditemukan. Di tengah pencarian, Dang Hyang Nirartha beristirahat dan bertapa di suatu tempat yang kelak bernama Pura Kayu Sugih. Di pura inilah ia mendapatkan wahyu mengenai sumber suara gong yang didengarnya.

Baca Juga:   Magisnya Tari Sang Hyang Jaran di Desa Adat Kutuh 

Saat kembali melanjutkan perjalanan, tidak jauh dari Pura Kayu Sugih, Dang Hyang Nirartha diadang naga. Pertarungan pun tak terelakkan yang akhirnya dimenangkan Dang Hyang Dwijendra. Sang naga lantas memohon penyucian diri dari Dang Hyang Nirartha agar bisa menuju Sunia Loka. Lokasi tersebut kemudian dikenal dengan nama Pura Taman Goa Peteng.

Tak berapa lama, Dang Hyang Dwijendra kembali melanjutkan perjalanan hingga menemukan sebuah gua. Di dalam gua terdapat sebuah batu atau stalaktit berukuran besar yang setelah dipukul menimbulkan suara seperti gong. Inilah asal usul penamaan Pura Goa Gong. Hingga saat ini, masyarakat meyakini bahwa Pura Goa Gong merupakan tempat memohon kesembuhan khususnya bagi anak-anak yang mengalami keterlambatan atau gangguan bicara.

Baca Juga:   Ritual Nangluk Merana dan Mapakelem di Pura Masceti Ulun Tanjung Petitenget

Di gua itulah Dang Hyang Dwijendra melakukan tapa brata. Tak berapa lama, muncul para gamang yang memohon panyupatan atau penyucian. Permohonan ini dikabulkan oleh Dang Hyang Dwijendra, tapi dengan syarat para gamang harus membantunya dalam membangun tempat suci di Uluwatu.

Sementara itu, mengenai asal-usul nama Pura Luwur Gunung Kukus, disebutkan bahwa pada saat terjadinya kudeta di kerajaan Gelgel, Ida Dalem Dimade atau Gusti Agung Maruti melarikan diri ke kawasan ini. Di sinilah ia melakukan tapa brata hingga mendapatkan anugerah keris bintang kukus. “Makanya, pura ini juga disebut dengan Pura Luwur Gunung Kukus,” kata Jro Mangku Made Sukanta.

Baca Juga:   Pujawali di Pura Luhur Uluwatu "Nyejer" Selama Tiga Hari 

Ada sejumlah pantangan bagi umat yang ingin bersembahyang di pura ini. Selain pantangan yang umum berlaku di semua pura atau tempat suci umat Hindu di Bali, di pura ini juga tidak direkomendasikan untuk tangkil pada hari Rabu. Pintu masuk gua akan ditutup dan dikunci, para pemangku pun tidak ngayah saat hari itu. Sementara, untuk piodalan di pura ini berlangsung tiap Soma Pon Sinta atau lebih dikenal oleh masyarakat Bali sebagai Soma Ribek. (BC13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini