balibercerita.com –
Memasuki musim libur sekolah yang bertepatan dengan potensi gelombang tinggi di perairan selatan Bali, UPTD Penyelamatan Wisatawan (Lifeguard) Kecamatan Kuta meningkatkan patroli dan pengawasan di sepanjang kawasan Pantai Kuta. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kecelakaan laut sekaligus memberikan rasa aman bagi wisatawan yang memadati destinasi pesisir Badung.
Kepala UPTD Penyelamatan Wisatawan (Lifeguard) Kecamatan Kuta, Wayan Somer mengatakan, pengawasan diperketat di sejumlah titik rawan mulai dari Pantai Jerman hingga Pantai Mengening. Personel lifeguard dibagi ke arah utara dan selatan guna memastikan seluruh kawasan wisata pantai tetap terpantau.
“Selama ada peringatan gelombang tinggi dalam beberapa hari ke depan, kami mengimbau seluruh masyarakat, wisatawan, dan pengguna jasa pantai agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan pesisir,” ujarnya, Selasa (30/6).
Menurut Somer, keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama. Karena itu, wisatawan diminta tidak berenang di area yang telah dipasangi bendera merah atau ditetapkan sebagai zona berbahaya. Sebaliknya, aktivitas berenang hanya disarankan dilakukan di area yang dipasangi bendera merah-kuning karena berada dalam pengawasan petugas penyelamat.
Perhatian khusus juga ditujukan kepada wisatawan yang membawa anak-anak. Orang tua diminta tidak lengah saat anak bermain di bibir pantai mengingat karakteristik Pantai Kuta dan kawasan pesisir barat Badung memiliki gelombang tinggi serta arus laut yang cukup kuat, terutama saat musim angin timur.
Imbauan tersebut disampaikan berkaca pada peristiwa hilangnya dua anak di Pantai Kuta yang hingga kini masih dalam pencarian. Kejadian itu menjadi pengingat bahwa risiko di kawasan pantai tidak boleh dianggap sepele meskipun terlihat aman dari bibir pantai.
Sebagai langkah mitigasi, lifeguard secara rutin memasang bendera merah di kawasan yang memiliki arus berbahaya dan bendera merah-kuning pada zona yang relatif aman untuk berenang. Selain melakukan patroli, petugas juga aktif memberikan edukasi dan imbauan langsung kepada wisatawan mengenai kondisi laut terkini.
Somer menjelaskan keberadaan breakwater di beberapa titik pantai turut memengaruhi pola arus laut. Air laut dapat masuk melalui sela-sela struktur pemecah ombak, kemudian berputar sebelum kembali ke laut lepas sehingga berpotensi menimbulkan arus tarik yang cukup kuat.
“Lifeguard juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri melakukan aktivitas laut seperti berenang, berselancar maupun menggunakan kano apabila kondisi gelombang dinilai membahayakan. Jika merasakan arus semakin kuat atau ombak tiba-tiba membesar, segera keluar dari air dan menuju area aman,” katanya.
Apabila terjadi keadaan darurat atau membutuhkan pertolongan saat berada di laut, pengunjung diminta segera melambaikan tangan ke atas agar petugas dapat dengan cepat mengetahui lokasi korban dan melakukan penyelamatan.
Menurut Somer, periode Juli hingga Agustus merupakan musim gelombang besar di kawasan pantai barat Badung karena dipengaruhi angin timuran atau Monsun Australia. Meski demikian, perubahan kondisi laut tetap sangat bergantung pada faktor cuaca dan dinamika alam. “Kami terus memantau perkembangan arus dan angin sebagai dasar pelaksanaan patroli,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan kunjungan selama libur sekolah, patroli difokuskan pada siang hingga sore hari. Berdasarkan pemantauan petugas, jumlah wisatawan biasanya meningkat signifikan menjelang sore ketika pengunjung datang untuk menikmati suasana pantai dan matahari terbenam. (BC5)



















