Mangupura, balibercerita.com –
Hari itu, langit Kuta Selatan berwarna biru cerah. Angin tipis menggeser dedaunan, dan suasana Perumahan Kori Nuansa berjalan seperti biasa, tenang, rapi, steril. Hingga suara langkah kecil dan lompatan ringan memecah keheningan dari arah pepohonan.
Satu per satu, sosok-sosok kecil berbulu muncul dari balik semak. Bukan manusia, bukan pencuri. Mereka datang dalam formasi kacau tapi teratur. Segerombolan monyet liar, belasan jumlahnya, langsung bergerak di atas atap-atap rumah, bergelantungan di kabel listrik, bahkan hinggap di jendela lantai tiga. Seperti tahu ke mana harus pergi.
Gede Adi, salah satu warga, berdiri terpaku. “Mereka bolak-balik dari tadi, kayak nggak mau pergi,” katanya. Di tangannya, ponsel siap merekam. Tidak setiap hari rumahnya didatangi makhluk liar yang biasanya tampak di Uluwatu atau hutan Sangeh.
Reaksi warga beragam. Ada yang panik dan buru-buru menutup pintu, ada yang mengintip diam-diam, ada pula yang keluar rumah dengan rasa ingin tahu, membawa anak-anaknya menonton dari balik pagar. Suasana berubah seolah ada pertunjukan akrobat gratis di tengah siang bolong.
Tapi kekaguman itu tak lepas dari kekhawatiran. Beberapa warga mencoba mengusir kawanan ekor panjang itu dengan lemparan sandal dan teriakan. Monyet-monyet hanya bergeser lalu kembali lagi.
Di balik kelucuan dan keramaian ini, ada pertanyaan besar yang mengendap di benak warga, mengapa mereka datang ke sini? Dugaan pun mengarah pada satu hal yakni habitat asli mereka mulai kehilangan sumber makanan. Ketika hutan makin mengecil, ruang hidup satwa liar pun menyempit. Yang tersisa hanyalah keberanian mereka untuk menjelajah wilayah manusia. “Ini anak-anak jadi takut keluar rumah,” ucap seorang ibu.
Ia bicara sambil tetap mengabadikan momen dengan kameranya takut, tapi tak ingin kehilangan kesempatan melihat sesuatu yang langka. Peristiwa ini belum berujung pada kerusakan atau serangan. Tapi ini adalah alarm sunyi. Tanda bahwa batas antara manusia dan alam kini makin kabur.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan. Namun lebih dari itu, mereka mungkin juga mulai sadar bahwa yang datang bukan sekadar gerombolan monyet, tapi tamu dari hutan yang membawa pesan bahwa mereka masih ada dan mulai kehabisan tempat untuk pulang. (BC5)



















