Dampak Gempa NTT, Belasan Orang Meninggal dan Ribuan Warga Mengungsi

0
1
Gempa NTT
Kerusakan rumah warga akibat gempa bumi M7,7 di Kabupaten Ende. (ist)

balibercerita.com –
Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8), menimbulkan korban jiwa, luka-luka, kerusakan bangunan, hingga mendorong ribuan warga melakukan evakuasi setelah sempat diterbitkan peringatan dini tsunami. Berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 12.30 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat dan 11 orang luka ringan.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Bertin SP Panjaitan menjelaskan, data tersebut masih bersifat sementara karena proses pendataan, verifikasi, dan validasi di lapangan terus berlangsung. Korban meninggal dunia sementara tersebar di tiga kabupaten.

Sebanyak tiga orang meninggal dunia di Kabupaten Sikka, enam orang di Kabupaten Manggarai dan lima orang di Kabupaten Manggarai Timur. Sementara, korban luka dilaporkan berasal dari Kabupaten Sikka, Nagekeo, Manggarai dan Manggarai Timur. “Data korban merupakan data sementara dan masih dapat berubah seiring proses verifikasi dan validasi di lapangan,” ujarnya dalam siaran pers.

Selain korban jiwa, sekitar lima kepala keluarga terdampak dan sekitar 2.000 warga mengungsi atau melakukan evakuasi mandiri. Evakuasi dilakukan warga setelah merasakan guncangan kuat serta menyusul peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan pascagempa utama.

Baca Juga:   Pengisian Pasir Pantai Kuta Segera Dimulai, Progres Proyek BBCP Capai 33,812 persen

Dampak gempa juga terlihat pada sejumlah bangunan. Data sementara mencatat 54 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang dan 11 rumah rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah serta enam kantor pemerintahan.

Kabupaten Manggarai menjadi salah satu daerah dengan dampak kerusakan cukup signifikan. Di wilayah ini tercatat 29 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang dan sembilan rumah rusak ringan. Lima fasilitas kesehatan serta satu fasilitas pendidikan juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Di Kabupaten Manggarai Timur, tercatat 23 rumah rusak berat. Sementara, di Kabupaten Nagekeo, dua rumah rusak berat, satu rusak sedang dan dua rusak ringan. Dua fasilitas ibadah mengalami kerusakan ringan dan lima kantor pemerintahan turut terdampak. Kondisi di Nagekeo juga masih diwarnai gangguan aktivitas masyarakat. Arus lalu lintas dilaporkan mengalami kemacetan, sedangkan aliran listrik masih padam.

Gempa utama terjadi pukul 04.58.24 WIB dengan pusat gempa berada di laut pada koordinat 8,41 lintang selatan dan 121,39 bujur timur. Gempa berkedalaman 15 kilometer tersebut berjarak sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Baca Juga:   Tak Hanya Mudah dan Cepat, Super Apps Digital Banking BRImo Juga Hadirkan Keamanan Bertransaksi

Guncangan kuat dirasakan sekitar 1 menit di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat dan Kota Bima. Getaran juga dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, seperti Jeneponto, Kepulauan Selayar dan Maros.

Gempa utama sempat memicu peringatan dini tsunami. BPBD bersama unsur terkait langsung mengarahkan masyarakat di kawasan pesisir untuk menjauh dari pantai dan melakukan evakuasi menuju lokasi yang lebih tinggi dan aman.

Namun berdasarkan hasil observasi tinggi muka laut, tidak terdapat lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan. BMKG kemudian menyatakan peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 07.31.30 WIB.

Pascagempa utama, sedikitnya empat gempa susulan tercatat dengan magnitudo antara M5,5 hingga M6,2. Seluruh gempa susulan tersebut tidak berpotensi tsunami.

Penanganan di wilayah terdampak terus dilakukan BPBD bersama TNI, Polri, pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait. Tim di lapangan melakukan kaji cepat, pendataan korban dan kerusakan, pemantauan kondisi warga serta pemenuhan kebutuhan dasar.

Baca Juga:   Hari Pelanggan Nasional, GWK Bagikan Tiga Ribu Selendang dan Diskon Pengunjung

Khusus Kabupaten Manggarai, sejumlah kebutuhan mendesak telah diidentifikasi. Di antaranya 15 tenda pengungsi, 12 tenda posko, 20 tenda pleton, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 velbed, 1.000 selimut, dan 1.000 tikar. Selain itu, dibutuhkan 500 paket peralatan dapur, 12 tandon air berkapasitas 2.200 liter, 10 genset 5 KVA, 10 handy talky, serta 100 unit senter.

BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
Warga juga diminta tidak memasuki bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa karena masih terdapat kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Masyarakat di kawasan pesisir juga diingatkan untuk tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG. Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi gempa susulan dan bahaya lain akibat kerusakan bangunan.

Pemutakhiran data korban dan kerusakan masih terus dilakukan. BNPB bersama BPBD dan unsur terkait memastikan perkembangan situasi akan disampaikan berdasarkan hasil pendataan resmi di lapangan. (BC5)