Beranda Budaya Kementerian Kebudayaan Dukung Pelestarian Tradisi dalam Karya Manca Wali Krama di Pura...

Kementerian Kebudayaan Dukung Pelestarian Tradisi dalam Karya Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batu

0
Pura Hulundanu Batur
Sekjen Kementerian Kebudayaan, Prof. Bambang Wibawarta (empat dari kiri) didampingi Ketua Harian Karya Tawur Agung, Jro Saba dan para pangelingsir di Pura Hulundanu Batur. (ist)

balibercerita.com –
Pelaksanaan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Bambang Wibawarta, S.S., M.A., hadir langsung menyaksikan rangkaian karya tersebut, Jumat (25/9).

Kedatangan Sekjen Kementerian Kebudayaan RI itu menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung keberlangsungan tradisi keagamaan sekaligus praktik kebudayaan yang masih dijalankan masyarakat Bali. Di Pura Hulundanu Batur, aktivitas upacara berlangsung sejak pagi dengan melibatkan pemangku, krama ngayah, serta umat yang tangkil.

Berbagai persiapan hingga pelaksanaan ritual dilakukan secara bersama-sama. Semangat gotong royong terlihat dalam setiap tahapan, mulai dari penyiapan sarana upacara hingga keterlibatan masyarakat dalam menjalankan prosesi keagamaan.

Baca Juga:   Daun Piduh-piduh, Apotek Hidup yang Kaya Khasiat

Karya Tawur Agung Manca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun tersebut memiliki makna penting bagi krama Desa Adat Songan. Selain menjadi bagian dari pelaksanaan kewajiban spiritual umat Hindu, karya ini juga memperlihatkan keberlanjutan berbagai unsur kebudayaan Bali yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi tersebut mencakup pengetahuan mengenai tata pelaksanaan upacara, pembuatan berbagai sarana upakara, seni, hingga nilai kebersamaan yang tumbuh melalui kegiatan ngayah. Pelibatan masyarakat secara langsung membuat pengetahuan dan keterampilan tersebut tidak hanya disimpan sebagai warisan, tetapi terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keberadaan Pura Hulundanu Batur di kawasan Danau Batur juga memperlihatkan eratnya hubungan antara kehidupan spiritual masyarakat dengan lingkungan alam. Bagi krama Desa Adat Songan, pelaksanaan karya menjadi momentum untuk menjaga keseimbangan kehidupan sekaligus memperkuat hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Baca Juga:   Berawal Dari Pawisik, Mangku Ketut Sudarsana Mulai Memijat Tradisional Sejak Umur 8 Tahun

Sekjen Kementerian Kebudayaan RI, Bambang Wibawarta menilai pelaksanaan karya di Songan menunjukkan bahwa pelestarian kebudayaan dapat dilakukan melalui keterlibatan langsung masyarakat. Tradisi tidak sekadar dicatat dan didokumentasikan, tetapi tetap hidup karena dijalankan secara bersama-sama.

“Saya sangat terhormat dan bangga bisa hadir di sini bersama para sesepuh dan para tetua. Ini tradisi sangat-sangat penting untuk dilestarikan. Kami dari pemerintah (Kementrian Kebudayaan RI) tentu saja sangat mendukung kegiatan seperti ini. Karena bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, tidak hanya di Desa Songan tapi seluruh wilayah di Bali. Mari kita berdoa untuk menjaga keseimbangan alam (Tri Hita Karana). Semoga kita mendapatkan berkah ya dan semua apa yang diinginkan bisa tercapai,” katanya.

Baca Juga:   Perjuangan Dramatis Pengangkutan Ogoh-ogoh Zona 7, Hadapi Hujan dan Kabel Semrawut Demi Lolos Penilaian

Menurutnya, keberadaan generasi muda dalam rangkaian karya juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan tradisi. Dengan terlibat dalam berbagai tahapan, generasi penerus dapat mengenal sekaligus mempelajari pengetahuan budaya yang selama ini dijaga oleh masyarakat.

Suasana kawasan Pura Hulundanu Batur selama pelaksanaan karya memperlihatkan perpaduan antara aktivitas spiritual, adat, seni, dan kebersamaan masyarakat. Di tepian Danau Batur, rangkaian upacara menjadi gambaran mengenai bagaimana nilai-nilai tradisi tetap dijalankan dan memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

Bagi krama Desa Adat Songan, Karya Tawur Agung Manca Wali Krama bukan hanya sebuah ritual yang dilaksanakan secara berkala. Karya tersebut menjadi bagian dari upaya meneruskan warisan leluhur, memperkuat kebersamaan, serta menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan agar tetap dipahami dan dijalankan oleh generasi berikutnya. (BC13)