balibercerita.com –
Riuh semangat ratusan pelajar memenuhi kawasan Bali Collection Nusa Dua pada Minggu (14/6) pagi. Mereka berlari, mencoba berbagai cabang olahraga, hingga berinteraksi langsung dengan para Olympian Indonesia dalam gelaran Olympic Movement in Action (OMIA) 2026 yang diselenggarakan Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia).
OMIA 2026 menjadi sarana menanamkan nilai-nilai Olimpiade kepada generasi muda Indonesia. NOC Indonesia ingin menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya soal podium dan medali, melainkan tentang proses, perjuangan, karakter, serta nilai persahabatan dan sportivitas yang dibangun sepanjang perjalanan seorang atlet.
Wakil Ketua Umum NOC Indonesia, Ismail Ning, menegaskan bahwa filosofi tersebut menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada masyarakat melalui OMIA. “Dalam sebuah pertandingan, menang memang penting, tetapi bukan satu-satunya tujuan. Yang paling utama adalah proses yang dijalani. Dari situlah nilai sejati olahraga terbentuk, yakni tentang friendship, respect, dan excellence,” ujar Ismail.
Menurutnya, semangat Olimpiade harus mulai ditanamkan sejak usia dini. Nilai-nilai sportivitas, solidaritas, persaudaraan, dan fair play merupakan fondasi penting yang tidak hanya membentuk atlet berprestasi, tetapi juga membentuk karakter generasi muda Indonesia.
“Nilai Olimpiade bukan hanya tentang menang, tetapi juga persahabatan, solidaritas, sportivitas, dan fair play. Menang itu penting, tetapi yang lebih penting adalah prosesnya. Nilai-nilai Olimpik itulah yang harus ditanamkan dalam jiwa para atlet dan masyarakat,” tegasnya.
Tahun ini, Bali dipilih sebagai tuan rumah OMIA karena dinilai memiliki posisi strategis di mata dunia. Selain menjadi destinasi wisata internasional, Pulau Dewata juga dikenal sebagai daerah yang melahirkan banyak atlet berprestasi yang mampu bersaing di level dunia. Nama-nama seperti Maria Natalia Londa, Olympian lompat jauh yang tampil di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, hingga peselancar dunia Rio Waida yang berlaga pada Olimpiade Paris 2024 menjadi bukti nyata kontribusi Bali terhadap olahraga Indonesia.
“Bali sudah dikenal dunia sebagai daerah tujuan wisata. Lalu juga banyak atlet-atlet yang lahir dari Bali, salah satunya Kak Maria Londa yang masih aktif hingga sekarang. Kami melihat ini sebagai peluang untuk menggabungkan promosi olahraga dengan eksposur internasional sekaligus memperluas edukasi nilai-nilai Olympism kepada masyarakat,” kata Ismail.
Selain Maria dan Rio Waida, Ismail juga menyinggung sejumlah Olympian Indonesia lainnya seperti judoka Bayu yang telah tampil di tiga Olimpiade, mantan perenang nasional Richard Sam Bera, atlet layar Oka Sulaksana, hingga atlet skateboard Agung. Mereka menjadi contoh bagaimana perjuangan menuju Olimpiade membutuhkan dedikasi dan pengorbanan luar biasa sejak usia muda.
Dalam gelaran OMIA 2026, sekitar 500 pelajar SD, SMP, dan SMA di kawasan Kuta Selatan diajak mengenal sekaligus mencoba langsung tujuh cabang olahraga yang hadir dalam bentuk eksibisi, yakni breakdance, tinju, tenis meja, padel, panahan, cricket, dan squash. Pemilihan tujuh cabang olahraga tersebut dilakukan berdasarkan kesiapan masing-masing federasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan tahun ini. “Tujuh cabor ini dipilih berdasarkan kesiapan. Tapi intinya setiap tahun kegiatan seperti ini terus kami lakukan dan cabang-cabang olahraga lainnya akan bergantian hadir,” jelas Ismail.
Ia berharap pengalaman mencoba langsung berbagai cabang olahraga tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk menemukan minat dan bakatnya. “Silakan melihat dan mencoba tujuh cabor ini. Kalau tertarik, bisa langsung mengikuti kegiatan-kegiatan pembinaan yang ada agar suatu hari nanti bisa mencapai level olahraga yang lebih tinggi,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, NOC Indonesia juga mengajak masyarakat untuk memberikan penghargaan yang lebih besar kepada para atlet yang berhasil lolos ke Olimpiade. Menurut Ismail, tampil di ajang olahraga terbesar dunia tersebut bukan perkara mudah.
Seorang atlet harus melewati proses panjang, mulai dari pembinaan daerah, seleksi nasional, kompetisi regional hingga kualifikasi internasional yang sangat ketat. “Untuk bisa lolos ke Olimpiade adalah pencapaian yang luar biasa. Bayangkan, dari puluhan ribu atlet yang ada di Indonesia, mereka harus melalui berbagai tahapan seleksi hingga akhirnya bisa tampil di Olimpiade. Itu sesuatu yang sangat istimewa,” katanya.
Kehadiran Olympian lompat jauh Indonesia, Maria Natalia Londa menjadi salah satu daya tarik utama OMIA 2026. Di hadapan para pelajar, peraih medali emas Asian Games tersebut berbagi cerita tentang perjalanan panjangnya hingga berhasil tampil di Olimpiade Rio 2016.
Maria mengaku dirinya mulai berlatih sejak usia 10 tahun dan harus melewati berbagai tantangan sebelum akhirnya mencapai panggung olahraga tertinggi dunia. “Bagi saya, Olimpiade adalah mimpi terbesar setiap atlet. Namun untuk mencapainya dibutuhkan proses yang sangat panjang dan penuh tantangan. Untuk bisa lolos ke Olimpiade saja ada tahapan kualifikasi yang sangat ketat. Karena itu, ketika seorang atlet berhasil tampil di Olimpiade, itu merupakan pencapaian yang luar biasa,” ujar Maria.
Lebih jauh, Maria menyoroti pentingnya pemerataan fasilitas olahraga di seluruh Indonesia. Menurut atlet asal Bali tersebut, talenta muda Indonesia sangat melimpah dan memiliki peluang besar untuk bersaing di level internasional jika didukung sarana dan prasarana yang memadai. “Kalau fasilitas olahraga di seluruh wilayah Indonesia sudah baik dan merata, saya yakin akan semakin banyak atlet muda Indonesia yang muncul dan mampu bersaing di kancah internasional,” pungkasnya. (BC5)

















