Unik, Tradisi Siat Yeh di Desa Adat Suwat

0
16
siat yeh di suwat
Tradisi siat yeh di catus pata Desa Adat Suwat, Sabtu (1/1). (ist)

Gianyar, balibercerita.com –   

Desa Adat Suwat menggelar ritual siat yeh di catus pata desa, Sabtu (1/1). Ini adalah rangkaian penutup Festival Air Suwat 2021 yang bertujuan menyucikan alam secara sekala dan niskala.

Tradisi siat yeh (perang air) tercetus tahun 2014, yang bermakna memuliakan kedudukan air sebagai komponen penting bagi kehidupan manusia dan kedudukannya sangat dimuliakan. Acara tersebut digelar selama 3 hari, yaitu dari tanggal 30 Desember , 31 Desember dan 1 Januari. Karena dilaksanakan saat akhir tahun dan awal tahun, tradisi itu juga menjadi tradisi penyucian lahir dan batin, sekala dan niskala.

Siat yeh kali ini terasa spesial karena bertepatan dengan hari raya Siwaratri. Hari suci umat Hindu untuk memuja Dewa Siwa, atau hari umat berkontemplasi. Merenungi laku diri untuk menapak langkah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Baca Juga:   Lestarikan Budaya Bali, Yayasan SBSD Cetak Dalang Muda Seni Pewayangan Tradisional 

Prosesi tersebut dimulai dengan adanya suara kulkul (kentongan), yang secara otomatis hal itu menjadi pertanda untuk memanggil warga. Setelah itu, warga berkumpul di perempatan desa atau catus pata untuk menunggu arahan pelaksanaan siat yeh. Sebelum memulai siat yeh, warga melaksanakan persembahyangan dipimpin sejumlah pemangku di episentrum catus pata desa adat. Sedangkan krama duduk tersebar di empat penjuru arah.

Setelahnya, siat yeh dimulai. Warga satu sama lain saling menyiram. Tawa terdengar di antara hiruk gemelan dan lemparan cipratan guyuran air. Gayung warna warni bak pelangi seakan menyiratkan, meski berbeda pandangan dalam berbagai hal, namun kebersamaan akan selalu ada untuk membangun desa.

Baca Juga:   Desa Adat Legian Akan Gelar Ritual Ngerehang, Lampu Jalan Direncanakan Dipadamkan

Bendesa Adat Suwat, Ngakan Putu Sudibya mengatakan, Festival Air Suwat 2021 memiliki tema “Bangkit Bersama Air”. Hal itu dimaknai sebagai momentum bangkitnya Bali setelah nyaris dua tahun bumi dilanda pandemi. Ia berharap, pariwisata segera pulih dan aktivitas kembali seperti sediakala. “Kami mengangkat spirit sebagai festival. Sudah saatnya kita keluar dari kungkungan dan ketakutan berlebihan, namun tanpa mengabaikan kewaspadaan,” ujar Ngakan Putu Sudibya.

Sudibya mengatakan, festival ke-7 ini dimaknai sebagai momentum membangun visi desa adat 2024 menuju destinasi wisata air. Sejumlah tahapan sudah dilalui, baik dari perencanaan, penataan, hingga terjujudnya desa yang memiliki objek wisata. Saat ini desa itu sudah memiliki objek wisata Suwat Waterfall, kemudian wisata spritual Pengelukatan Siwa Melah Angge. Ke depan, ia juga berencana membangun kemandirian ekonomi desa. 

Baca Juga:   Ayam Bakar Pemogan, Sekali Coba Bikin Ketagihan

“Desa Adat Suwat berusaha membangun kekuatan ekonomi berbasis desa adat. Kami telah membuat usaha yang berkaitan dengan air. Pertama, Suwat Waterfall dan kedua Pangelukatan Siwa Melah Angge. Kemudian, kami mengarah ke usaha kuliner. Kami berharap bisa kami wujudkan dan tentu atas dukungan semua,” paparnya.

Diakuinya, setiap desa adat pasti memiliki potensi yang bisa digali karena adanya peluang besar yang belum tergarap secara maksimal. Jika masing-masing desa mampu menggarap sektor tersebut, maka akan ada pemerataan pariwisata untuk kesejahteraan bersama. Sehingga hal itu akan membuat desa adat menjadi mandiri secara ekonomi. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini