balibercerita.com –
Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Kawasan pesisir yang dikenal sebagai pusat wisata bahari tersebut berhasil mempertahankan pengakuan Tsunami Ready Community dari UNESCO Intergovernmental Oceanographic Commission (UNESCO-IOC) hingga tahun 2030.
Perpanjangan pengakuan melalui Tsunami Ready Recognition Programme (TRRP) itu diberikan setelah Tanjung Benoa dinilai tetap memenuhi 12 indikator kesiapsiagaan tsunami yang ditetapkan UNESCO. Capaian tersebut semakin mengukuhkan Tanjung Benoa sebagai salah satu daerah percontohan dalam penguatan budaya siaga bencana di Indonesia.
Pembaruan pengakuan diserahkan bertepatan dengan pembukaan Training of Facilitators on the Implementation of the UNESCO-IOC Tsunami Ready Recognition Programme (TR-TOF) yang digelar di Tanjung Benoa pada Senin (13/7). Kegiatan yang berlangsung hingga 18 Juli tersebut diikuti oleh peserta dari sembilan negara di kawasan Samudra Hindia.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Tanjung Benoa, I Wayan Deddy Sumantra mengatakan, keberhasilan mempertahankan status Tsunami Ready Community menjadi pencapaian penting bagi masyarakat Tanjung Benoa. Pasalnya, kawasan ini merupakan komunitas pertama di Indonesia yang memperoleh pengakuan tersebut pada 24 Mei 2022.
“Ini merupakan pengakuan kedua dari UNESCO. Statusnya diperpanjang hingga 2030 setelah kami melalui proses evaluasi dan pembaruan berdasarkan 12 indikator yang ditetapkan dalam program Tsunami Ready,” ujarnya.
Menurut Deddy, proses pembaruan pengakuan tidak hanya menilai dokumen administratif, tetapi juga meninjau berbagai bukti nyata yang menunjukkan konsistensi upaya mitigasi bencana selama empat tahun terakhir. Penilaian mencakup aspek pemetaan risiko, edukasi masyarakat, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, hingga kesiapan warga dalam menghadapi potensi ancaman tsunami.
Ia menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, media, dan organisasi terkait. “Tugas utama kami adalah membangun kesadaran masyarakat. Semangatnya sesuai slogan hari ini, Be Aware, Be Prepared, and Be Tsunami Ready. Semua kegiatan yang kami lakukan selama empat tahun terakhir menjadi bagian dari proses evaluasi UNESCO,” katanya.
Saat ini, tercatat 29 desa dan kelurahan di Indonesia telah memperoleh pengakuan Tsunami Ready. Namun, Tanjung Benoa masih menjadi salah satu wilayah yang kerap dijadikan rujukan dalam penerapan program kesiapsiagaan tsunami berbasis masyarakat.
Tanjung Benoa juga dipercaya menjadi tuan rumah pelatihan fasilitator implementasi program Tsunami Ready bagi delegasi dari sembilan negara kawasan Samudra Hindia. Selama sepekan, para peserta mendapatkan materi di kelas sekaligus mengikuti berbagai kegiatan lapangan untuk melihat langsung praktik mitigasi bencana yang diterapkan di kawasan tersebut.
Menariknya, upaya mitigasi yang dilakukan selama ini juga berkembang menjadi bagian dari edukasi wisata atau eduwisata mitigasi. Konsep tersebut dinilai mampu memperkuat citra Tanjung Benoa sebagai destinasi wisata bahari yang tidak hanya menarik, tetapi juga tangguh terhadap bencana. “Kami ingin menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata. Eduwisata mitigasi justru menjadi nilai tambah yang memperkuat daya saing destinasi,” jelasnya.
Ke depan, FPRB Tanjung Benoa berharap pengalaman dan praktik baik yang telah dijalankan dapat menginspirasi daerah lain di Bali. Saat ini baru dua wilayah di Bali yang mengantongi pengakuan Tsunami Ready dari UNESCO, yakni Tanjung Benoa di Kabupaten Badung dan Desa Pengastulan di Kabupaten Buleleng. “Harapannya semakin banyak desa dan kelurahan di Bali yang mengikuti program ini, sehingga budaya siaga bencana semakin kuat dan masyarakat semakin siap menghadapi potensi ancaman tsunami,” pungkasnya. (BC5)

















