Jakarta, balibercerita.com –
Meledak di era musik independen awal 2000-an, Sajama Cut (SC) telah menjelma menjadi salah satu ikon paling berpengaruh dalam skena musik indie rock Indonesia. Dipimpin oleh musisi visioner Marcel Thee, band ini dikenal lewat deretan lagu ikonis seperti Less Afraid, Fallen Japanese, Paintings/Pantings, Alibi, Lautan yang Memeluk Cermin, hingga Twice (Rung the Ladder).
Selama dua dekade terakhir, pengaruh SC terasa begitu kuat. Hal ini terbukti melalui peluncuran album penghormatan “You Can Be Anything You Want – A Tribute to Sajama Cut”, yang melibatkan 30 musisi ternama dari berbagai genre seperti Lomba Sihir, Sal Priadi, Ade Paloh, Polka Wars, Neonomora, Bottlesmoker, dan Polyester Embassy.
SC telah merilis lima album studio yang menuai pujian kritikus musik lokal hingga internasional. Selain turut berkontribusi dalam sejumlah soundtrack film dan kompilasi, termasuk Janji Joni dan JKT: SKRG, karya-karya mereka kerap masuk dalam daftar album terbaik dekade 2000 dan 2010.
Album kelima mereka, Godsigma bahkan dinobatkan sebagai salah satu album terbaik tahun 2020 oleh berbagai media seperti Pophariini, The Jakarta Post, Vice, Nylon, Koloni Gigs, dan Rolling Stone.
Sejak 2023, formasi Sajama Cut diperkuat oleh Marcel Thee (vokal, multi-instrumentalis), Arta Kurnia (bass), Aldrian Risjad (gitar), Dewandara Danishwara (gitar, keyboard), Daniel Hasudungan (synth, piano), dan Adam Rinando (drum, synth), dengan dukungan vokal latar dari Tenna Handarini dalam pertunjukan live.
Dengan warisan musik yang kaya dan semangat eksperimentasi yang tak pernah padam, Sajama Cut tetap menjadi mercusuar penting bagi generasi musisi baru Indonesia. (BC5)


















