Denpasar, balibercerita.com –
Pertumbuhan ekonomi Bali menunjukkan performa yang impresif pascapandemi Covid-19, dengan angka 6 persen pada tahun ini. Salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah industri pusat perbelanjaan (mal) yang mencatat peningkatan rata-rata kunjungan dan transaksi sebesar 7 hingga 15 persen.
Hal ini menegaskan bahwa pertumbuhan pusat belanja tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekonomi Bali secara umum. Dengan pertumbuhan ekonomi dan sektor ritel yang solid, Bali tidak hanya menjadi destinasi wisata alam dan budaya, tapi juga wisata belanja kelas dunia.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Provinsi Bali, Zenzen Guisi Halmis menerangkan, pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya jumlah wisatawan ke Bali, baik domestik maupun mancanegara, serta peningkatan daya beli masyarakat lokal. “Spending power sekarang sudah mulai meningkat, baik dari wisatawan asing maupun lokal. Hotel bagus, retail bergerak, dan dampaknya langsung terasa di mal,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pusat perbelanjaan di Bali tidak saling berkompetisi secara langsung. Masing-masing mal memiliki segmentasi pasar yang berbeda dan justru saling melengkapi. Ada yang menyasar turis, ada yang lokal. Hal ini dirancang agar orang yang datang selain berwisata, juga dapat berbelanja agar dampaknya dirasakan semua pihak.
Jumlah kunjungan ke mal pun sangat bervariasi, mulai dari 3.000 hingga 35.000 pengunjung per hari, tergantung lokasi dan musim. Tren ini mengindikasikan bahwa mal tetap menjadi destinasi utama, bukan hanya untuk belanja, tapi juga untuk pengalaman sosial dan hiburan keluarga. Selain wisatawan, orang di Bali rata-rata juga senang berbelanja.
“Orang Bali itu punya gengsi, kalau tidak berbelanja saat berkunjung ke mal itu merasa tidak enak. Mungkin hari pertama datang ke mal tidak belanja, tapi besoknya pasti belanja. Mal jadi bagian dari gaya hidup,” katanya sambil tersenyum.
Bali sebagai destinasi internasional, pusat perbelanjaan di Bali sebenarnya menghadapi tantangan untuk bersaing dengan pusat perbelanjaan di negara lain seperti Hong Kong, Singapura, dan Tiongkok. Karena itu, pengelola mal harus terus berinovasi. Market pusat perbelanjaan di Bali bukan hanya lokal, tapi mancanegara, internasional dan domestik. Menjadi sebuah kewajiban bagi mal untuk bagaimana membuat orang berwisata ke Bali untuk berbelanja, sehingga memberikan impact bagi pendapatan daerah dan masyarakat sekitar.
Peningkatan nilai pasar juga terlihat dari mulai munculnya pembangunan mal-mal baru di berbagai wilayah Bali. Ini menandakan kepercayaan investor dan potensi pasar yang terus tumbuh. Jika di tahun 2010 orang ke Bali tahunnya hanya mal itu Matahari, sekarang pilihannya banyak dan berkembang pesat. Ini sangat signifikan bagi masyarakat Bali.
“Kami menjual experience. Hal yang tidak bisa didapat dari online, seperti sentuhan langsung pada produk, suasana mal, dan interaksi sosial. Semua itu eksklusif ada di mal,” imbuhnya. (BC5)


















