Mangupura, balibercerita.com –
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung tengah merancang pelaksanaan upacara ngaben bikul atau ngaben tikus. Langkah ini diambil menyusul maraknya serangan hama tikus yang merusak puluhan hektare sawah di wilayah Badung hingga menyebabkan gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disdperpa) Badung, I Wayan Wijana mengatakan, serangan hama tikus tidak hanya terjadi di Badung, melainkan juga di sejumlah daerah di Bali. Namun, kondisi di Badung dinilai cukup mengkhawatirkan. “Sudah banyak diserang, makanya pemkab Badung berencana mengusir tikus secara niskala,” ujar Wijana, Selasa (26/8).
Berdasarkan pendataan penyuluh pertanian lapangan (PPL), dari total 9 ribu hektare lebih sawah di Badung, sekitar 49,57 hektare terdampak hama tikus. Serangan tersebut tersebar di beberapa kecamatan, diantaranya Mengwi seluas 24 hektare, Abiansemal (12,4 hektare), dan Petang sebanyak 13 hektare.
“Jadi sesuai hasil pendataan penyuluh pertanian lapangan (PPL), serangan tikus menyebabkan gagal panen seluas 49,57 hektar,” ungkapnya.
Meski terjadi gagal panen, Wijana menegaskan, pihaknya telah melakukan berbagai langkah penanganan. Beberapa diantaranya dengan mendorong subak untuk menggelar gerakan pengendalian tikus, memberikan bantuan pestisida racun tikus, serta mengupayakan perlindungan melalui asuransi pertanian.
“Selain tikus ada juga serangan hama kresek. Namun sudah berikan kami bantuan pestisida,” terangnya.
Ia juga mengimbau petani menjaga kebersihan saluran irigasi agar tidak menjadi sarang tikus. Pemkab Badung bahkan akan membantu subak dengan menyediakan mesin pemotong rumput untuk pembersihan aliran sungai.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gde Eka Sudarwitha mengungkapkan, tradisi ngaben bikul akan kembali digelar pada tahun 2026. Upacara yang terakhir dilaksanakan pada 2020 ini diyakini dapat menetralisir gangguan hama tanaman secara niskala. “Untuk ngaben bikul ini sedang kami bahas dari sisi penganggaran dan dari serta waktu pelaksanaan,” ujar Sudarwitha.
Ia menambahkan, tidak menutup kemungkinan tradisi tersebut akan dilaksanakan secara rutin, misalnya lima tahun sekali, sesuai arahan Bupati Badung dan kebutuhan di lapangan. (BC9)
















