Pura yang berada di atas aliran sungai ini justru kerap dikunjungi umat Hindu untuk pembersihan diri. Untuk mencapainya, pamedek juga harus melewati puluhan anak tangga. Pemangku pura setempat, Jero Mangku I Ketut Witera mengakui, Pura Kereban Langit dikenal sebagai salah satu pura untuk nunas pemargi (memohon jalan) bagi pasangan yang belum mempunyai keturunan. Selain itu, juga dikenal sebagai salah satu tempat malukat untuk membersihkan diri bagi masyarakat umum.
Sebelum menghaturkan bakti pada utama mandala, pamedek akan menjalani dua kali prosesi malukat atau pembersihan diri. Pertama, pada pancoran Taman Beji Kereban Langit. Terdapat lima pancoran pembersihan, yakni pangeleburan, pangelukatan, prayasita, pawintenan Saraswati dan kemakmuran. Setelah melewati proses pembersihan di Taman Beji Kereban Langit, pembersihan kedua akan dilakukan di pelataran pura (madya) dengan sarana kelapa/bungkak gading. Pangelukatan kedua ini akan dipandu oleh pemangku pura.
Setelah dua prosesi pangelukatan ini dilewati, barulah pamedek akan melakukan persembahyangan pada palinggih yang ada di dalam goa. Nama Pura Kereban Langit sendiri sesuai dengan lokasi pura, yakni beratapkan langit. (BC20)














