balibercerita.com –
Tuksedo Studio membuka babak baru dalam perjalanan tujuh tahun berkarya di dunia desain dan restorasi otomotif klasik handmade. Bukan lagi sekadar menghidupkan kembali mobil-mobil klasik, studio yang berbasis di Bali ini kini memperkenalkan desain orisinalnya melalui Firstlady, mobil sport yang memadukan karakter klasik dengan teknologi modern.
Firstlady diperkenalkan dalam La Dolce Vita: Tuksedo Auto & Fashion Gala yang digelar di Ketewel pada Jumat (18/9). Mobil dengan desain orisinal ini terinspirasi oleh semangat La Dolce Vita, sebuah ungkapan Italia yang menggambarkan kehidupan yang manis, indah dan penuh apresiasi terhadap seni menikmati hidup, menjadi gagasan yang menyatukan otomotif, fashion, seni dan desain dalam satu perhelatan.
Co-Founder Tuksedo Studio, Laksmana Gusti Handoko mengatakan, Firstlady menjadi bagian penting dari tujuan besar Tuksedo Studio untuk memperkenalkan mobil dengan desain asli Bali dan identitas Tuksedo Studio yang seluruh proses pembuatannya dilakukan di Indonesia, khususnya Bali. “Ini memang tujuan besarnya bagi kami untuk memperkenalkan mobil desain asli Bali, desain asli Tuksedo yang akan dibuat di sini dan yang akan finish di sini. Jadi semuanya hampir 100 persen ini buatan lokal, bahkan buatan Bali. Handmade, enggak pakai mesin tapi pakai tangan,” ujar Handoko.
Firstlady dikembangkan mulai 2026 setelah Tuksedo Studio menjalani perjalanan selama tujuh tahun di bidang desain dan restorasi otomotif klasik secara handmade. Mobil tersebut dikembangkan bersama RANS dan ditargetkan meluncur pada 2027.
Handoko menjelaskan, Firstlady merupakan mobil sport yang mengambil inspirasi kuat dari mobil klasik, tetapi dikombinasikan dengan teknologi otomotif modern. Konsep tersebut membuat Firstlady tidak hanya mengedepankan tampilan, tetapi juga kenyamanan dan kebutuhan berkendara masa kini. “Firstlady ini mobil sport, mobil sport buatan kami. Dia memiliki inspirasi jelas mobil klasik. Filosofi desainnya memang dia klasik tapi kombinasi dengan modern,” katanya.
Dengan konsep tersebut berarti Firstlady akan dibekali fitur teknologi, keselamatan dan entertainment modern. Hal itu menjadi pembeda dengan mobil-mobil Tuksedo sebelumnya yang lebih banyak mempertahankan karakter klasik.
“Berbeda dengan mobil kami sebelumnya yang hampir 100 persen klasik. Mobil kami yang sekarang ini dipenuhi dengan fitur dan safety modern sehingga sangat nyaman dan up-to-date untuk berkendara sehari-hari,” jelasnya.
Melalui Firstlady, Tuksedo Studio juga membidik segmen luxury atau kelas atas. Handoko berharap langkah tersebut tidak hanya menjadi pengembangan bisnis, tetapi juga membuka kesempatan untuk mempelajari teknologi yang pada akhirnya dapat ikut mengangkat nama dan industri otomotif Indonesia.
Kolaborasi dengan RANS menjadi bagian dari pengembangan proyek tersebut. RANS dan Raffi Ahmad telah memberikan dukungan kepada Tuksedo Studio selama beberapa tahun, termasuk sebagai salah satu klien studio. “Kami bekerja sama dengan RANS, dengan Mas Raffi, karena Mas Raffi itu sudah men-support industri kami. Sudah bertahun-tahun, ya sudah 2, 3, 4 tahun yang lalu lah. Beliau sudah membantu kami untuk membuat mobil di kami, beliau adalah salah satu klien kami juga,” ungkapnya.
Menurut Handoko, sejak awal RANS menyatakan tujuan kolaborasi tersebut adalah untuk mendongkrak industri otomotif nasional. Ketertarikan itu juga tidak terlepas dari karakter Tuksedo Studio yang sebagian besar proses produksinya dilakukan secara lokal dengan melibatkan tenaga kerja muda. “Hampir semua pekerjanya itu muda. Hampir semuanya di bawah 30 tahun, bahkan banyak yang merupakan pekerjaan pertamanya. Jadi itu ketertarikan awalnya Mas Raffi dan RANS,” katanya.
Saat diperkenalkan, Firstlady masih berada dalam tahap riset dan pengembangan. Tuksedo Studio menargetkan mobil tersebut dapat diluncurkan sekitar pertengahan 2027. Namun target tersebut masih dapat berubah mengikuti proses pengembangan.
Untuk sektor mesin, Tuksedo Studio masih melakukan riset. Mesin yang digunakan nantinya direncanakan berasal dari Amerika Serikat, dengan kemungkinan menggunakan mesin Chevrolet atau Ford. Kapasitas mesin yang sedang dieksplorasi mencapai 6.300 cc.
Dari sisi produksi, untuk tahap awal Tuksedo Studio akan membuat dua unit Firstlady dan seluruhnya telah sold out. Ke depan, Firstlady akan mengikuti karakter boutique car, yakni kendaraan yang diproduksi secara terbatas dengan pengerjaan handmade. “Karena kami berada di segmen boutique car, boutique car itu handmade, satu tahun mungkin kita 7 sampai 10, hanya 7 sampai 10 mobil,” jelas Handoko.
Konsep handmade juga menjadi nilai tersendiri yang ingin terus diperkenalkan kepada calon pemilik. Handoko mengatakan, metode pengerjaan menggunakan tangan bukan sekadar proses produksi, tetapi menjadi bagian dari nilai seni dan sentuhan personal sebuah kendaraan.
Menurut dia, kendaraan yang dibuat secara handmade sejak masa lalu pun banyak yang masih layak digunakan hingga saat ini. Karena itu, pihaknya ingin mengingatkan kembali bahwa metode handmade tetap memiliki tempat dalam industri otomotif modern.
Ia mencontohkan sejumlah produsen mobil mewah dunia yang masih mempertahankan proses handmade. Menurutnya, pengerjaan dengan tangan memberikan sentuhan personal yang membuat setiap kendaraan memiliki karakter berbeda dan menjadi bagian dari nilai sebuah mobil. Dalam tiga tahun terakhir, Tuksedo Studio sendiri telah memproduksi hampir 30 mobil.
Untuk harga Firstlady, Handoko belum dapat memastikan angka final karena mobil masih dalam tahap research and development. Namun, ia memastikan kendaraan tersebut akan masuk dalam rentang luxury car. “Jujur, kita karena ini masih di fase research and development, kita belum bisa memastikan. Cuman pasti akan di-range luxury car, pasti. Kemungkinan kalau kita kurskan dolar ya di atas 50.000 dolar, pasti. Di atas 50.000 atau di atas 60.000 dolar itu sudah pasti. Pastinya berapa, belum bisa,” ujarnya.
Pengembangan Firstlady juga melibatkan kolaborasi akademik dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Tuksedo Studio telah menjalin kerja sama resmi dengan ITS untuk melakukan asesmen dan analisis engineering design terhadap kendaraan yang dikembangkan. “Semua mobil kita yang kita desain, itu semuanya akan diases, akan dilakukan analisa perhitungan engineering design-nya oleh ITS. Jadi nanti akan memverifikasi desain kami, salah satunya melalui tim research dari ITS,” jelas Handoko.
Kolaborasi tersebut juga membuka peluang bagi profesor-profesor ITS untuk membantu proses pengembangan di Tuksedo Studio. Sebaliknya, Tuksedo Studio akan membuka fasilitas di ITS. Menurut Handoko, keberadaan sirkuit mini yang dimiliki ITS menjadi salah satu alasan kolaborasi tersebut dinilai tepat untuk mendukung pengembangan kendaraan.
Walaupun saat ini sedang menggarap Firstlady, produksi mobil dengan model lain di Tuksedo Studio ditegaskan tetap berjalan karena permintaannya masih ada. Namun, dalam jangka panjang Firstlady diproyeksikan menjadi bagian dari masa depan Tuksedo Studio. Untuk pilihan warna, Firstlady nantinya akan tersedia dalam beberapa pilihan warna yang mengacu pada karakter klasik, sejalan dengan filosofi desain kendaraan tersebut.
Semangat Firstlady kemudian diperluas melalui La Dolce Vita: Runway Presentation yang dipersembahkan YMM. Acara tersebut menghadirkan 30 model dan 10 desainer nasional, mempertemukan fashion, kriya otomotif, seni dan desain kontemporer Indonesia.
Pameran karya seni turut melengkapi acara, memperluas pembahasan mengenai hubungan antara mobil, fashion dan kreativitas Indonesia. Handoko menilai keterkaitan dengan fashion menjadi hal yang penting karena mobil tidak lagi semata-mata dipandang sebagai alat transportasi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekspresi diri. “Kenapa ada fashion-nya? Karena memang mobil ini bukan cuma transportasi, tapi juga fashion statement,” tegasnya.
Selain memperkenalkan Firstlady, La Dolce Vita juga menjadi momentum peluncuran Magnum Opus, media Indonesia yang mengeksplorasi budaya, gaya hidup, seni, desain, hiburan, perjalanan, teknologi serta berbagai gagasan yang membentuk Indonesia kontemporer. Magnum Opus hadir dengan komitmen terhadap storytelling yang mendalam sekaligus apresiasi terhadap majalah cetak sebagai objek budaya yang layak dibaca, disimpan dan dikoleksi. (BC5)
















