Doha, balibercerita.com —
Dalam hitungan jam, jaringan penerbangan global Qatar Airways sempat terguncang akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Namun, hanya dalam 18 jam, maskapai nasional Qatar ini berhasil mengembalikan operasionalnya ke jalur normal, mencetak tonggak baru dalam kecepatan pemulihan krisis aviasi.
Senin malam, 23 Juni, Qatar Airways menghadapi ujian besar ketika wilayah udara Qatar dan beberapa negara Teluk mendadak ditutup. Sekitar 100 pesawat yang menuju Bandara Internasional Hamad terpaksa dialihkan, dan lebih dari 90 penerbangan dihentikan atau diubah rutenya, termasuk yang membawa lebih dari 20.000 penumpang.
Namun di balik skenario luar biasa ini, tampak ketangguhan sistem dan respons cepat yang menunjukkan kesiapan dan kemampuan skala global Qatar Airways. Dalam waktu singkat, ratusan awak darat, pilot, staf perencanaan, hingga manajer krisis di seluruh dunia langsung mengaktifkan prosedur darurat, mendistribusikan pesawat ke hub-hub alternatif, serta menyusun ulang konektivitas rute secara manual dan real-time.
“Dalam dunia aviasi, waktu adalah segalanya. Kami tidak hanya bertindak cepat, kami bertindak tepat,” ujar Group Chief Executive Officer Qatar Airways, Engr. Badr Mohammed Al-Meer.
Krisis yang dipicu serangan misil ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar ini menyebabkan operasional terhenti sementara. Tapi begitu wilayah udara dibuka kembali setelah tengah malam 24 Juni, pesawat-pesawat kembali berdatangan ke Doha dan gelombang demi gelombang penumpang kembali tersambung ke perjalanan berikutnya.
Dalam waktu kurang dari sehari 390 penerbangan kembali dijalankan. Seluruh penumpang dari 90 lebih penerbangan yang dialihkan sudah diterbangkan kembali dalam waktu 24 jam. Lebih dari 4.600 penumpang ditampung di hotel. 35.000 lebih makanan, air minum, dan bantuan langsung dibagikan kepada penumpang di bandara dan dalam pesawat. Operasional 578 penerbangan terjadwal dilanjutkan per 25 Juni.
Sementara itu, Bandara Internasional Hamad yang lumpuh sementara kembali beroperasi penuh, menangani lonjakan transit hingga 22.000 orang pada pukul 05.00 pagi, hanya beberapa jam setelah krisis.
Tidak hanya di Doha, namun di puluhan bandara di seluruh dunia, kru Qatar Airways bergerak serempak untuk memastikan penumpang tetap mendapatkan kepastian perjalanan. Perubahan jadwal, penyesuaian visa, pemindahan bagasi, hingga penyediaan akomodasi dilakukan dalam koordinasi lintas negara dan zona waktu. “Ini bukan sekadar soal menjalankan pesawat, tapi soal menjaga kepercayaan dalam kondisi paling genting,” tambah Al-Meer. “Dan kami menjawabnya dengan aksi nyata.” tegasnya.
Qatar Airways juga menerapkan kebijakan perubahan tiket fleksibel, memperkuat tim layanan pelanggan, dan menambah frekuensi penerbangan ke tujuan dengan jumlah penumpang terbanyak, semua dijalankan dalam waktu bersamaan.
Dalam dunia penerbangan yang sangat terhubung dan kompleks, apa yang dilakukan Qatar Airways dalam menghadapi krisis ini bukan hanya pemulihan cepat, tetapi juga bukti dari ketahanan sistem global yang telah dibangun dengan perencanaan, pelatihan, dan kesiapsiagaan tingkat tinggi. (BC5)

















