Masing-masing teras itu sebagai berikut. Teras ke-1, merupakan halaman candi setelah gapura masuk. Teras ke-2, terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho. Teras ke-3, pada dinding susunan batu tampak relief cuplikan kisah Sudamala. Kisah inilah yang menjadi dasar upacara ruwatan. Teras ke-4, di sisi baratnya terdapat sepasang arca Bima yang menjaga tangga batu menuju teras ke-5. Teras ke-5, terdapat sepasang bangunan beratap, yang disebut pendapa luar mengapit jalan menuju tangga ke teras ke-6.
Teras ke-6 terdapat arca Kalacakra dan sepasang arca Ganesha di kaki tangga menuju teras ke-7. Tangga tersebut dibuat bertingkat 3 yang tebing kiri dan kanannya diperkuat turap batu. Teras ke-7 terdapat sepasang pendapa beratap tanpa dinding yang disebut Pendapa Dalam. Sebuah tatanan batu mendatar menggambarkan kura-kura sebagai lambang Majapahit. Teras ke-8, terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk sembahyang. Dua arca batu dengan tulisan Jawa menunjukkan tahun dibangunnya Candi Cetho. Penggambaran Phallus ditafsirkan sebagai lambang penciptaan atau kelahiran kembali setelah dibebaskan dari kutukan.
Teras ke-9, adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Terdapat juga ruangan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda kuno. Bangunan utamanya adalah lapangan terbuka dengan patung Dewi Saraswati pada sebuah kolam.
Candi Cetho merupakan sebuah candi bercorak Hindu dan peninggalan Kerajaan Majapahit pada abad XV. Berdasarkan prasasti yang ada di bagian Candi Cetho, bangunan ini diperkirakan dibangun sekitar 1451 Masehi dan selesai pada 1475 Masehi. Dikutip dari situs resmi Pemkab Karanganyar, hingga sekarang candi ini masih digunakan oleh penduduk setempat yang memeluk agama Hindu sebagai lokasi ibadah. Selain itu, penganut kepercayaan Kejawen juga kerap melakukan pertapaan di candi ini.
Bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Candi Cetho akan menemukan sisi romantisme dan eksotisme di area candi, bermula dari akses menuju candi dengan pemandangan perkebunan Teh Kemuning yang melegenda. Bagi yang beragama Hindu maka saat memasuki candi utama akan melakukan persembahyangan bersama dan mepurwa daksina mengelilingi bangunan sebanyak tiga kali dengan kaki kiri melangkah lebih dulu sambil mengucapkan Om Nama Siwaya. (BC9)















