Atasi Sampah, Desa Tibubeneng Targetkan Pembangunan 1.150 Teba Modern

0
215
Teba modern
Wabup Badung, Bagus Alit Sucipta secara simbolis membuat teba modern di Tibubeneng, Selasa (19/8). (ist)

Mangupura, balibercerita.com –
Pemerintah Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, terus berupaya menangani persoalan sampah dari sumbernya. Desa yang menjadi salah satu destinasi wisata ini menargetkan pembangunan seribuan teba modern untuk mengolah sampah, yang jumlahnya mencapai 30 ton setiap hari.

Perbekel Tibubeneng, I Made Kamajaya menyampaikan bahwa berbagai langkah telah ditempuh untuk mengatasi persoalan sampah di wilayahnya. Pada tahun 2025, pihaknya menargetkan pembangunan 700 lubang teba modern. Dengan tambahan tersebut, total teba modern di Tibubeneng akan mencapai 1.150 unit.

“Secara simbolis (Selasa kemarin) pembuatan lubang sibomasi atau teba modern oleh Bapak Wakil Bupati, itu merupakan program kami di desa, sebagai kelanjutan program di tahun 2023-2024. Tahun ini kami lagi mengagendakan kurang lebih 700 lubang sibiomasi, kami tebar di setiap KK,” ujar Kamajaya, Rabu (20/8).

Baca Juga:   Gus Bota Serahkan Piagam Penghargaan ke Instansi di MPP

Ia berharap, melalui program ini, setiap KK di Tibubeneng nantinya dapat memiliki teba modern sehingga sampah bisa dikelola langsung dari rumah tangga. “Jadi sampah organik masuk lubang sibiomasi, dan sampah plastik dikerjasamakan dengan EcoBali,” jelasnya.

Selain itu, pihak desa juga tengah berupaya mencari lahan yang tepat untuk membangun tempat pengolahan sampah reuse, reduce, recycle (TPS 3R). Upaya sebelumnya sempat ditolak warga karena dianggap berpotensi menimbulkan bau di kawasan wisata.

Meski demikian, Kamajaya menegaskan dirinya tidak menyerah. Ia bahkan sudah berkomunikasi dengan sejumlah mitra untuk menghadirkan teknologi pengolahan sampah tanpa bau. “Nanti ya, mudah-mudahan tahun 2025 di APBD perubahan, atau setidaknya induk di 2026, kami sudah bisa mewujudkan pengolahan sampah atau TPS 3R. Sehingga nanti sampah itu akan tuntas di desa kami,” terangnya.

Baca Juga:   Rekayasa Lalin Efektif Urai Kemacetan di Kerobokan Kelod

Kamajaya menambahkan, penanganan sampah tidak bisa dilakukan pemerintah desa semata, melainkan perlu melibatkan desa adat dan seluruh masyarakat. Ia menekankan, penutupan TPA Suwung harus dijadikan peringatan sekaligus cambuk untuk mengelola sampah secara mandiri.

“Kuncinya di sini, kami sadar itu. Dan kami mengajak masyarakat tidak usah kita ribut, menyalahkan si A, si B, tapi yuk kita lakukan langkah bersama-sama, mulai dari diri sendiri, mulai dari rumah, mulai dari lingkungan, itu akan kami gerakkan,” katanya.

Baca Juga:   Terima Audiensi KNPI Badung, Bupati Giri Prasta Dukung Penyelenggaraan Badung Youth Festival 2022

Jika masalah sampah tidak ditangani dengan serius, Kamajaya khawatir Desa Tibubeneng akan kehilangan daya tarik sebagai destinasi wisata. “Karena suka tidak suka, siap atau tidak siap, khususnya di Desa Tibubeneng yang menghasilkan sampah hampir tidak kurang dari 30 ton setiap hari, kalau tidak dilakukan langkah-langkah yang serius, yang konkret, ini akan menjadi kiamat. Apalagi, ini daerah pariwisata yang mendatangkan tamu, yang alamnya mutlak harus dijaga untuk sustainable pariwisata itu sendiri,” tegasnya. (BC9)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini