Ini Sejumlah Ritual Umat Hindu Bali Saat Menghadapi Bencana

0
456
Ritual Bali
Salah satu ritual pakelem yang digelar beberapa waktu lalu. (ist)

balibercerita.com –
Bagi masyarakat Hindu di Bali, alam semesta adalah bagian dari kehidupan yang wajib dijaga keseimbangannya. Jika terjadi bencana alam seperti banjir, gempa, atau letusan gunung, hal tersebut sering dimaknai sebagai tanda adanya ketidakharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Untuk mengembalikan keseimbangan itu, umat Hindu di Bali biasanya melaksanakan ritual khusus. Ritual-ritual tersebut menunjukkan bahwa bagi umat Hindu di Bali, bencana tidak hanya dipandang sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai pengingat untuk menjaga keseimbangan hidup. Melalui doa dan upacara, masyarakat diajak kembali selaras dengan prinsip Tri Hita Karana.

Disarikan dari sejumlah sumber, berikut sejumlah ritual umat Hindu di Bali dalam menyikapi sebuah bencana:

Baca Juga:   21 Ogoh-ogoh Masuk Babak Final Badung Caka Fest Tahun 2026

Upacara Prayascita
Ritual ini dilakukan untuk menetralisir energi negatif setelah bencana. Masyarakat membuat banten prayascita, yaitu sesajen sederhana. Dengan doa yang tulus, umat memohon agar keadaan kembali tenang dan aman.

Guru Piduka
Upacara ini bermakna memohon ampun kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) dan para dewa-dewi. Melalui Guru Piduka, umat menyadari kesalahan atau kekurangan yang mungkin menyebabkan terganggunya keharmonisan alam, sekaligus berharap bencana tidak berulang.

Melasti atau Penyucian ke Sumber Air
Di beberapa wilayah, umat membawa pratima atau simbol suci ke laut, danau, atau sungai untuk disucikan. Air dipercaya mampu memurnikan, sehingga ritual ini diharapkan dapat membersihkan energi negatif sekaligus menenangkan jagat raya.

Baca Juga:   Ritual Mapag Toya, Sekda Badung Mulang Pakelem di Danau Beratan

Doa Bersama dan Nunas Tirta
Setelah bencana, masyarakat biasanya melakukan doa bersama dan memohon tirta (air suci) dari sulinggih atau pendeta. Tirta tersebut dipercikkan di rumah maupun lingkungan sekitar agar warga diberkati keselamatan.

Nangluk Merana
Dalam tradisi desa adat, sering pula diadakan upacara nangluk merana. Tujuannya untuk menolak bala, menjaga kesuburan tanah, dan melindungi warga dari gangguan yang dipercaya bisa menimbulkan malapetaka.

Macaru
Ritual ini merupakan upacara bhuta yadnya yang ditujukan untuk menyeimbangkan kembali hubungan dengan para bhuta kala (energi alam atau kekuatan gaib). Dalam mecaru, masyarakat mempersembahkan banten caru berupa sesajen dengan berbagai simbol, termasuk hewan kurban pada tingkatan tertentu. Tujuannya untuk meredakan energi negatif, mengharmoniskan kembali alam semesta, serta mencegah terulangnya bencana.

Baca Juga:   Bhaskara Budaya Kembali Digelar

Pakelem
Upacara pakelem biasanya dilaksanakan di danau, laut, atau sumber air besar. Ritual ini berupa persembahan kurban suci (kadang berupa hewan seperti itik, ayam, bahkan kerbau pada tingkatan tertentu) yang dihanyutkan ke air. Maknanya adalah sebagai persembahan kepada penguasa laut atau danau, agar alam kembali tenang, bencana tidak berlanjut, dan keseimbangan kosmis tetap terjaga. (BC13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini