Pertamina-TPS 3R Kedonganan Terapkan Sistem Barcode Pertama di Bali dalam Pengelolaan Sampah

0
247
Kedonganan
Pemilahan sampah di TPS 3R Kedonganan Ngardi Resik. (ist)

Mangupura, balibercerita.com –
Teknologi kini menjadi bagian penting dalam menyelesaikan masalah lingkungan, termasuk pengelolaan sampah. Di Kelurahan Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, inovasi digital diterapkan secara nyata melalui program Ecoreligion Enviro Management System. Program ini diinisiasi oleh Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui AFT I Gusti Ngurah Rai dan menjadikan TPS 3R Kedonganan Ngardi Resik sebagai pionir dalam pemanfaatan teknologi di bidang persampahan.

Sejak tahun 2022, TPS 3R Kedonganan telah menggunakan sistem barcode pada tong sampah rumah tangga untuk mendukung pemilahan sampah dari sumber. Setiap rumah pelanggan diberi tong dengan barcode unik yang digunakan untuk mencatat kualitas pemilahan sampah antara organik dan anorganik.

Baca Juga:   Kolaborasi Pemilik Usaha Jadi Kunci Penataan Pedestrian Jalan Pantai Kuta

Inovasi ini menjadi yang pertama di Bali untuk tingkat TPS 3R dan mendorong keterlibatan aktif warga dalam memilah sampah dengan benar. Warga yang konsisten memilah sampah dengan baik akan mendapat reward, sementara yang tidak menjalankan kewajiban tersebut akan dikenakan sanksi. “Sistem barcode ini menjadi alat kontrol yang efektif, sekaligus media edukasi digital yang interaktif untuk masyarakat. Kami ingin membangun budaya memilah sampah sejak dari rumah,” kata I Wayan Widiantara, Ketua TPS 3R Kedonganan Ngardi Resik sekaligus local hero program.

Sistem barcode tak hanya membantu pencatatan data, tapi juga memungkinkan TPS 3R melakukan pemantauan dan evaluasi pemilahan sampah berbasis data secara rutin. Data ini digunakan untuk menyusun strategi pendekatan ke pelanggan, sekaligus mengukur keberhasilan program dari waktu ke waktu.

Baca Juga:   Ibu Balita Korban Banjir Bandang di Tabanan Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Resmi Ditutup

Selain aspek digital, TPS 3R Kedonganan Ngardi Resik juga mengelola sampah secara terstruktur. Dari total 9 ton sampah per hari, sekitar 200–400 kg sampah organik diolah menjadi kompos, dan 200–300 kg sampah anorganik dijual untuk didaur ulang. Sisanya berupa residu dibuang ke TPA.

Program ecoreligion tidak hanya fokus pada alat, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam memanfaatkannya. Selain bantuan material, Pertamina Patra Niaga juga memberikan pelatihan kepada pengelola dan warga untuk memahami sistem barcode serta pentingnya pemilahan. “Kami percaya, teknologi yang disandingkan dengan semangat gotong royong akan menjadi kombinasi kuat untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujar Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus.

Baca Juga:   Enam Skema Penerimaan Mahasiswa Baru Unud dari Jalur Mandiri, Ada Kelas Internasional

TPS 3R Kedonganan Ngardi Resik kini melibatkan 25 anggota aktif dan menjangkau 952 kepala keluarga pelanggan. Sebanyak 3.249 orang turut merasakan manfaat lingkungan yang lebih bersih, sementara 5,8% keluarga miskin di Kelurahan Kedonganan dilibatkan langsung dan mendapat penghasilan dari pengelolaan sampah.

Penerapan teknologi ini tidak hanya mendorong efisiensi pengelolaan sampah, tetapi juga membuka jalan bagi model baru pengelolaan lingkungan berbasis data dan masyarakat, yang bisa direplikasi di wilayah lain di Bali. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini