Wayang Kulit “Pralaya Senopati Salya” Dipentaskan di PKB, Dalangnya Perempuan dari Sulangai

0
154
PKB
Duta Kabupaten Badung dalam Parade Wayang Kulit PKB tahun 2025. (ist)

Denpasar, balibercerita.com –
Parade Wayang Kulit Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2025 dimeriahkan penampilan Sanggar Seni Wayang Kulit Parwa Bendu Semara. Duta Kabupaten Badung ini unjuk kebolehan di depan gedung Kriya, Art Centre Denpasar, Selasa (15/7) malam.

Dalam kesempatan itu, Sanggar Seni Wayang Kulit Parwa Bendu Semara membawakan kisah Pralaya Senopati Salya. Menariknya, parade wayang kulit ini dibawakan dengan menggunakan pakem klasik khas Sulangai. Tak hanya itu, dalangnya adalah perempuan dari Desa Sulangai, Kecamatan Petang.

Sang dalang, Ni Luh Gede Anik Darmayanti menjelaskan bahwa kisah ini mengangkat lakon besar dari kisah Mahabarata. Dimana saat itu Prabu Salya, Raja Mandaraka, ditunjuk sebagai senopati utama dari pasukan Kurawa dalam perang Bharatayudha. Dari penunjukan itu, Prabu Salya mengalami pergolakan batin.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Buka Lomba Ceki di Banjar Pesalakan Tuban

Dengan posisinya tersebut, artinya dia akan berhadapan langsung dengan Nakula dan Sahadewa yang merupakan keponakan kandungnya yang saat itu membela pihak Pandawa. ”Di tengah pergolakannya itu, Prabu Salya tetap menjalankan perannya selaku panglima,” kisahnya saat diwawancara sebelum pementasan.

Salya sendiri dikenal memiliki kekuatan besar. Setiap tetes darah dari tubuhnya bisa menjelma menjadi raksasa. Hal itu membuat Kurawa yakin bisa meraih kemenangan dalam pertempuran.

Baca Juga:   Yoga, Wisata Wellness yang Belum Digarap Maksimal

Namun, Kresna sebagai penasihat Pandawa hadir sebagai penentu arah perang. Dia mengungkap bahwa hanya manusia berdarah putih yang bisa mengalahkan kekuatan besar dari Prabu Salya. Ada tiga sosok yang memiliki darah putih atau suci tersebut. Ketiganya yakni Subali, Rsi Bagaspati yang merupakan guru dari Prabu Salya sendiri, lalu yang terakhir adalah Prabu Darmawangsa.

”Dalam pertempuran sengit itu, Prabu Darmawangsa terlibat duet dahsyat dengan Prabu Salya. Atau Pandawa melawan pamannya sendiri hingga akhirnya Prabu Salya gugur. Pesan yang ingin disampaikan dari cerita ini, intinya kita selalu berbuat baik, entah itu ke saudara atau orang lain,” beber dalang yang masih berusia 20 tahun ini.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Melayat ke Rumah Duka Ibunda Kadispar Badung

Dia menjelaskan, sebelum pementasan ini dirinya memang kerap tampil sebagai dalang di sejumlah pertunjukan kecil. Namun, ini adalah pertama kalinya dia menjadi dalang dalam hajatan Pesta Kesenian Bali. ”Kami latihan kurang lebih empat bulan. Dan ini kali pertamanya saya tampil di PKB,” pungkasnya. (BC13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini