balibercerita.com –
Sebagai desa penyangga utama Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Pemkab Badung dan Pemprov Bali bersama PT Angkasa Pura Bandara diharapkan memberikan perhatian khusus terhadap perwajahan Desa Adat Tuban. Letaknya yang berada di kawasan gerbang bandara membuat penataan wilayah Tuban dinilai penting karena menjadi kawasan yang pertama dilihat wisatawan saat tiba dan terakhir dikenang sebelum meninggalkan Bali.
Bendesa Adat Tuban, Wayan Mendra berharap penataan kawasan tersebut mendapat perhatian lebih serius melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Badung, Pemerintah Provinsi Bali, dan PT Angkasa Pura. Menurutnya, kawasan Tuban semestinya tidak hanya berfungsi sebagai jalur keluar-masuk bandara, tetapi juga mampu menghadirkan karakter Bali sejak wisatawan pertama kali menginjakkan kaki di kawasan tersebut.
“Desa Adat Tuban ini sebagai gerbang pariwisata Bali. Kami berharap ada perhatian lebih serius, khususnya dalam penataan agar wilayah Tuban benar-benar mencerminkan Bali,” ujar Mendra.
Salah satu yang kembali diharapkan direalisasikan adalah penataan Catus Pata Tuban. Mendra menyebut desain teknis rinci penataan tersebut sebenarnya pernah disiapkan sebelum pandemi Covid-19, dengan nilai sekitar Rp8 miliar. Namun, rencana tersebut belum terealisasi karena kondisi keuangan saat itu. Kini, Desa Adat Tuban berharap rencana tersebut kembali mendapat perhatian.
Mendra juga menyinggung dukungan tanggung jawab sosial perusahaan dari PT Angkasa Pura. Menurutnya, kawasan desa penyangga bandara semestinya mendapat perhatian lebih besar melalui program CSR.
Ia menyebut masih terdapat sejumlah program yang belum terealisasi, termasuk komitmen CSR yang menurutnya telah diusulkan sejak 2019. “Selama ini perhatian Angkasa Pura cukup baik kepada kami. Namun, banyak program yang belum bisa direalisasikan. Kami berharap CSR lebih banyak diarahkan kepada desa-desa penyangga bandara,” katanya.
Selain penataan kawasan, persoalan kemacetan menjadi perhatian serius. Mendra mengusulkan pembangunan underpass di simpang depan tol gate bandara. Jika tidak memungkinkan, ia mengusulkan pembangunan flyover sebagai alternatif untuk mengurai kepadatan lalu lintas. “Kalau memungkinkan, kami meminta Angkasa Pura membuat underpass di depan tol gate. Kalau tidak memungkinkan, bisa dibuat fly over untuk mengentaskan kemacetan,” ujarnya.
Ia juga melihat pengembangan moda transportasi alternatif, seperti water taxi, dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang. Pembangunan sistem transportasi massal seperti MRT juga perlu dipersiapkan secara matang untuk mengantisipasi persoalan lalu lintas ke depan.
Sementara itu, Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa memastikan penataan kawasan Tuban telah dibahas bersama pihak Angkasa Pura. Penataan tersebut tidak hanya menyangkut landscape, tetapi juga sistem pergerakan kendaraan di sekitar kawasan bandara.
Adi Arnawa mengatakan, kepentingan publik menjadi pertimbangan utama dalam penataan. Karena itu, keinginan Desa Adat Tuban untuk menata Catus Pata tetap dihargai, tetapi pelaksanaannya harus menyesuaikan kondisi dan kebutuhan kawasan, serta kepentingan publik. “Keinginan Desa Adat Tuban tetap kita akomodir. Tapi kita harus lihat juga kepentingan publik, ini yang kita utamakan. Mengingat Bandara Ngurah Rai ini sering dilewati agenda kenegaraan, jadi harus aman dan nyaman,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, konsep penataan yang dibahas mencakup pelebaran jalan serta pembangunan sistem jalan melingkar di sekitar VIP Room II Bandara Ngurah Rai. Konsep tersebut diarahkan agar kendaraan terus bergerak tanpa terlalu banyak titik berhenti, sehingga diharapkan dapat mengurangi potensi kemacetan.
Menurut Adi Arnawa, gambar rencana penataan sudah didiskusikan bersama pemerintah daerah. Sejumlah koreksi juga telah disampaikan agar pola pergerakan kendaraan dapat berjalan lebih lancar. Salah satunya terkait Jalan Kartika Plaza.
Dalam konsep tersebut, kendaraan dari arah Angkasa Pura tidak langsung masuk ke Kartika Plaza, melainkan diarahkan ke kiri dan memutar ke timur. Pola tersebut diharapkan membuat arus kendaraan tetap bergerak dan mengurangi antrean.
Konsep serupa diterapkan pada sejumlah titik lainnya. Kendaraan dari arah timur diarahkan ke barat, sementara kendaraan dari arah barat dapat bergerak ke timur atau mengambil jalur menuju Kuta.
Di sekitar kawasan Krisna, arus kendaraan dirancang tetap dapat bergerak dua arah. Sementara di depan banjar, kendaraan diarahkan satu arah ke selatan, kemudian berbelok kiri dan terus bergerak. Kendaraan yang hendak menuju bandara akan diarahkan memutar melalui Bundaran Tuban. “Sehingga flow-nya bergerak,” jelas Adi Arnawa.
Penataan juga akan dilakukan dari sisi dalam kawasan bandara oleh Angkasa Pura, sementara pemerintah daerah menata sisi timurnya. Salah satu akses dari kawasan Gang Sate disebut akan ditutup dan diperkuat dengan konsep vertical garden. Akses keluar dari kawasan tersebut tidak dibuka karena jalan protokol tidak diperkenankan memiliki akses sembarangan.
Selain sistem jalan, kawasan sekitar Patung I Gusti Ngurah Rai juga direncanakan ditata. Konsepnya akan dilengkapi elemen visual seperti Kerta Gosa, air mancur, deretan bendera dan area hijau di bagian belakang.
Awalnya, penataan tersebut direncanakan mulai tahun ini. Namun, seiring dengan rencana penataan kawasan bandara, pemerintah memilih memadukannya agar penataan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
Adi Arnawa mengatakan pemerintah juga mendorong pelebaran akses menuju bandara. Bahkan, terdapat kemungkinan kebutuhan lahan di sebelah utara kawasan BRC Bandara untuk mendukung pelebaran jalan. (BC5)


















