Film Balada Si Roy Terinspirasi Film dan Novel Legendaris Tahun 80-an

0
301
Film
Abidzar Al Ghifari (kiri) dan Fajar Nugros. (ist)

Mangupura, balibercerita.com – 

Mengadopsi sekuel novel melegenda di Indonesia karya Gol A Gong, film Balada Si Roy sukses menarik perhatian penonton yang hadir dalam BaliMakarya Film Festival 2022. Disutradarai oleh Fajar Nugros, film yang mengangkat kisah novel edisi pertama Balada Si Roy ini menjadi film garapan ke-20 pria kelahiran Yogyakarta ini. 

Film tersebut mengisahkan tentang Roy, seorang remaja yang sedang mencari jati diri. Ia tinggal dan dibesarkan oleh ibunya di wilayah Jawa Barat, sedangkan ayahnya meninggal dunia pada kecelakaan di Gunung Kerinci. Roy sendiri merupakan pemuda bandel, petualang, namun cerdas dan melindungi. Film yang mengambil setting tahun 80-an ini banyak menggambarkan nilai perjuangan, kehilangan, harapan, pengorbanan, keluarga, cinta, dan persahabatan. 

Fajar Nugros menerangkan, film Balada Si Roy merupakan film bergenre drama remaja (coming up age) yang menampilkan sosok seorang pemuda petualang yang berani berjuang untuk mengubah lingkungannya menjadi lebih baik. Cerita film Balada Si Roy mengadopsi novel pertama dari 10 seri novel tersebut. Film itu dinilai sangat sentimentil, karena penonton diajak mengetahui cara pandang tokoh utama dalam menghadapi tekanan kondisi sosial yang dihadapinya. 

Baca Juga:   Jelang Nyepi, DLHK Badung Lakukan Perompesan Pohon di Jalur Melasti dan Pawai Ogoh-ogoh

“Kami sangat mengapresiasi BaliMakarya karena Balada Si Roy bisa masuk dan diputar di festival film ini di Bali. Ini menjadi kali kedua film ini ditayangkan untuk publik, setelah kemarin di Jakarta Film Week. Ini bisa menjadi pemacu bagi kami untuk berkarya lebih baik lagi,” ucapnya.

Tantangan terbesar dalam film tersebut adalah bagaimana novel yang terbit dan populer zaman dulu itu bisa relevan dengan kondisi anak zaman sekarang. Setting film yang mengambil situasi tahun 80-an juga membuat pihaknya harus mencari properti, kostum, make up dan make over agar sesuai era yang sama. Termasuk mengarahkan pemain agar gesture dan gaya bicaranya sesuai di zaman itu. 

Selain itu, syuting film dilakukan tahun 2021 pada saat pandemi sedang ganas melanda. Terlebih di desa tetangga lokasi saat itu sedang mengalami lockdown, sehingga proses syuting dilakukan sangat ketat mengedepankan prokes. Namun film ini sangat di-support oleh pemerintah setempat saat itu. 

“Kita syuting di dua lokasi, yaitu di Bandar Lampung dan Pantai Kalianda, daerah Lampung Selatan. Selain pandemi, tantangannya adalah bagaimana menghidupkan novel tahun 87 ini agar tetap hidup sampai sekarang,” ungkapnya.

Baca Juga:   Diidentikkan Mahal, Kursus Tari Balet Justru Banyak Diminati

Pada dasarnya, film tersebut memiliki kesamaan dengan kondisi saat ini. Karakter Roy masih sangat relevan dengan kondisi anak muda zaman sekarang yaitu ingin memberontak dan ingin melakukan sesuatu bagi lingkungannya. Hal itulah pesan yang ingin disampaikan pihaknya, bahwa anak muda harus tetap peduli dengan lingkungannya, tidak boleh cuek terhadap lingkungan dan berjuang demi lingkungannya. 

Jika ada tatanan yang tidak baik di lingkungannya, pemuda harus bersuara, memberontak, bangkit dan berjuang menyuarakan pendapatnya untuk mengubah tatanan lingkungannya menjadi lebih baik. Ia melihat semangat ini ada di pemuda Bali, yang saat ini sebagian besar kritis dan sudah berpikir modern demi kemajuan daerahnya.

Diakuinya, novel Balada Si Roy merupakan novel yang sangat menginspirasinya dan ia baca saat SMA. Karena novel itulah ia kemudian berani pergi dari Yogyakarta untuk ke Jakarta mengejar cita-citanya menjadi sutradara. Ia berharap semangat film tersebut juga dapat menginspirasi generasi muda khususnya di Bali, untuk berbuat sesuatu. Tidak mesti mereka harus datang ke Jakarta, tapi menciptakan tantangan baru yang bermanfaat bagi lingkungannya. 

Baca Juga:   Empat WNA Pelaku dan Korban Pengeroyokan Segera Dideportasi

“Melihat respons audience di BaliMakarya, kami sangat appreciate. Reaksi temen di Bali sangat menyambut baik film ini. Setelah menonton itu terlihat mereka antusias dan bersemangat,” imbuhnya.

Memainkan karakter utama Balada Si Roy, Abidzar Al Ghifari mengaku mengalami sejumlah tantangan bagi dirinya pribadi. Terlebih ini pengalaman pertama ia menjadi pemeran utama. “Selama ini saya belum pernah menjadi pemain utama, paling supporting. Kebetulan mas Fajar memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi pemain utama Balada Si Roy,” ucap anak dari almarhum Ustad Jefri Al Buchori ini.

Memerankan tokoh Roy, diakuinya menjadi tantangan terbesar yang pernah ia alami. Sebab prosesnya baru, sehingga harus dipelajari. Menguasai cerita film tersebut juga tidak segampang yang dibayangkan, sebab intinya adalah memahami karakter yang sifatnya bukan hapalan. Terlebih syuting dilakukan pada masa pandemi. “Itu yang jadi tantangan yang luar biasa. Harus selalu menjaga kondisi,” imbuh pemuda yang pernah bermain di film Hijrah Cinta dan Ada Cinta di SMA ini. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini