balibercerita.com –
Kebakaran gedung, gangguan keamanan, hingga kecelakaan pesawat akan menjadi bagian dari simulasi keadaan darurat di Bandara Ngurah Rai. Tiga skenario tersebut akan diuji melalui airport emergency exercise (AEE) yang digelar Rabu (23/9) mendatang.
Latihan penanggulangan keadaan darurat skala penuh (full scale exercise) itu melibatkan manajemen PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) bersama seluruh komunitas bandara. AEE dilaksanakan secara berkala untuk menguji kesiapan personel, prosedur, dokumen SOP serta koordinasi antar-stakeholder ketika menghadapi kondisi darurat.
General Manager Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Nugroho Jati mengatakan, latihan tersebut penting untuk memastikan aspek keamanan dan keselamatan operasional penerbangan maupun kebandarudaraan tetap terjaga.
“Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer di dunia. Sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan di Pulau Bali, kami berkomitmen untuk senantiasa memastikan aspek keamanan dan keselamatan operasional penerbangan dan kebandarudaraan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selalu terjaga,” ujar Nugroho.
Menurutnya, AEE sekaligus menjadi sarana menguji efektivitas dokumen Airport Emergency Plan (AEP) dan prosedur penanganan keadaan darurat yang berlaku di Bandara Ngurah Rai. Kesiapsiagaan personel, fungsi komando, koordinasi, serta komunikasi antarunit dan instansi terkait juga akan diuji dalam latihan tersebut. “Dalam pelaksanaan AEE kali ini, kami melaksanakan tiga skenario latihan yang mencakup building fire exercise, airport security exercise, dan aircraft accident exercise,” jelasnya.
Masing-masing skenario dirancang menghadirkan kondisi berbeda. Building fire exercise menguji penanganan kebakaran gedung, airport security exercise menyimulasikan gangguan keamanan di kawasan bandara, sedangkan aircraft accident exercise menguji prosedur penanganan ketika terjadi kecelakaan pesawat udara.
Seluruh skenario akan dibuat menyerupai kondisi darurat sebenarnya. Dari latihan tersebut, pihak bandara dapat mengidentifikasi potensi evaluasi dan penyempurnaan prosedur, sekaligus menguji jalur koordinasi dan sinergi seluruh komunitas bandara agar respons terhadap keadaan darurat dapat berlangsung cepat, tepat dan terarah. “Melalui pelaksanaan AEE ini, kami ingin memastikan seluruh personel memiliki pemahaman yang sama terhadap peran dan tanggung jawabnya masing-masing,” kata Nugroho.
Ia berharap kesiapan tersebut terus terjaga sehingga keamanan dan keselamatan pengguna jasa dapat semakin terjamin, sekaligus mendukung kelancaran operasional penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Sementara itu, pengguna jasa yang berada di kawasan bandara selama pelaksanaan latihan diimbau tetap tenang dan tidak panik. Apabila melihat aktivitas yang menjadi bagian dari rangkaian AEE, pengguna jasa diminta mengikuti instruksi petugas bandara.
Pelaksanaan AEE merupakan kegiatan terencana dan terkoordinasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat. Di sisi lain, operasional penerbangan di Bandara Ngurah Rai tetap berjalan sebagaimana mestinya. (BC5)

















