GPEI Bali Dorong Bali Jadi Pusat Perdagangan Internasional

0
5
GPEI Bali
Pengurus GPEI Bali bersama Gubernur Koster. (BC5)

balibercerita.com –
Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Bali periode 2026–2031 membawa misi besar untuk memperkuat posisi Bali sebagai pintu perdagangan internasional sekaligus etalase produk Nusantara. Organisasi ini mendorong pengembangan konsep trade tourism agar aktivitas perdagangan dan pariwisata dapat berjalan beriringan.

Ketua DPD GPEI Bali periode 2026–2031, Anak Agung Ngurah Aditya Pradnyana Sunu mengatakan, GPEI sejak awal dibentuk pada 1961 dengan misi menghimpun para pelaku dan perusahaan ekspor dalam satu wadah. Organisasi tersebut diharapkan menjadi jembatan antara dunia usaha dan pemerintah sekaligus membuka akses produk Indonesia ke pasar internasional.

“Oleh karena itu, mohon izin kami dari pengurus GPEI Bali yang sudah dilantik berkomitmen untuk melanjutkan visi tersebut melalui program-program kami untuk 5 tahun ke depan demi mewujudkan peningkatan kontribusi ekspor bagi perekonomian nasional terkhusus untuk daerah Provinsi Bali yang kita cintai,” ujarnya belum lama ini di Kuta.

Menurut Aditya, tantangan perdagangan global saat ini tidak ringan. Setelah Bali sempat mengalami tekanan ekonomi akibat pandemi, dunia perdagangan kembali menghadapi ketidakpastian akibat konflik dan dinamika geopolitik global.

Karena itu, ia menilai diperlukan sinergi yang kuat antara pelaku usaha, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun kembali ekosistem ekspor Bali yang sehat, kuat dan unggul. “Jadi untuk itu, saat-saat ini sangat penting dibutuhkan sinergitas dan kolaborasi yang kuat bersama Bapak/Ibu semuanya untuk mencapai ekosistem ekspor Bali yang kembali sehat, kuat, dan unggul sesuai tagline kami pada pagi hari ini, Together We Bring Bali to the World,” katanya.

Baca Juga:   Rupiah Melemah, Indonesia Dinilai Kian Menarik bagi Wisatawan Mancanegara

Aditya mengakui Bali memiliki sejumlah keterbatasan dibandingkan daerah lain yang ditopang sumber daya alam, kawasan industri besar maupun pelabuhan kargo internasional.
Namun, kondisi tersebut tidak harus menjadi penghalang. Sebaliknya, karakter Bali sebagai destinasi wisata dunia dinilai dapat menjadi keunggulan untuk memperluas pasar produk Indonesia. “Namun, kita semua meyakini semua banyak buyer internasional dari daerah lain yang berbelanja tersebut tentu lebih tahu Bali, bahkan ujungnya berlibur dan menjadikan Bali ini menjadi rumah kedua mereka,” tuturnya.

Dengan tingginya kunjungan wisatawan mancanegara serta konektivitas penerbangan internasional, Bali dinilai memiliki posisi strategis sebagai etalase produk Indonesia di mata dunia. “Bali adalah etalase dan pintu internasional untuk masuk dan mengenali negara serta produk Nusantara kita,” tegasnya.

Atas dasar itu, GPEI Bali berharap pemerintah pusat memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan Bali sebagai pusat perdagangan. Tidak hanya diarahkan sebagai pusat keuangan internasional, Bali juga dinilai memiliki potensi dikembangkan menjadi pusat perdagangan dan international showcase bagi produk-produk Bali maupun Nusantara.

GPEI Bali bahkan mendorong lahirnya agenda perdagangan berskala internasional di Pulau Dewata. Konsep yang ditawarkan adalah menggabungkan aktivitas wisata, perdagangan dan bisnis dalam satu ekosistem.

Baca Juga:   Bali Perkuat Sistem Pungutan Wisatawan Asing

Aditya menyebut konsep tersebut telah diterapkan di sejumlah negara melalui berbagai pameran perdagangan internasional. “Jadi mohon Pak Sekjen dan Pak Direktur Kementerian, harusnya seperti Inacraft atau event-event nasional, Pak, kita berharap diadakannya di Bali atau kita akan membuat nantinya event rutin Bali Trade International, tidak hanya Bali Travel Festival, Pak, tapi juga Bali Trade Festival, Pak,” ujarnya.

Menurut dia, pengembangan trade tourism dapat menjadi pelengkap sektor pariwisata Bali. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati destinasi, tetapi juga berbelanja dan mengenal produk-produk unggulan Indonesia.
Konsep tersebut dinilai dapat memperluas dampak ekonomi pariwisata, sekaligus membuka peluang ekspor melalui wisatawan yang membeli produk Indonesia dan membawanya ke negara asal.

Komitmen GPEI Bali memperluas pasar ekspor juga diwujudkan melalui pelepasan ekspor perdana salak gula pasir produksi petani Bali ke Tiongkok. Produk tersebut menjadi salah satu bukti bahwa komoditas lokal Bali memiliki peluang untuk menembus pasar internasional apabila didukung akses pasar, promosi dan jaringan perdagangan yang tepat. “Orang Tiongkok suka juga dengan salak,” kata Aditya.

Selain memperkuat ekspor konvensional, GPEI Bali juga mulai mengembangkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pelaku usaha menemukan pasar dan calon pembeli di luar negeri. Teknologi tersebut diberi nama Market Optimization and Market Outreach (MOMO) dan dikembangkan berbasis cloud AI. Platform ini dirancang untuk membantu eksportir mencocokkan produk dengan pasar yang membutuhkan.

Baca Juga:   Setahun Mengaspal di Indonesia, Suzuki Fronx Kuasai Segmen SUV Kompak

Aditya menjelaskan, pelaku usaha nantinya cukup memasukkan informasi mengenai produk yang dimiliki. Sistem akan membantu memberikan informasi mengenai negara tujuan potensial, perusahaan yang membutuhkan produk, hingga nilai pembelian.

“Jadi tinggal nantinya diketik‘Saya punya produk apa, siapa yang membutuhkan, akan langsung dimunculkan negara mana, perusahaannya apa, kemudian nilai belinya berapa, dan secara langsung apabila cocok dengan buyer-nya akan terkirim langsung kepada email anggota GPEI, langsung terjadi transaksi,” jelasnya.

Menurutnya, digitalisasi menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan pola perdagangan global. AI, kata dia, seharusnya tidak hanya menjadi teknologi yang digunakan secara pasif, tetapi dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha. “Jangan AI lebih cerdas pada kita, tapi kita gunakan AI itu untuk kebutuhan kita,” ujarnya.

Melalui berbagai program tersebut, GPEI Bali menargetkan penguatan ekosistem ekspor selama lima tahun ke depan. Bali diharapkan tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai pintu masuk perdagangan, pusat promosi dan etalase produk Indonesia di pasar internasional. Tagline “Together We Bring Bali to the World” pun menjadi semangat GPEI Bali untuk membawa semakin banyak produk lokal dan Nusantara menembus pasar global. (BC5)