balibercerita.com –
Di tengah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, sebuah pesan kuat disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) yakni perubahan iklim tidak hanya diselesaikan lewat kebijakan besar, tetapi juga melalui gerakan nyata masyarakat dari tingkat akar rumput.
Pesan itu disampaikan langsung Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat saat mengunjungi kawasan Tukad Bindu di Denpasar pada Selasa (9/6). Dalam kunjungan tersebut, Menteri Jumhur berdialog dengan komunitas peduli sungai, relawan lingkungan, serta pengelola sampah yang selama bertahun-tahun menjadi motor perubahan kawasan tersebut.
Kehadiran Menteri Jumhur bukan sekadar agenda seremonial. Pemerintah memberikan pengakuan terhadap keberhasilan masyarakat mengubah Tukad Bindu dari sungai yang dulunya identik dengan sampah, penyakit, dan kawasan terbengkalai menjadi destinasi ekowisata berbasis masyarakat yang bersih, produktif, dan bernilai ekonomi.
Transformasi tersebut dinilai sebagai contoh nyata keberhasilan restorasi lingkungan yang digerakkan warga. Tidak hanya mampu memulihkan fungsi ekologis sungai, tetapi juga menciptakan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. “Aksi nyata seperti yang dilakukan para relawan di Tukad Bindu dalam mengelola sampah dan menjaga sungai merupakan fondasi utama ekonomi sirkular yang sesungguhnya, sekaligus menjadi urat nadi program Indonesia ASRI,” tegas Menteri Jumhur.
Menurutnya, keberhasilan Tukad Bindu membuktikan bahwa masyarakat memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan. Karena itu, model pengelolaan berbasis komunitas seperti ini perlu terus diperkuat dan diperluas.
KLH/BPLH bahkan menilai Tukad Bindu bukan sekadar kisah sukses lokal, melainkan model tata kelola lingkungan yang memiliki daya tahan dan daya sebar yang tinggi. Saat ini, pendekatan serupa tengah direplikasi di sedikitnya empat aliran sungai lain di Bali sebagai bagian dari upaya pemulihan daerah aliran sungai (DAS) berbasis partisipasi masyarakat.
Keberhasilan Tukad Bindu juga sejalan dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, yakni “Inspired by Nature, for Climate, for Future”. Di Indonesia, semangat tersebut diterjemahkan melalui gerakan nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, yang menekankan pentingnya aksi konkret dalam menjaga lingkungan. Pemerintah menilai percepatan rehabilitasi sungai, konservasi DAS yang terintegrasi, hingga pengurangan sampah plastik dari sumbernya merupakan langkah penting untuk mendukung target Net Zero Emission Indonesia.
Ke depan, KLH/BPLH berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan kelompok relawan agar inisiatif seperti Tukad Bindu dapat berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, Menteri Jumhur juga menginginkan ruang dialog yang terbuka antara pemerintah dan masyarakat dalam merumuskan kebijakan lingkungan. Menurutnya, masukan hingga kritik konstruktif dari masyarakat menjadi bagian penting dalam memperbaiki tata kelola lingkungan nasional.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari implementasi program Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), program yang merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Melalui program ini, pemerintah mendorong kolaborasi masyarakat dalam pengelolaan sampah terpadu, pengembangan ekonomi sirkular, serta penghijauan berbasis pemberdayaan masyarakat. (BC5)


















